BOS di Kota Batam Menekan Angka Putus Sekolah

Oleh Alfurkon Setiawan
Dipublikasikan pada 13 Mei 2014
Kategori: Pro Rakyat
Dibaca: 359.396 Kali

fasilitas_perpustakaan_dan_laboratorium_mendukung_kegiatan_siswa_menambah_ilmu-1Terobosan besar di bidang pendidikan yang dilakukan Pemerintahan Presiden SBY pada tahun 2005 adalah pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi siswa SD dan SMP yang berdampak adanya pelaksanaan sekolah gratis. BOS kemudian diperluas untuk tingkat SMA/sederajat  yang dilaksanakan mulai tahun ajaran 2013-2014. BOS untuk SD sebesar Rp 580 ribu/siswa/tahun, BOS untuk SMP sebesar Rp 710 ribu/siswa/tahun, dan BOS untuk SMA/SMK sebesar Rp 1 juta/tahun/siswa.

Minat masyarakat, terutama yang berekonomi lemah, menyekolahkan anak-anaknya sangat tinggi ketika pemerintah melaksanakan BOS. Sebelum ada BOS banyak anak usia sekolah dari keluarga miskin yang tidak dapat bersekolah atau putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya sekolah. Tetapi, setelah dilaksanakan BOS anak-anak usia sekolah  dapat menikmati pendidikan gratis.

Anggaran BOS di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, tahun 2014 sebesar Rp 111,802 miliar untuk 167.340 siswa, yang terdiri dari Rp 62,461 miliar untuk 107.693 siswa SD, Rp 25,231 miliar untuk 35.538 siswa SMP, dan Rp 24,109 miliar untuk siswa SMA/SMK.

Sementara itu, anggaran pendidikan Kota Batam tahun 2014 tercatat Rp 442,662 miliar  atau 24,5% dari APBD yang berjumlah Rp 1,952 triliun.  Sementara itu tahun 2013 anggaran pendidikan sebesar Rp 461,643 miliar atau 23,25% dari APBD sebesar Rp 1,808 triliun. Anggaran tersebut dipergunakan untuk peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, program wajib belajar sembilan tahun, program pendidikan nonformal, program manajemen pelayanan pendidikan, program peningkatan peran serta pemuda, program pelayanan administrasi perkantoran, dan lain-lain.

Sarana pendidikan yang terdapat di Batam meningkat tajam dari tahun 2004 ke tahun 2013. Tahun 2004 terdapat 192 SD/sederajat, dan meningkat menjadi 457 sekolah pada tahun 2013. Tahun 2004 terdapat 64 SMP/sederajat, dan meningkat menjadi 133 sekolah pada tahun 2013. Tahun 2004 terdapat 45 SMA/sederajat, dan meningkat menjadi 94 sekolah pada tahun 2013.

Demikian pula jumlah guru meningkat pesat dari tahun 2004 ke tahun 2013. Jumlah guru SD/sederajat tahun 2004 sebanyak 2.258 orang, dan meningkat menjadi 4.618 orang pada tahun 2013, atau naik 104,51%. Jumlah guru SMP/sederajat tahun 2004 sebanyak 1.004 orang, dan meningkat menjadi 3.182 orang pada tahun 2013, atau naik 216,93%. Jumlah guru SMA/sederajat tahun 2004 sebanyak 800 orang, dan meningkat menjadi 1.765 orang pada tahun 2013, atau naik 120,62%.  Sementara itu  guru yang yang mendapat tunjangan serifikasi sebanyak 2.355 orang.

Untuk kenyamanan kegiatan belajar pada  tahun 2012 pemerintah melakukan perbaikan 21 ruang kelas SD/SMP dan rehab 2 ruang kelas dengan dana Rp 6,386 miliar. Tahun 2013 dilakukan rehab 2 ruang kelas TK, 18 ruang kelas SD, 55 ruang kelas SMP, 4 ruang kelas SMA/SMK dengan dana Rp 13,976 miliar.  Tahun 2014 perbaikan 47 ruang kelas SD, 18 ruang kelas SMP, dan 8 ruang kelas SMA dengan dana Rp 16,355 miliar. Total dana yang dikucurkan untuk perbaikan 175 ruang kelas SD – SMA tahun 2012 – 2014 mencapai 36,718 miliar.

Sementara itu  berkaitan dengan Kurikulum 2013, jumlah sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013 sebanyak 193 sekolah yang terdiri dari 142 SD dan 51 SMP. Jumlah guru yang mengikuti pelatihan Kurikulum 2013 sebanyak 940 orang yang terdiri dari guru SD 558 orang dan guru SMP 382 orang. Dalam kurikulum pendidikan sebelumnya, siswa bersifat pasif dan guru paling aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar. Sedangkan  dalam  Kurikulum  2013 anak didik yang justru dituntut lebih aktif. Misalnya, setiap anak diminta untuk berdiri di depan teman-teman  untuk saling berkenalan, sementara guru lebih menempatkan diri sebagai pengarah dan pembimbing kegiatan siswa. Karena tekanannya pada upaya pembentukan karakter, maka sistem penyajian mata peajaran pada Kurikulum 2013 secara terintegratif, sehingga semua jenis pelajaran diintegrasikas dengan nilai-nilai moral agama. Oleh karena itu, jam pelajaran agama pada kurikulum baru tersebut juga ditambah. Untuk itu, dalam Kurikulum 2013 diterapkan mata pelajaran Budi Pekerti yang berdampingan dengan Pendidikan Agama.

Pelaksanaan sekolah gratis dan perbaikan berbagai sarana pendidikan berdampak positif  terhadap angka putus sekolah di Batam. Tahun 2004 angka putus tingkat SD 0,19% dan turun menjadi 0,03% pada tahun 2013. Tahun 2004 angka putus sekolah tingkat SMP  0,55% dan turun menjadi 0,13% pada tahun 2013. Tahun 2004 angka putus sekolah tingkat SMA/SMK 0,36% dan turun menjadi 0,11% pada tahun 2013. Anak-anak yang putus sekolah itu karena mereka malas belajar dan lebih cenderung mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Sementara itu angka kelulusan SD meningkat dari 99,75% pada tahun ajaran 2004 – 2005 menjadi 99,98% pada tahun ajaran 2012-2013. Angka kelulusan SMP juga meningkat dari 78,84% pada tahun ajaran 2004-2005 menjadi 99,43% pada tahun ajaran 2012-2013. Demikian pula angka kelulusan SMA/SMK meningkat dari 99,78% pada tahun ajaran 2004-2005 menjadi 99,96% pada tahun ajaran 2012-2013.

Sekolah gratis mendapat sambutan hangat para siswa, dan salah seorang di antaranya adalah Widya. Siswa kelas 3 SDN 017 Sagulung, ini mengatakan, ia tidak dipungut biaya apapun mulai dari pendaftaran hingga kini. Selain bersekolah gratis, Widya juga mendapat pinjaman buku-buku pelajaran. Widya berotak cemerlang dan ia menjadi juara kelas sejak kelas 1. Ia bercita-cita menjadi seorang guru. “Berkat BOS, saya dan murid-murid lain dapat bersekolah gratis. Salam hormat Widya buat Bapak Presiden SBY,” katanya.

Kegembiraan dapat bersekolah gratis juga dirasakan oleh para siswa SMPN 26 Batam. Jumlah siswa SMP ini 627 orang dan BOS sebesar Rp 445,17 juta. Sejak tahun 2005 hingga 2013 tingkat kelulusan rata-rata mencapai 100%. Tak dapat dipungkiri sekolah gratis telah memacu para siswa untuk semakin giat belajar dan berprestasi. SMPN 26 Batam terdiri dari 17 ruang kelas, dan dua ruang kelas di antaranya baru dibangun tahun 2013 dengan dana Rp 410 juta.

Afrida, siswa kelas IX C, menjadi juara kelas sejak kelas VII dengan nilai rata-rata 9,2. Dia bersyukur dapat bersekolah dengan lancar berkat BOS. Selain itu ia merasa senang dengan adanya tambahan dua ruang kelas baru yang dibangun tahun 2013, karena semakin memacu semangat belajar para siswa. “Saya ingin menjadi dokter,” kata siswa yang hobi menyanyi ini.

Sementara itu salah satu SLTA yang dikunjungi adalah SMK Negeri 1 Batam. SMK ini mempunyai siswa 1.347 siswa dan memperoleh dana BOS sebesar Rp 1,347 miliar. BOS telah memperlancar  kegiatan operasional sekolah dan menggratiskan biaya pendidikan khusus siswa-siswa yang berasal dari keluarga miskin. Sedangkan para siswa yang berasal dari keluarga mampu tetap membayar uang komite Rp 220.000/bulan.

Secara nasional penerapan sekolah gratis bisa terlaksana setelah pemerintah menerapkan pembebasan biaya sekolah melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2005. Dana BOS terus ditingkatkan dari Rp 5,14 triliun  pada  tahun 2005, Rp 10,28 triliun (2006), Rp 9,84 triliun (2007), Rp 10,01 triliun (2008), Rp 16,4 triliun (2009), Rp 16,6 triliun (2010), Rp 19,86 triliun (2011), Rp 27,67 triliun (2012),  dan Rp 27,48 triliun (2013). Dengan demikian sejak 2005 –2013 dana BOS yang dikucurkan untuk membebaskan biaya operasional pendidikan mencapai Rp 243,28 triliun.

(Fajar Ilham  & Arif Rahman Hakim)

Pro Rakyat Terbaru