BPPD Siapkan kabupaten Mahulu Ekowisata Berbasis Kerakyatan

Oleh Alfurkon Setiawan
Dipublikasikan pada 26 Oktober 2015
Kategori: Nusantara
Dibaca: 16.539 Kali

mahakam uluBadan Pembangunan Perbatasan Daerah (BPPD) Kaltim akan menggarap potensi alam Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), diawali dengan melakukan Kajian Pengembangan Ekowisata Berbasis Kerakyatan (CBT) bekerjasama dengan pihak ketiga yaitu CV. Gatri Baji Andari Consultant.

Heart of Borneo yang terletak di perbatasan kawasan Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philipinnes East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) yang menjangkau negara Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Di Indonesia, kawasan ini membentang di daerah pedalaman pegunungan yang umumnya didiami masyarakat dayak, dengan tutupan hutan tropis yang masih luas dan mosaik lanskap lahan pertanian buatan manusia, telah menjadikan heart of borneo sebagai perbatasan baru untuk pengembangan ekowisata.

Kabid Pembinaan Ekonomi dan Dunia Usaha, Husaini mengatakan, ekspose kajian ini marupakan laporan akhir yang secara paripurna mengulas potensi dan arah pengembangan potensi ekowisata di Kabupaten Mahakam Ulu.

“Dokumen kajian ini akan kami serahkan kepada Pj Bupati Mahakam Ulu dan sebagai bentuk pertanggungjawaban kami kepada gubernur malalui kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kaltim,” ujarnya saat memberikan sambutan, Jumat (23/10).

Sementara itu, dalam paparan kajian Pengembangan Ekowisata Berbasis Kerakyatan (CBT) yang dipresentasikian oleh Konsultan CV. Gatri Baji Andari, Moh Anwar, dijelaskan Ekowisata dipandang banyak pihak sebagai konsep yang mampu menjawab permasalahan pariwisata di Mahakam Ulu yang memiliki topografi berbukit.

Pola ekowisata berbasis kerakyatan, lanjutnya, adalah pola pengembanagn ekowisata yang mendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh masyarakat setempat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan usaha ekowisata dengan segala keuntungan yang diperoleh.

“Ekowisata berbasis kerakyatan atau Community Based Ecotourism (CBE) merupakan konsep pengembangan dengan menempatkan dan melibatkan masyarakat lokal yang memiliki kendali penuh dalam manajemen dan pengembangannya sehingga memberi kontribusi terhadap masyarakat berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal dan keberlanjutan kebudayaan lokal,” kata Anwar.

Mahakam Ulu sebagai kabupaten perbatasan memang dianugrahi pelbagai potensi alam dan kebudayaan yang unik dan eksotik. Baik bentang alam, keanekaragaman hayati, dan budaya masyarakat. Secara Sosial budaya, masyarakat di Long Pahangai dan Long Apari cukup kreatif mengkontruksikan nilai budaya mereka.

“Permasalahan yang masih dihadapi saat ini yaitu terbatasnya fasilitas kebutuhan dasar masyarakat seperti penerangan yang hanya beroperasi 6 jam, air bersih, WC umum, dan pusat informasi wisata. Selain itu, kurangnya kemampuan pelaku wisata di kawaan perbatasan,” kata Anwar.

Tetapi Anwar Optimis, bukan tidak mungkin pengembangan ekowisata di Mahakam Ulu akan berkembang pesat dengan pendekatan terhadap masyarakat yang dilakukan pemerintah maupun swasta.

Kasubbid Perekonomian, Bidang Ekonomi Sosial Budaya, BAPPEDA Mahulu, Rapinus, mengatakan, sangat mengharapkan koordinasi BPPD Kaltim dengan BAPPEDA Mahulu melalui Dinas Perhubungan Pariwisata Mahulu untuk mem-follow up hasil dari kajian ini.

“Harapannya saya, kedepannya menghasilkan timbal balik yang baik dengan berkembangnya potensi di Mahulu. BAPPEDA pun tentu melakukan follow up dari segi penganggaran untuk Dinas Perhubungan dan Pariwisata Mahulu,” ungkap Rapinus saat ditemui usai mengikuti acara ekspose tersebut. (Humas BPPD/ES)

Nusantara Terbaru