Buka Jambore HIPMI, Presiden Jokowi: Jadi Pengusaha Jangan Mikir Dulu, Terjuni Dulu

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 23 Mei 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 27.246 Kali
Presiden Jokowi didampingi Ketua HIPMI, Menristek Dikti dan Gubernur Jabar membuka Jambore HIPMI, di Bandung, Jabar, Senin (23/5) siang. (Foto: Agung/Humas)

Presiden Jokowi didampingi Ketua HIPMI, Menristek Dikti dan Gubernur Jabar membuka Jambore HIPMI, di Bandung, Jabar, Senin (23/5) siang. (Foto: Agung/Humas)

Berkumpul bersama-sama para pengusaha muda perguruan tinggi yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) PT, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku bisa merasakan semangatnya seorang  pengusaha muda, yaitu semangatnya kenceng banget tapi kadang-kadang remnya blong.

“Ini perlu diingat, anak-anak muda yang ingin jadi pengusaha. Semangatnya pasti seperti tadi, semangatnya semangat banget, dan itu pernah saya alami. Saya pernah kehilangan rem 3 kali, rem blongnya 3x tapi bisa bangkit, bisa bangkit lagi,” tutur Presiden Jokowi saat membuka Jambore Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Perguruan Tinggi se-ASEAN, di Telkom University Convention Center, Bandung, Senin (23/5) siang.

Presiden menuturkan, kalau ingin jadi pengusaha  itu jangan mikir dulu. Tapi terjuni dulu, baru Kalau ada persoalan di lapangan, selesaikan. Kalau tidak menyelesaikan, lanjut Presiden, ya pasti jatuh.  “Kalau  sudah jatuh ya bangkit lagi, harus seperti itu,” ujarnya.

Dibanding dengan di negara lain, menurut Presiden, anak-anak muda Indonesia yang jadi pengusaha baru 1,6%. Padahal di negara lain  di lingkup ASEAN sudah lebih dari 4%. Minimnya angka ini, ketakutan kita bersaing, ketakutan kita berkompetisi.

Presiden Jokowi menegaskan, modal semangat saja tidak cukup. Kita harus memahami bahwa sekarang ini dunia berubah sangat  cepat. Dalam hitungan detik, dalam hitungan jam dan hitungan hari selalu berubah.

Ia menyebutkan, kemajuan teknologi membuat dunia sekarang seolah tanpa batas. “Kita tahu sekarang berjualan sudah kadang-kadang tidak langsung dijual si pasar atau mall, e-commerce, online store, semuanya tersedia. dari yang  mulai kelas internasional, seperti Alibaba, Lazada, kemudian yang kita juga, Bukalapak, Traveloka, apa lagi? Blibli, dan juga yang start up yang sudah mulai untuk aplikasi petani, kemudian 5 kilo, kemudian ada Hello Dok, kemudian masih banyak lagi start up yang sudah mulai kita kenal,” ungkapnya.

Harus Berani Terbuka

Menurut Presiden, dalam situasi perubahan seperti ini, perubahan yang sangat cepat, pilihan kita hanya dua. Kita mau yang terbuka atau kita tertutup. “Membuka diri atau menutup diri, pilihannya hanya dua itu. Tapi dimanapun negara sama saja. Pilahannya dua itu saja,” terangnya.

Kalau saya disuruh memilih, menurut Presiden, pilihannya hanya satu kita harus berani terbuka, dan kita harus yakin bahwa dengan terbuka itu kita menjadi lebih baik. “Artinya, kalau kita terbuka, artinya kita harus berani berkompetisi, artinya kita harus berani bertarung, artinya kota harus berani bersaing,” tutur Presiden seraya menegaskan, siap tidak siap, ya kita harus menyiapkan diri.Tidak ada kata lain, kalau kita sudah membuka diri.

Presiden meyakini,  anak-anak muda kita, para pengusaha muda kita, bukanlah anak-anak muda yang gampang menyerah, yang jago kandang. “Anak-anak muda kita adalah petarung-  petarung yang tangguh , petarung-petarung yang siap menjadi pemenang bukan menjadi pecundang,” ungkap Presiden.

Kata kuncinya , kata Presiden menekankan, adalah keterbukaan dan kompetisi. “Dengan terbuka dan kompetisi akan memaksa kita untuk memperbaiki diri dan mengejar ketertinggalan kita dibandingkan dengan negara-negara yang lain,” tuturnya.

Oleh sebab itu, Presiden menginginkan  agar terbukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN, ASEAN Economy Community memberi semangat buat kita semua. Anak-anak muda, terutama untuk bangkit dan berani bersaing dan berani berkompetisi.

Presiden lantas mencontohkan Garuda Indonesia , pada tahun-tahun ‘70an atau ‘80am belum ada pesaingnya sama sekali,  begitu dibuka ada 70 airline yang ikut berkompetisi juga sama. Dulunya seperti itu, sekarang kita menjadi  5 besar brand yang paling baik untuk Asia  tahun 2016,

“Karena ada persaingan. Inilah era kompetisi,  dan tidak perlu saudara-saudara  takut dengan itu. Asal kita siap, asal kita mau meperbaiki diri, saya kira tidak perlu kita takut terhadap persaingan,” tutur Presiden Jokowi.

Kepala Negara lantas mengingatkan para pengusaha muda yang ingin sukses, masuk ke dunia usaha, ataupun sudah berusaha. “Fokuslah pada bidang yang ingin kita geluti, fokus.Syukur bisa subfokus. Ini akan jauh lebih baik, daripada semuanya dikerjakan, karena dengan cara superfokus itu, masalah yang kita hadapi akan semakin kelihatan dan semakin gampang untuk kita atasi,” tutur Kepala Negara.

Presiden juga mengingatkan, agar kalau gagal di sebuah usaha jangan buru-buru pindah ke usaha yang lain. “Tekuni yang sudah kita tekuni itu. Karena biasanya kalau masih muda itu gagal di suatu tempat pindah lagi ke bidang yang lain. Bidang yang ini gagal, pindah lagi ke bidang yang lain. Artinya memulai terus dari awal, memulai terus dari nol,” ujarnya.

Tampak hadir dalam pembukaan Jambore HIPMI itu antara lain Menristek Dikti M. Nasir, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Ketua Umum Perbadanan Usaha Nasional Berhad (PUNB) Malaysia, Tan Sri Haji Mohammad Ali bin Mohammad Rustam. Selain anggota HIPMI Perguruan Tinggi (PT) dari seluruh Indonesia, serta 40 peserta dari mahasiswa Universitas Teknologi Malaysia (UTM) dan sejumlah pengusaha dari Dunia Melayu Dunia Islam Malaysia. (DID/AGG/ES)

Berita Terbaru