Buka KTT IORA, Presiden Jokowi: Kita Butuh Internasionalisme Yang Berakar Pada Nasionalisme

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 7 Maret 2017
Kategori: Berita
Dibaca: 21.881 Kali
Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla membawa tifa yang akan dipukul sebagai tanda pembukaan KTT IORA, di JCC Jakarta, Selasa (7/3) pagi. (Foto: Rahmat/Humas)

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla membawa tifa yang akan dipukul sebagai tanda pembukaan KTT IORA, di JCC Jakarta, Selasa (7/3) pagi. (Foto: Rahmat/Humas)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui, jika selama ratusan tahun Samudera Atlantik telah mendominasi perhelatan dunia. Kemudian, dalam 30 tahun terakhir dengan berkembangnya secara drastis negara-negara di Asia Timur banyak yang menyatakan inilah abadnya Samudera Pasifik, Pacific Century.

Namun, Presiden menegaskan, Indonesia percaya bahwa Samudera Hindia pada saat ini sedang berkembang menjadi salah satu poros kunci di dalam perhelatan dunia. “Kami percaya saat ini Samudera Hindia di ambang suatu keperkasaan dengan perkembangan masyarakat, masyarakat besar dan ekonomi-ekonomi yang semakin berperan,” kata Presiden Jokowi saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Indian Ocean Rim Association (IORA), di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (7/3) pagi.

Presiden menilai, komunitas negara-negara di kawasan Samudera Hindia atau IORA adalah komunitas yang unik.  Ia menyebutkan, kawasan IORA mempunyai tata raksasa, sebuah kawasan yang sekaligus kaya, tapi juga masih adanya kantong-kantong kemiskinan.

“Sebuah kawasan yang kaya dengan tradisi, tapi harus kita akui memerlukan modernisasi di banyak aspek,” tutur Presiden.

Beberapa tahun ini, lanjut Presiden, IORA telah memfasilitasi banyak prakarsa-prakarsa penting di berbagai bidang, dan memfasilitasi banyak kerja sama di bidang kemaritiman. Ditandai pada tahun 2015, dengan menerbitkan deklarasi kerja sama maritim IORA di Padang, Indonesia.

Saat kawasan Samudera Hindia menghadapi banyak resiko bencana alam, kata Presiden, IORA telah memfasilitasi banyak kemajuan yang konkret di bidang penanggulangan bencana.

Sementara, tahun lalu di Pulau Bali, para Menteri Luar Negeri IORA telah menerbitkan deklarasi kesetaraan wanita dan pemberdayaan ekonomi perempuan. Presiden mengingatkan, pengalaman di seluruh dunia menunjukkan, salah satu cara yang paling gampang dan paling murah untuk menggenjot sebuah ekonomi adalah dengan pemberdayaan perempuannya.

“Kita harus ingat pepatah yang saya kira amat benar, yaitu behind every great man there is a great woman, di belakang setiap orang hebat ada seorang wanita yang hebat,” tutur Presiden Jokowi.

Presiden mengapresiasi upaya berbagai forum di bawah naungan IORA memprakarsai solusi-solusi praktis atas tantangan-tantangan yang nyata itu. Presiden mengimbau agar menteri-menteri, pejabat-pejabat tinggi, dan peserta KTT terus mendorong solusi-solusi praktis, dan memperjuangkan kepentingan masing-masing.

Namun, sebagaimana disampaikan secara bijaksana oleh pendiri Republik Indonesia, Presiden Soekarno, lebih dari setengah abad yang lalu, Presiden mengatakan, internasionalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak berakar dalam bumi nasionalisme. Sebaliknya nasionalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak hidup dalam taman sari internasionalisme.

Karena itu, saat teknologi membuat globalisasi sebagai sesuatu yang tidak bisa dibalikkan, tidak bisa dielakkan, menurut Presiden Jokowi, kita menjadi semakin membutuhkan internasionalisme untuk menciptakan solusi-solusi atas hambatan, atas tantangan yang timbul akibat globalisasi.

Namun, sebagaimana diuraikan Presiden Soekarno, menurut Presiden, internasionalisme kita harus berakar pada bumi nasionalisme. Sebuah nasionalisme yang sehat, yang bijaksana, yang menyampaikan kebenaran, menceritakan apa adanya kepada masyarakat kita masing-masing.

“Sebuah nasionalisme yang tulus yang berani melakukan yang terbaik untuk bangsa kita di jangka yang panjang dan di jangka masa depan, bukan yang memancing atau terpancing emosi yang sesaat,” tutur Presiden.

Karena itu, Presiden Jokowi atas nama komunitas IORA, menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran peserta KTT di Jakarta minggu ini.

“Sudah pasti kita semuanya masing-masing menghadapi berbagai tekanan-tekanan ekonomi dan tekanan-tekanan politik domestik, sehingga seringkali sulit untuk bisa menghadiri KTT seperti ini. Namun, kehadiran Bapak/Ibu sekalian mengairi, menyuburkan taman sari internasionalisme,” pungkas Presiden Jokowi.

Pembukaan KTT IORA itu dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull, Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma, Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena, dan Presiden Mozambik Filipe Nyusi.

Selain itu juga tampak hadir dalam acara pembukaan itu antara lain Menko PMK Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. (FID/RMI/JAY/ES)

 

 

Berita Terbaru