Buka MTQ ke-26, Presiden Jokowi: Kita Ingin Kehidupan Bernegara dan Berbangsa yang Sejuk dan Damai

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 30 Juli 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 32.798 Kali
Presiden Jokowi didampingi Menag dan Gubernur NTB menabuh gendang beleg sebagai tanda Peresmian Pembukaan MTQ Tingkat Nasional XXVI, Sabtu (30/7), di Mataram. (Foto: Humas/Agung)

Presiden Jokowi didampingi Menag dan Gubernur NTB menabuh gendang beleg sebagai tanda Peresmian Pembukaan MTQ Tingkat Nasional XXVI, Sabtu (30/7), di Mataram. (Foto: Humas/Agung)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, sudah saatnya Indonesia menjadi sumber pemikiran Islam, menjadi sumber pembelajaran Islam dunia. Negara-negara lain, lanjut Presiden, harus juga melihat dan belajar Islam dari Indonesia karena Islam di Indonesia sudah seperti resep obat yang paten yaitu Islam wasathiyyah, Islam moderat. Sedangkan kalau kita lihat negara-negara lain masih mencari-cari formulanya.

“Oleh sebab itu, saya sudah mengeluarkan Perpres (Peraturan Presiden) tentang Pendirian Universitas Islam Internasional (Perpres Nomor 57 Tahun 2016, red). Harapan saya, universitas ini akan menjadi sumber ilmu, sumber kajian-kajian Islam, sumber cahaya moral Islam, dan benteng bagi tegaknya Islam yang berkeseimbangan (tawazun), Islam yang toleran (tasamuh), dan Islam yang egaliter, yang musawah,” kata Presiden Jokowi dalam sambutannya saat membuka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional XXVI, di Astaka Utama Islamic Centre, Kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (30/7) malam.

Presiden menegaskan, kita pun ingin kehidupan berbangsa dan bernegara juga sejuk, damai, dan indah. Karena itu, Presiden mengajak semua pihak menjaga kebersamaan kita dalam berbangsa dan bernegara.

“Mari kita jaga optimisme kita dalam menghadapi tantangan-tantangan yang semakin sulit terutama tantangan global,” pinta Presiden.

Mudah Mengumpat

Sebelumnya pada bagian awal sambutannya, Presiden Jokowi mengemukakan, bahwa sekarang ini, masih banyak orang yang mudah mencela, mudah mengumpat, mudah merendahkan orang lain, mudah mengejek, mudah menjelek-jelekkan orang lain, serta mengabaikan sopan santun.

Ungkapan-ungkapan tersebut, lanjut Presiden, semakin menghebat terutama ketika terjadi kontestasi politik, seperti pemilihan gubernur, pemilihan bupati, pemilihan wali kota, dan pemilihan presiden serta pemilihan anggota legislatif.

“Kandidat lain tidak lagi dilihat sebagai sahabat, sebagai teman, sebagai partner, tetapi dilihat sebagai musuh yang harus dihabisi. Mereka seakan lupa bahwa ada api yang menunggu mereka, yang menyala-nyala, yang membakar sampai ke hati,” papar Presiden Jokowi.

Terkait dengan pelaksanaan MTQ, Presiden memiliki harapan MTQ yang telah membudaya di tengah masyarakat, selain berkembang dari segi syiar dan kualitas penyelenggaraannya, juga dapat mewarnai wajah umat Islam dan bangsa Indonesia. “MTQ Nasional harus mampu membumikan Al Quran sehingga lebih dipahami dan dilaksanakan oleh masyarakat kita,” ujarnya.

Ditegaskan Presiden, bahwa tujuan dan makna kegiatan MTQ yang utama adalah prestasi, namun yang lebih utama lagi adalah syiar dan dakwah tentang bagaimana membumikan Al Quran. Harus menjadikan Al Quran sebagai nafas, sebagai pegangan hidup yang hakiki, dan sebagai kepribadian kita.

“Saya berharap agar hakikat, makna, dan tujuan MTQ kita pegang teguh sehingga Al Quran benar-benar kita resapi, benar-benar kita hayati, benar-benar kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Presiden.

Presiden meyakini, ketika kita menggaungkan Al Quran sebenarnya kita sedang mengagungkan nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kesalehan sosial, nilai-nilai yang mengutamakan pembelaan pada yang lemah, mengutamakan pembelaan pada yang fakir, mengutamakan pembelaan pada yang miskin. “Bukan nilai-nilai keserakahan seperti mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,” sambungnya.

Untuk itu, Presiden Jokowi mengajak semua peserta menjadikan MTQ Nasional dan Konferensi Internasional Islam Wasathiyyah, yang digelar di kota Mataram itu, sebagai stimulan untuk meningkatkan penghayatan kecintaan dan pengamalan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

MTQ XXVI kali ini diikuti oleh 1.200 peserta yang berasal dari 34 provinsi di tanah air. Seluruh peserta akan mengikuti kegiatan yang terbagi dalam 7 cabang dan 18 golongan musabaqah. Ketujuh cabang tersebut adalah Tilawah Al-Quran, Hifzh Al-Quran, Tafsir Al-Quran, Fahm Al-Quran, Syarh Al-Quran, Khath Al-Quran, dan Menulis Makalah Ilmiah Al-Quran (M2IQ).

Pembukaan MTQ XXVI itu juga dihadiri oleh Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno, dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Farouk Muhammad. (DNS/ES)

Lihat juga:

Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peresmian Pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional ke-26 Tahun 2016 (30/7)

Berita Terbaru