Buka Pameran Lukisan, Mas Pram: Jagoan Terkadang Tidak Perlu Mengepakkan Sayap

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 2 Februari 2017
Kategori: Berita
Dibaca: 24.188 Kali
Seskab Pramono Anung menerima lukisan potret dirinya dari pelukis Sulistyo, , di Galeri Seni Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, Rabu (1/2) malam. (Foto: Rahmat/Humas)

Seskab Pramono Anung menerima lukisan potret dirinya dari pelukis Sulistyo, di Galeri Seni Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, Rabu (1/2) malam. (Foto: Rahmat/Humas)

Di tengah padatnya kegiatan pemerintahan yang harus dijalaninya, Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung tidak melupakan kodrat dirinya sebagai pecinta seni. Rabu (1/2) malam, di Galeri Seni Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta Pusat, Mas Pram (panggilan akrab Pramono Anung) membuka Pameran Lukisan “Jagonya Jagoan” karya Sulistyo.

Mas Pram mengaku sebenarnya ia tidak terlalu mau hadir dalam pameran lukisan. Walaupun ia penikmat seni, terutama seni lukisan, juga karena ia hanya ingin menikmati lukisan untuk dirinya sendiri. Tetapi, sambungnya, karena judul dan temanya tentang Jagonya Jagoan, maka ia memutuskan untuk hadir.

“Tadi mas Sulis mengatakan, jagoan itu bisa datang dari siapa saja, bisa datang dari mana saja,” kata Pramono mengawali sambutannya.

Biasanya, lanjut Mas Pram, jagoan itu menampakkan kekuatannya, tapi ada ayam jago yang tidak ingin terlihat jika ia jagoan. “Jagoan itu terkadang tidak perlu muncul dengan mengepakkan sayapnya,” sambung Mas Pram seraya menambahkan, berdasarkan inspirasi ayam jago tersebut, inspirasi itu pun bisa dari mana-mana, dari potret mana saja.

Seskab lantas berbagi cerita tentang peristiwa yang terjadi pada 2 Desember 2016 lalu, Ketika itu dikatakan Presiden tidak mungkin hadir di Monas. Berkaitan dengan peristiwa tersebut, jika dikaitkan dengan tema lukisan hari ini adalah jagoan itu ada yang harus mengepakkan sayapnya untuk terlihat jagoan, tapi juga ada yang tanpa harus mengepakkan sayapnya sudah menjadi Jagoan.

“Jagoan itu ada yang harus mengepakkan sayapnya, bisa kelihatan jagoan tapi ada yang tanpa harus mengepakkan sayapnya atau harus mau memperlihatkan dia jagoan, sebenarnya dia jagoan sekali, begitu,” tutur Mas Pram seraya mengaitkannya dengan pemerintahan saat ini, di mana Presiden Joko Widodo adalah tokoh yang dicintai oleh publik, karena ia merupakan presiden yang bukan ketua partai atau memiliki wewenang dan kekuasaan tertentu di sebuah partai.

Pramono berharap, pameran lukisan ini bisa menginspirasi kita semuanya, baik yang pecinta seni lukis maupun bukan. Dan mudah-mudahan karya-karya Sulis ini menginspirasi semuanya bahwa yang kelihatannya jagoan sebenarnya tidak jagoan dan yang kelihatannya tidak jagoan, dialah yang jagoan.

“Apalagi dengan tensi yang seperti ini, orang seharusnya lebih banyak untuk bernyanyi, berkesenian, melukis, berpantun, berpuisi, supaya tidak kehilangan dirinya, rasa seninya,” tutur Mas Pram.

Seskab mengisahkan, saat ia pulang dari kantor dan menyempatkan diri membuka media sosial, ia merasa isi media sosial tersebut terlihat seperti dunia ini mau kiamat. “Semuanya saling menegasikan satu dengan yang lainnya, padahal datang ke sini semuanya fine saja,” ujarnya.

“Sekali lagi selamat Mas Sulis, Jagonya Jagoan ini mudah-mudahan bisa menginspirasi kita semua dan menambah album pelukis anak negeri yang memiliki bakat yang luar biasa,” kata Mas Pram mengakhiri sambutannya.

Isu Konsisten

Sulistyo, pelukis asal Tulungagung,  menggelar pameran tunggal pada 1-13 Februari 2017 di Galeri Seni Kunstkring. Konsep Jagoan yang divisualisasikan dalam bentuk ayam jago, menurut Sulistyo, merupakan salah satu isu yang konsisten dimunculkan oleh Sulistyo dalam karya-karyanya.

“Setiap manusia Indonesia bisa menjadi jagoan di bidangnya masing-masing,” kata Sulistyo.

Menurutnya, saat ini untuk menjadi jagoan, kita bertarung bukan untuk suatu golongan ataupun di medan pertempuran, melainkan berjuang pada darma kebaikan masing-masing, serta bertarung untuk menghadapi persaingan global. “Karena setiap kita bisa menjadi jagoan buat Indonesia,” ujar Sulis, yang dalam pameran kali ini memamerkan sebanyak 30 lukisan di bidang kanvas dan cat akrilik berbagai ukuran. (FID/RAH/ES)

 

Berita Terbaru