Buka Perdagangan Saham, Presiden Jokowi Optimistis Tahun 2016 Akan Jauh Lebih Baik

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 4 Januari 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 17.888 Kali
Presiden Jokowi didampingi menteri terkait saat membuka perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (4/1) pagi.

Presiden Jokowi didampingi menteri terkait saat membuka perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (4/1) pagi. (Foto: Humas/Agung)

Meskipun tahun 2015 merupakan tahun yang sangat berat karena banyaknya tantangan yang dihadapi di sektor keuangan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) optimistis pada tahun 2016 ini kita akan akan lebih baik, jauh lebih baik dari tahun kemarin.

Diakui Presiden Jokowi, banyak orang yang ragu-ragu mengenai realisasi APBN setiap hari, sehingga membuatnya setiap hari, pagi, tengah malam, pasti saya cek, mengontrol penerimaannya. Presiden bersyukur karena realisasi pendapatan negara yang mencapai 84,7 persen (Rp1.491 triliun), kemudian penerimaan pajak mencapai 83 persen (Rp1.235,8 triliun), dan penerimaan non pajak 93,8 persen (Rp252,4 triliun plus penerimaan hibah kurang lebih Rp3 triliun).

“Artinya apa? Apa yang kita takutkan tidak terjadi. Kalau kita kerja biasa-biasa mungkin yang seperti diperkirakan orang itu akan terjadi. Tetapi dengan deregulasi yang setiap seminggu, setiap dua minggu keluar, keluar, keluar, keluar terus saya meyakini ini memang kesempatan,” kata Presiden Jokowi dalam sambutannya saat membuka perdagangan saham 2016 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (4/1) pagi.

Presiden Jokowi menjelaskan, pada saat-saat sulit, pada saat-saat ekonomi sulit, itulah kesempatan kita untuk merombak total tatanan-tatanan yang menghambat kita. “Dan itu akan terus kita lakukan. Dan saya yakin dengan itu perbaikan ekonomi akan lebih baik,” ujarnya.

Presiden juga menyampaikan, bahwa serapan belanja negara mencapai 91,2 persen atau sebesar Rp 2.810 triliun, meleset sedikit dari perkiraan sebesar 92-93 persen, dan masih ada Silpa Rp 10,8triliun.

Adapun mengenai pertumbuhan ekonomi, Presiden Jokowi memperkirakan antara 4,7-4,8 persen, turun dari 2014 sebesar 5 persen. “Itupun sebetulnya kalau saat itu, tahun kemarin kita optimis semuanya, sebetulnya kejadiannya akan berbeda. Karena rasa optimis itu sulit sekali dimunculkan. Semuanya menunggu semuanya. Semuanya wait and see semuanya,” terangnya.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi meminta tahun semuanya harus percaya, semuanya harus optimis, bahwa kita akan lebih baik. “Itu harus, kuncinya ada di situ,” tegasnya.

Inflasi

Presiden juga menyebutkan, angka inflasi 2014 sebesar 8,3 persen. Waktu dipasang pasti di bawah lima persen, kata Presiden, banyak orang yang tidak percaya. “Tapi alhamdulillah 2015 inflasinya hanya 3,3 persen. BI kerja keras, pemerintah kerja keras, semuanya. Demand dan supply betul-betul kita lihat setiap hari,” paparnya.

Menurut Presiden Jokowi, dirinya selalu menelepon Menteri Perdagangan, kepada Bulog, kepada Menteri Pertanian, tengah malam, pagi-pagi subuh, kalau ada besar sudah akan naik, cari siapa yang nimbun.

“Cabai, telur, baru akan merangkak saja, pasti saya akan telpon. Karena saya punya orang-orang di pasar induk, di pasar-pasar tradisional saya punya orang. “Pak, cabai sudah naik. Pak, beras sudah merangkak naik,” terang Presiden seraya menyebutkan, itu yang akan terus dilakukan agar inflasi betul-betul di bawah lima persen.

“Saya kerja keras, Bapak/Ibu semuanya merasa optimis, merasa percaya bahwa 2016 lebih baik, itulah yang ingin kita harapkan,” tegas Presiden seraya menambahkan, tidak mungkin dalam era kompetisi, dalam era persaingan yang seperti kita alami, dan tahun ini masuk ke Masyarakat Ekonomi ASEAN, tidak mungkin lagi kita melakukan proteksi, melakukan perlindungan, memberikan subsidi yang berlebihan, tidak mungkin.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi mengajak kita semuanya untuk kerja keras dalam rangka meraih pertumbuhan ekonomi, kerja keras mengendalikan inflasi, kerja keras menurunkan angka kemiskinan, kerja keras kita semuanya untuk membuka lapangan pekerjaan, kerja keras mengatasi ketimpangan wilayah yang kaya dan miskin. “Ini pekerjaan kita semuanya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi juga mengajak semua perusahaan, kecil, tengah, atas, tahun ini berbondong-bondong melakukan revaluasi aset. Ia meyakinkan, nantinya akan keluar tax amnesty.  Enggak usah ada yang ragu lagi nanti seperti apa.

“Kalau sudah keluar, artinya pemerintah memberikan jaminan, presiden juga memberikan jaminan, enggak usah ragu-ragu.  Jadi yang revaluasi aset jangan yang gede-gede, yang tengah juga lakukan, yang kecil juga lakukan. Itu merupakan sebuah kekuatan, sebuah power yang akan menaikkan pertumbuhan ekonomi kita,” tutur Presiden Jokowi.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perindustrian Saleh Husin, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad, dan Direktur BEI Tito Sulistio. (DND/ES)

Berita Terbaru