Deflasi 0,36 Persen, Februari Catat Deflasi Tertinggi Sejak 1986

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 2 Maret 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 25.719 Kali

Seorang pedagang beras menjaga tokonya, di Pasar Senen, Jakarta, Rabu (22/7).Badan Pusat Statistik (BPS), 2 Maret 2015, melaporkan bahwa  selama bulan Februari 2015 terjadi deflasi sebesar 0,36 persen, atau secara Year on Year (Februari 2015 terhadap Februari 2014) mencapai 6,29 persen. Dengan demikian, tingkat deflasi tahun kalender (Januari-Februari) 2015 sebesar 0,61 persen.

Dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) yang diamati, 70 kota mengalami deflasi, serta sisanya 12 kota mengalami inflasi, dengan deflasi tertinggi terjadi di kota Bukittinggi sebesar 2,35 persen, dan terendah terjadi di Jayapura sebesar 0,04 persen. Sementara Inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 3,20 persen dan terendah terjadi di Manokwari sebesar 0,04 persen.

Dalam laporan yang disampaikan pada konferensi pers hari ini, yang kali ini dipimpin oleh Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa BPS, Sasmito dikatakan, bahwa terjadinya deflasi pada bulan Februari tersebut merupakan deflasi yang tertinggi kedua dalam bulan Februari selama 50 tahun terakhir. “Deflasi tertinggi terjadi pada Februari 1985, sebesar -0,5 persen,” ujarnya.

Menurut kelompok pengeluaran, penyumbang tingkat deflasi tertinggi pada Februari 2015 berasal dari kelompok bahan makanan, dengan andil sebesar -0,32 persen, diikuti oleh kelompok transport, komunikasi, dan jasa keungan sebesar -0,26 persen, sedangkan kelompok lainnya mengalami inflasi.

Sementara itu, menurut kelompok komponen, deflasi pada Februari 2015, tertinggi berasal dari komponen energi yang mengalami deflasi sebesar -0,25 persen, lalu diikuti oleh  deflasi pada harga yang bergejolak (volatile food) sebesar -1,69 persen dan harga yang diatur pemerintah (administered price) sebesar -1,24 persen, sedangkan komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,34 persen. Namun, secara keselurunan yang memberikan andil/sumbangan tertinggi terhadap pembentukan deflasi Februari 2015 adalah komponen administered price sebesar -0,34 persen.

Menurut Sasmito, rendahnya tingkat inflasi pada Februari 2015 sesuai dengan prediksi sebelumnya yang disebabkan masih terdapatnya efek penurunan harga BBM yang terjadi selama Januari 2015 terhadap penyesuaian tarif angkutan umum serta sejumlah komoditas lainnya, terutama dari kelompok bahan makanan.

Hal ini terlihat dari kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi hanya dari kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan; dan kelompok bahan makanan. Namun demikian, Sasmito mengatakan, tingkat inflasi pada bulan Maret diprediksi mulai stabil dengan adanya kenaikan harga BBM sebesar Rp 200 per liter terhitung tanggal 1 Maret 2015.

Berikut ini adalah daftar komoditas yang memberikan andil dalam pembentukan tingkat deflasi Februari 2015:

Pendukung Deflasi

  1. Bensin dan Cabai Merah, andil -0,28 persen, perubahan penurunan harga dibanding Januari 2015, masing-masing sebesar 7,13 persen dan 39,66 persen persen. Penurunan harga cabai merah tersebut disebabkan melimpahnya pasokan dan lancarnya distribusi karena memasuki musim panen. Sementara itu, penurunan harga bensin disebabkan turunnya harga minyak dunia dan adanya kebijakan pengaturan harga oleh pemerintah.
  2. Cabai Rawit, andil -0,09 persen, perubahan -33,75 persen, dikarenakan meningkatnya pasokan cabai di pasaran serta telah memasuki musim panen.
  3. Tarif angkutan dalam kota, andil -0,04 persen, perubahan -2,83 persen, dikarenakan turunnya harga BBM (bensin dan solar).
  4. Daging Ayam Ras, andil -0,03 persen, perubahan -2,28 persen.
  5. Daging, andil, perubahan -2,34 persen
  6. Cabai merah, andil -0,22 persen, perubahan -24,73 persen, dikarenakan meningkatnya pasokan cabai di pasaran serta telah memasuki musim panen.

Penghambat deflasi

  1. Beras, andil 0,9 persen, kenaikan 2,88 persen. Kenaikan harga beras itu disebabkan oleh rendahnya pasokan akibat terhambatnya distribusi beras ke Jakarta dan luar Jawa karena adanya banjir dan pasangnya air laut
  2. Tarif listrik, andil 0,05 persen, kenaikan 1,5 persen, adanya kenaikan TDL golongan rumah tangga yang mengikuti mekanisme tarif adjustment, dengan menyesuikan nilai tukar rupiah, dan harga BBM, yang berlaku pada Januari 2015.
  3. Tarif Angkutan Udara, andil 0,04 persen, kenaikan 7,2 persen, disebabkan peningkatan permintaan angkutan udara menjelang imlek.
  4. Sewa Rumah, andil 0,02 persen, kenaikan 5,14 persen, disebabkan kenaikan biaya perawatan rumah.
  5. Emas, andil 0,02 persen, kenaikan 1,56 persen, mengikuti pergerakan harga emas dunia.

(Muhammad Hilmansyah, S.E., – Analis Kebijakan pada Keasdepan Ekonomi Makro, Keuangan dan Ketahanan Pangan – Sekretariat Kabinet RI)

Berita Terbaru