Di Hadapan Peserta Lemhanas, Presiden Jokowi Tekankan Perlunya Revolusi Mental

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 18 November 2014
Kategori: Berita
Dibaca: 54.749 Kali
Presiden Jokowi saat berbicara di hadapan peserta Lemhanas, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/11)

Presiden Jokowi saat berbicara di hadapan peserta Lemhanas, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/11)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan Indonesia sebagai negara yang sangat melimpah sumber daya alamnya, sudah pernah dua kali kehilangan kesempatan emas untuk membangun pondasi perekonomian menuju kemakmuran. Kesempatan pertama, yakni pada dasawarsa 70-an Indonesia saat terjadi booming minyak. Dan kesempatan kedua, pada dasawarsa 80-an ketika terjadi ekploitasi besar-besaran terhadap hutan.

“Kita disalip Singapura yang tidak memiliki sumber daya alam, tapi sangat memperhatikan sumber daya manusianya. Sekarang Singapura melesat  jauh meninggalkan kita,” kata Presiden Jokowi saat memberi pembekalan kepada Peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan ke-51 dan ke-52 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) 2014 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/11).

Demikian juga Tiongkok, kata Presiden Jokowi, yang kini maju pesat luar biasa dari sebuah negara komunis tertutup  tirai bambu, tiba-tiba membuka diri, dan melesat maju dengan angka pertumbuhan ekonomi mencapai 11-12%. “Setiap kota di negeri Tiongkok kini berkembang luar biasa,” katanya.

Presiden Jokowi mengisahkan pertemuannya dengan Wakil Ketua Partai Komunis Tiongkok. “Saya tanya apakah Anda tidak takut penguasaan ekonomi dan penguasaan investasi semua diberikan kepada negara asing. Jawabnya, sama sekali tidak , karena barangnya ada di Tiongkok, pelabuhan, jalan tol,” katanya.

Menurut Presiden Jokowi, foreign direct investment  atau penanaman modal asing merupakan salah satu sumber dana  bagi pembangunan, dan sangat menguntungkan bagi negara.

“Mindset seperti itu yang harus diterapkan di Indonesia. Membalikkan ideologi negara, semua mengandalkan BUMN. Dan sekarang cadangan devisa Tiongkok tidak terbayangkan mencapai puluhan ribu triliun. Semua barang yang beredar di pasar dunia dari Tiongkok,” papar Presiden Jokowi.

Ketika bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping saat menghadiri KTT APEC  di Beijing, Presiden Jokowi mengaku meminta Presiden Xi memberikan tiga kunci saja negara yang dipimpinnya.

Inilah syarat menuju negara yang sukses:

“Partai besar yang bersatu, Ini akan menjadi kekuatan negara. Kemudian, susun  gagasan besar, rencana jangka panjang, bukan 1 atau 2 hari tapi sampai 100 tahun,” katanya. Sehingga siapapun  presidennya, program terus jalan dengan program yang sama sesuai gagasan tadi.

Dan yang ketiga, kata  Presiden Jokowi. kejar pembangunan infrastruktur demi konektivitas antar kota, antar provinsi dan antar pulau. “Ini yang menggerakkan enokomi rakyat. Percuma rakyat disuruh tanam komoditas pertanian, tapi hasilnya tidak bisa sampai pasar di kota,” katanya.

Menurut Presiden Jokowi, pemikiran seperti itu sejauh bisa diadopsi kita ambil. Bangsa Indonesia memerlukan revolusi pola pikir . Dalam perubahan global tidak mungkin kita berpikir monoton. Rombak sistem…rombak regulasi. Jangan  tiap hari berkutat urusan politik, saling ejek, saling hujat. Energi kita habis tidak sanggup fokus mewujudkan gagasan besar ,” kata Jokowi. (WID/Humas Setkab/ES)

Berita Terbaru