Didukung Kenaikan Harga Beras, Maret Catat Inflasi 0,17 Persen

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 1 April 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 43.943 Kali

Seorang pedagang beras menjaga tokonya,  di Pasar Senen, Jakarta, Rabu  (22/7).Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (1/4) ini melaporkan, bahwa selama bulan Maret 2015 terjadi inflasi sebesar 0,17 persen, atau secara Year on Year (Maret 2015 terhadap Maret 2014) mencapai 6,38 persen. Dengan demikian, tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Maret) 2015 masih minus sebesar -0,44 persen.

Dalam laporan yang di sampaikan langsung oleh kepala BPS Suryamin dikatakan, bahwa dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) yang diamati, 54 kota mengalami inflasi, dan sisanya mengalami deflasi, dengan inflasi tertinggi terjadi di kota Manokwari sebesar 0,84 persen, dan terendah terjadi di Padang dan Cilacap masing-masing sebesar 0,01 persen. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar -1,97 persen.

Menurut kelompok pengeluaran, tingkat inflasi Maret 2015 disumbang paling tinggi oleh kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan andil sebesar 0,14 persen.Sementara kelompok yang paling rendah andilnya terhadap pembentukan inflasi Maret 2015 berasal dari Kelompok Bahan Makanan yang mengalami deflasi sebesar 0,73 persen, dengan andil sebesar 0,16 persen.

“Dari seluruh komoditas yang terdapat dalam kelompok bahan makanan, hanya komoditas beras yang mengalami inflasi pada Maret 2015,” kata Suryamin kepada wartawan di kantor BPS Pusat, Jakarta, Rabu (1/4).

Meningkatnya harga beras tersebut, menurut Suryamin, perlu menjadi perhatian mengingat harga beras pada tingkat gabah mengalami penurunan yang cukup tinggi dibanding bulan sebelumnya. Namun saat masuk tahap beras giling sampai ke tingkat pedagang (pasar) justru terus mengalami peningkatan. “Hal ini perlu menjadi perhatian bagi pemerintah dan tim pengendali inflasi,” ujarnya.

Sementara itu, menurut kelompok komponen dan energi, inflasi pada Maret 2015, tertinggi berasal dari kelompok energi yang mengalami inflasi sebesar 1,77 persen, dimana harga bensin menjadi faktor utama dalam pembentukan inflasi tersebut. Lalu kelompok selanjutnya berasal dari inflasi pada harga yang diatur pemerintah (administered price) sebesar 0,83 persen dan komponen inti 0,29 persen. Sedangkan harga yang bergejolak (volatile food) mengalami deflasi 0,83 persen.

Walaupun harga bensin merupakan komoditas utama yang menjadi faktor pendukung inflasi Maret 2015, namun diperkirakan efeknya baru akan sepenuhnya terasa pada pembentukan inflasi April 2015. Hal ini, lanjut Suryamin, karena kenaikan harga BBM tersebut baru terjadi di penghujung bulan Maret sehingga efeknya belum sepenuhnya berdampak di bulan Maret.

Namun demikian, Kepala BPS itu memperkirakan, peningkatan harga bensin tersebut diperkirakan akan tertekan oleh kemungkinan terjadinya penurunan harga beras akibat adanya panen raya yang akan terjadi di Bulan April.

Dengan adanya kondisi sekarang ini seperti meningkatnya harga BBM, dan semakin lemahnya nilai tukar Rupiah, Suryamin mengingatkanperlunya menjadi perhatian utama bagi pemerintah dan Bank Indonesia dalam rangka mencapai target inflasi sesuai dengan APBNP 2015 sebesar 5 persen.

Berikut ini adalah daftar komoditas yang memberikan andil dalam pembentukan tingkat inflasiMaret 2015:

Pendukung Inflasi

  1. Bensin, Andill terhadap pembentukan inflasi Maret 2015 sebesar0,15 persen, dengan perubahan harga rata-rata di seluruh Kota IHK terhadap Maret 2015 sebesar 4,01 persen. Penyesuaian harga minyak dunia per 1 maret menjadi penyebab utama.
  2. Bawang merah, andil 0,1 persen, perubahan kenaikan 29,05 persen, dikarenakan menurunnya pasokan akibat curah hujan bulan Maret yang masih tinggi.
  3. Beras, andil 0,09 persen, perubahankenaikan 2,24 persen. Dikarenakan pasokan yang masih rendah pada bulan Maret akibat belum memasuki panen raya yang baru diperkirakan akan terjadi serentak pada bulan April.
  4. Bahan bakar rumah tangga, andil 2,03 persen, perubahan kenaikan 1,51 persen, dikarenakan kenaikan harga LPG 12 kg Rp.5.000 per tabung di 60 kota IHK.
  5. Rokok kretek filter, andil 0,02 persen, perubahan kenaikan 1,01 persen, dikarenakan adanya penyesuaian tarif.
  6. Upah tukang bukan mandor, andil 0,02 persen, perubahan kenaikan 0,86 persen. Karena naiknya harga-harga kbutuhan pokok.

Penghambat Inflasi

  1. Cabai merah, andil terhadap pembentukan inflasi Maret 2015 sebesar -0,09, perubahan harga secara rata-rata terhadap Februari 2015 sebesar 15,53 persen. Peningkatan harga cabai merah tersebut dikarenakan melimpahnya pasokan di sentra produksi akibat panen cabai di sejumlah kota.
  2. Daging ayam ras, andil -0,08 persen, perubahan 6,87 persen, dikarenanakan meilmpahnya pasokan.
  3. Telur ayam ras, andil -0,07 persen, perubahan 8,95 persen, dikarenakan penurunan harga di tingkat peternak harga yang turun di tingkat peternak di 81 kota IHK. Trtinggi di Mamuju.
  4. Ikan segar andil -0,04 persen, perubahan 0,93 persen, dikarenakan pasokan ikan yang cukup banyak.
  5. Tomat sayur, andil 0,02 persen, perubahan 11,27 persen, dikarenakan meningkatnya pasokan di 59 kota IHK.
  6. Wortel andil -0,02 persen, perubahan 15,77 persen, dikarenakan banyaknya pasokan di sentra produksi.
  7. Emas perhiasan, andil 0,02 persen, perubahan 1,4 persen, dikarenakan mengikuti pergerakan harga emas internasional.
  8. Tarif listrik, andil -0,01 persen, perubahan 0,45 persen, dikarenakan adanya aturan dari menteri ESDM terkait penurunan tarif listrik golongan rumah tangga yang mulai berlaku 1 Januari 2015.
  9. Tarif Kereta Api,andil -0,01 persen, perubahan 11,2 persen, dikarenakan adanya subsidi pemerintah untuk kereta ekonomi yang menyebabkan terjadinya penurunan tarif kereta api jarak menengah dan jarak jauh.

(Muhammad Hilmansyah, Analis Kebijakan pada Asdep Ekonomi Makro Keuangan dan Ketahan Pangan-Sekretariat Kabinet RI)

 

Berita Terbaru