Dikeluhkan Pengusaha RRT, Presiden Jokowi Tidak Menutup Mata Urus Izin Usaha di Indonesia Masih Ruwet

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 3 September 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 33.505 Kali
Presiden didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi menjawab pertanyaan wartawan di kereta cepat dari Shanghai menuju Hangzhou, Sabtu (3/9) sore waktu setempat. (Foto: Humas/Dindha)

Presiden didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi menjawab pertanyaan wartawan di kereta cepat dari Shanghai menuju Hangzhou, Sabtu (3/9) sore waktu setempat. (Foto: Humas/Dindha)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku tidak menutup mata atas keluhan yang disampaikan Pengusaha Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mengenai masih ruwetnya mengurus izin berusaha di tanah air. Namun Presiden optimistis pemerintah dapat terus berusaha untuk memperbaikinya.

“Kita tidak menutup mata, masih ada hal-hal seperti itu, ngurus izin masih ruwet, itu akan terus kita perbaiki,” kata Presiden Jokowi menjawab wartawan dalam perjalanan ke Hangzhou usai menghadiri forum bisnis dan bertemu diaspora Indonesia di Shanghai, RRT, Sabtu (3/9).

Dalam kereta cepat yang membawanya beserta Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Presiden Jokowi menjelaskan kepada wartawan terkait keluhan yang disampaikan para pengusaha saat acara forum bisnis Indonesia sebelumnya di Sangri-la Jing’an itu.

Presiden menegaskan, kalau keruwetan itu ada di kementerian, ia akan mengobrak-abrik kementeriannya agar mau memperbaiki agar pelayanan perizinan menjadi lebih cepat, simpel, dan investor merasa dilayani.

“Kalau tidak, sampai kapanpun akan kita kejar di titik-titik mana itu kita harus memperbaiki, harus terus kita cari,” tegas Presiden Jokowi.

Sedangkan untuk perizinan yang berkaitan dengan izin bekerja, Presiden Jokowi mengakui bahwa perbaikannya tidak semudah seperti yang diinginkan. Namun, Presiden menegaskan, pemerintah akan terus berupaya maksimal untuk bisa membenahi dan memperbaiki sistem yang ada.

“Ini pulang, saya sudah dengar tadi, kemarin juga dengar juga, kalau kurang ya perbaiki lagi, masih banyak lagi yang perlu kita benahi, kita perbaiki,” tegas Jokowi.

Menurut Presiden, jika kita ke semua negara berbicara keterbukaan, berbicara kompetisi, tapi dalam praktiknya masih ada satu, dua, tiga yang perlu diperbaiki, maka harus diperbaiki.

“Tugas kita itu, enggak mungkin sekali, enggak mungkin dua kali, enggak mungkin tiga kali, enggak mungkin empat kali, terus,” tutur Presiden.

Presiden menjelaskan, untuk perbaikan perizinan itu perlu mengubah pola pikir, mindset, dan pola kerja dari pola yang lama. “Apa mudah? Itu yang terus kita lakukan. Mungkin di pusat sudah baik, di daerah terus kita kejar ke daerah-daerah agar kita semua baik. Tapi ini proses yang enggak mungkin sehari – dua hari, setahun – dua tahun, enggak. Ini terus menerus,”┬ápungkasnya. (DID/ES)

Berita Terbaru