Dirut Pertamina: Pengoperasian TPPI Tuban Hemat Devisa 2,2 Miliar Dollar/Tahun

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 12 November 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 21.643 Kali
Presiden Jokowi didampingi sejumlah menteri mengunjungi kilang TPPI, di Tuban, Jatim, Rabu (11/11)

Presiden Jokowi didampingi sejumlah menteri mengunjungi kilang TPPI, di Tuban, Jatim, Rabu (11/11)

Beroperasinya kilang Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur (Jatim), yang dikunjungi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Rabu (12/11) kemarin, dipastikan akan memberikan pengaruh yang signifikan dalam pengadaan bahan bakar minyak (BBM) di tanah air.

Menurut Direktur Utama PT Pertamina, Dwi Sucipto, pengoperasian kilang TPPI itu akan menghemat devisa sebesar 2,2 miliar dollar AS per tahun dari pengurangan impor BBM dan LPG.

“TPPI dapat menghasilkan sekitar 61.000 barel per hari Premium, 10.000 barel per hari HOMC, dan 11.500 barel per hari Solar. TPPI juga memproduksi LPG hingga 480 metrik ton per hari. Dengan demikian, total penghematan devisa negara dari BBM dan LPG dari TPPI mencapai sekitar 2,2 miliar dollar AS/tahun,” kata Dwi di Tuban, Jatim, Rabu (11/11) siang.

Menurut Dwi, manfaat pengoperasian TPPI ini tidak sebatas penghematan devisa, akan tetapi banyak aspek, mulai dari sentimen positif terhadap investasi, ketenagakerjaan, dan efek berganda lainnya.

“Yang tidak kalah penting, sekitar 700 orang dapat kembali bekerja mengimplementasikan keahliannya di TPPI dan sekitar 2.000 lapangan kerja di sekitar TPPI kembali terbuka sebagai efek berantai dari pengoperasian TPPI,” papat Dwi.

Dirut Pertaminan itu menyebutkan, TPPI dapat mengolah sekitar 100 ribu barel per hari kondensat dan atau naphta. Dari pengolahan bahan baku dengan mogas mode akan diperoleh beberapa produk minyak, seperti LPG, Solar, Fuel Oil, Premium, dan HOMC.  Apabila dioperasikan dengan aromatic mode, TPPI dapat memproduksi petrochemical, seperti paraxylene, Orthoxylene, Benzene, dan Toluene yang dibutuhkan oleh industri nasional.

Insha Allah Akhir Tahun

Sementara itu Presiden Jokowi saat meninjau kilang TPPI mengemukakan, pada tahun 2006 TPPI memulai operasi dengan bahan baku kondensat yang berasal dari Pertamina. Kemudian ada masalah lagi karena tidak bisa membayar sehingga menjadi masalah hukum yang sudah berlangsung empat tahun dan berhenti beroperasi.

Saat mengetahui TPPI didera masalah hukum, Presiden menyampaikan saat itu, agar masalah hukum diselesaikan di wilayah hukum. Adapun wi wilayah ekonomi dan bisnis harus jalan. “Target kemarin, Oktober harus dimulai,” ujar Presiden.

Untuk itulah, Presiden bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo berkunjung ke TPPI untuk memastikan beroperasinya TPPI. “Saya cek di sini, meski baru 70 persen tapi sudah dimulai. Dan Insha Allah pada akhir tahun mencapai 100 persen,” ucap Presiden.

Dengan beroperasinya TPPI, lanjut Presiden, impor untuk premium dapat berkurang hingga 19 persen. Tapi, jika proses di TPPI Tuban digabungkan dengan proses RFCC Cilacap akan menurunkan impor premium hingga 29 persen.  Bahkan pada bulan Desember 2015 penghematan impor akan mencapai 36 persen, dan solarnya mencapai sekarang 40 persen.

Menurut Presiden Jokowi, proses-proses produksi premium, solar LPG dan HOMC 92 (dikenal sebagai Pertamax 92) akan dikerjakan di komplek TPPI Tuban ini, dan  ke depannya komplek ini akan menjadi Komplek Industri Petrokimia di Indonesia.

“Sebuah keputusan politik yang tadi diputuskan di dalam rapat dan kita harapkan nantinya, turunan-turunan dari proses produksi disini semuanya akan dihasilkan di komplek industri petrokimia itu,” ujar Presiden.

Bahan-bahan turunan dimaksud diatas antara lain, petrochemical, seperti paraxylene, Orthoxylene, Benzene, dan Toluene yang dibutuhkan oleh industri nasional. “Ini adalah masa depan industri dasar petrokimia di Indonesia, jangan berhenti,” ucap Presiden. (Humas Kementerian ESDM/ES)

Berita Terbaru