Dirut Perum Bulog: Daging Sapi Dijual Rp 100 Ribu, Sudah Ada Ruang Laba Rp 10 Ribu

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 10 Agustus 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 24.057 Kali
Dirut Bulog Djarot Kusumayakti

Dirut Bulog Djarot Kusumayakti

Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengemukakan, pihaknya siap bekerjasama dengan feedloter (perusahaan penggemukan sapi) dalam membangun sinergi agar bisa memproses daging sapi dalam harga yang wajar, dan mengontrolnya sampai ke lapak.

Kepada wartawan yang mencegatnya seusai rapat kordinasi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (10/8) malam, Djarot menjelaskan, saat menjelang Lebaran lalu ia melihat harga daging secondary berada di posisi Rp 88 ribu. Namun di sisi lain, harga di pasaran mencapai Rp 120 ribu – Rp 130 ribu.

“Artinya kan keliru. Saya laporkan kepada beliau-beliau yang punya kompetensi, itu ada yang keliru karena Bulog menjual Rp 88 ribu dengan overhead impas. Kalau saya mau naikkan Rp 90 ribu, Anda sudah ada untung sedikit. Sehingga kalau ke mereka kita kasi room laba sekitar Rp 10 ribu, mestinya dibawah Rp 100 ribu,” jelas Djarot.

Hal itu, menurut Dirut Perum Bulog itu, yang perlu disosialisasi bersama supaya kita sama-sama bisa bertahan. “Saya ingin harganya average dibawah Rp 100 ribu,” ujarnya.

Mengenai operasi pasar yang dilakukan Bulog, menurut Djarot, pihaknya ingin konsentrasi di beberapa titik, Jakarta, Jawa Barat, Serang. Tetapi kalau memang dibutuhkan untuk diperluas, tentu akan diperluas.

Tetapi Dirut Perum Bulog itu mengingatkan, bahwa stok daging Bulog hari ini di kisaran 190 sama 275 ton, kira kira 465an ton.  Jumlah ini tentu tidak bisa menggapai semuanya.

Karena itu, Djarot berharap teman-teman yang berdagang, kembali berdagang. “Kalau butuh supply dari kami, akan kami kasi tambahan supply dari kami. Yang penting, mari kita tidak mengambil margin berlebihan sehingga teman-teman pasar yang membutuhkan daging tidak bergitu berat,” pintanya.

Kalau nanti impor dalam bentuk sapi nanti sampai selesai di pelabuhan, kata Djarot, tentu Bulog akan lebih leluasa lagi. “Yakinlah Bulog tidak cari untung, hanya sebagai stabilisator harga dan penyangga keberadaan barang,” tegas Djarot.

Dirut Perum Bulog itu mengemukakan, kalau masalah stabilitas dan penyangga daging sapi itu dibebankan kepada Bulog, maka Bulog harus mempersiapkan logistik yang memadai.  Menurut Djarot, logistik Bulog hari ini ada, tetapi untuk nasional tidak kuat, karena itu dibutuhkan  fasilitas impor.

Dengan fasilitas impor 50 ribu, Djarot menjamin logistik Bulog cukup. “Pada saat itu saya bisa mengajak teman-teman, paling tidak kami sebagi price leader, karena kami mempunya kemampuan. Belum lagi kalau pemerintah membuat skema system ke depan, saya kira kita bisa menjadi price leader,” pungkasnya. (DAN/DNS/ES)

Berita Terbaru