Ekspor Tembus Rp 41 Triliun, Batik Indonesia Makin Mendunia

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 20 Mei 2016
Kategori: Nusantara
Dibaca: 61.198 Kali
Menperin Saleh Husin bersama Ketua Yayasan Batik Jawa Barat, Sendy Dede Yusuf pada  peresmian Pesona Batik Pesisir Utara Jawa Barat, di Jakarta, Kamis (19/5)

Menperin Saleh Husin bersama Ketua Yayasan Batik Jawa Barat, Sendy Dede Yusuf pada peresmian Pesona Batik Pesisir Utara Jawa Barat, di Jakarta, Kamis (19/5)

Nilai ekspor batik Indonesia sepanjang tahun 2015 lalu telah menembus angka 3,1 miliar dollar AS atau mencapai hampir Rp 41 triliun. Angka ini merupakan kenaikan 6,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun pasar ekspor utama batik Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, Eropa dan terus meluas.

Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengatakan, pertumbuhan itu tidak terlepas dari adanya pengakuan UNESCO yang mengukuhkan batik sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity asal Indonesia, pada 2 Oktober 2009 lalu.

Pertumbuhan batik juga ditopang antusiasme masyarakat untuk menggunakan batik, baik dari pegawai pemerintahan, BUMN ataupun swasta serta masyarakat secara luas dari berbagai kalangan dan usia, sehingga meningkatkan permintaan produk batik yang mendorong tumbuhnya industri batik nasional.

Namun demikian, Menperin mengingatkan saat ini yang perlu diwaspadai adalah persaingan dengan Malaysia, China dan Singapura yang juga telah memproduksi batik.

“Selain memperkuat produksi dan mengembangkan dari sisi industri, pilihan kita membeli batik Indonesia merupakan langkah konkret dan riil turut memenangi persaingan dengan batik luar negeri,” kata Menperin Saleh Husin pada acara peresmian Pesona Batik Pesisir Utara Jawa Barat yang digelar oleh Yayasan Batik Jawa Barat di Jakarta, Kamis (19/5).

Menurut Menperin, batik adalah produk budaya Indonesia yang bernilai seni sekaligus ekonomi tinggi. Bagaimana caranya berkontribusi industri batik? Menperin mengemukakan, cara yang mudah dan konkret, dengan kita memakai dan membeli batik Indonesia sama juga turut menghidupkan para pembatik skala kecil, menengah hingga besar.

Sedangkan bagi pelaku usaha, baik yang tengah merintis maupun telah mengembangkan bisnis batik, menurut Menperin, menjual dan mempromosikan batik juga termasuk cara melestarikan batik. Selain tentu saja mendapatkan keuntungan materi.

Oleh karena itu, Menperin mengaku sangat mengapresiasi pelaku usaha dari pembatik hingga desainer yang terus berkarya memproduksi batik sehingga menjadi bagian ekonomi kreatif. Motif-motif tradisional pun giat diangkat dan yang kontemporer juga diciptakan.

“Saya perhatikan, setiap daerah memiliki batik khas masing-masing dan makin ke sini motif dan potongan bajunya semakin menarik. Ini yang membuat anak-anak muda semakin bangga memakai batik,” ujarnya.

Lebih luas lagi, Menperin mengingatkan, semakin sering memakai batik Indonesia maka batik kita semakin mendunia. (Humas Kemenperin/ES

Nusantara Terbaru