Energi Untuk Kegiatan Produktif Pulau Enggano

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 17 Agustus 2016
Kategori: Opini
Dibaca: 84.420 Kali

HamidiOleh : M. Hamidi Rahmat

Kerja sama antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Sistem Komunal, merupakan salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana sosial ekonomi masyarakat di pulau-pulau kecil terluar (PPKT).

Pada tahun 2015 KESDM membangun PLTS di 31 lokasi PPKT berpenduduk, sementara KKP akan menfasilitasi dukungan daerah, kesiapan masyarakat dan rencana pengelolaan dan pendampingan kelompok masyarakat dalam mengelola PLTS tersebut.

Dalam rangka pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk kegiatan produktif di daerah PPKT, Balitbang KESDM akan mengkaji kelayakannya dan mengembangkan EBT di daerah tersebut, sekaligus mendukung peningkatan rasio elektrifikasi nasional. Sebagai model percontohan, Pulau Enggano telah terpilih sebagai lokasi Pengembangan Energi Untuk Kegiatan Produktif dimaksud.

Sebagaimana telah dikemukakan pada artikel terdahulu bahwa Visi yang telah ditetapkan untuk mengembangkan energi di pulau kecil terluar dengan keterbatasan sumber energi adalah: “Terwujudnya energi baru terbarukan untuk kegiatan produktif pulau-pulau kecil terluar”, dengan misi: “Mengembangkan pulau kecil terluar sebagai beranda depan NKRI melalui pengembangan kegiatan produktif yang didukung energi baru terbarukan”. Kegiatan model percontohan pengembangan energi untuk kegiatan produktif di Pulau Enggano merupakan konsep rencana aksi mewujudkan EBT untuk kegiatan produktif daerah PPKT dengan outcome pulau mandiri energi untuk listrik.

Ekonomi Produktif

Laporan Tim Pengembangan Energi Untuk Ekonomi Produktif di Pulau-Pulau Terluar 2015, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Puslitbangtek KEBTKE) KESDM menjelaskan bahwa pertanian merupakan salah satu kegiatan ekonomi produktif masyarakat Pulau Enggano. Pada umumnya masyarakat petani melaksanakan usaha taninya dengan manajemen yang masih sederhana, serta belum dilakukan dengan pengelolaan yang efisien dan efektif untuk menghasilkan keuntungan yang optimal. Sementara untuk memperoleh hasil yang optimal, maka usaha tani sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan karakteristik komoditas, seperti karakteristik pisang dan karakteristik melinjo yang tumbuh di Pulau Enggano.

Sebagaimana diketahui bahwa pisang dan melinjo merupakan buah yang tidak tahan lama dan cepat rusak atau busuk. Oleh karena itu, perlu dukungan jaringan transportasi yang cepat dan tepat sejak dari kebun sampai ke tangan konsumen. Di samping itu, kegiatan pengolahan pasca panen merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dilakukan, agar produk bisa langsung dikonsumsi, tahan lama, dan mudah diangkut.

Membuat tepung pisang merupakan salah satu upaya yang tepat untuk meningkatkan nilai ekonomisnya. Tepung pisang sudah pasti tahan lama dan lebih mudah dikirim ke pasar atau daerah domisili konsumen. Industri tepung pisang diperkirakan akan mampu berkembang dengan baik di tanah air, karena permintaan aneka tepung sebagai bahan campuran dalam berbagai produk olahan seperti biskuit, makanan bayi, cookies, cake, dan produk bakeri semakin hari semakin meningkat. Pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia juga menyebabkan semakin tingginya permintaan atas produk-produk berbasis tepung tersebut.

Pulau Enggano sebagai salah satu daerah sentra produksi pisang di Bengkulu, menurut sejumlah pengamat, dapat menjadi lokasi yang tepat untuk pengembangan agroindusri buah pisang, termasuk industri tepung pisang. Cara membuatnya tidaklah sulit, sehingga dapat dilakukan oleh masyarakat umum serta dapat diterapkan di semua daerah. Menurut laporan Puslitbangtek KEBTKE KESDM, dari sekian banyak jenis pisang yang ada di pulau berpenduduk 3.091 jiwa ini, jenis pisang kepok dengan ketuaan yang cukup-lah yang paling baik untuk dijadikan tepung.

Di samping usaha pertanian, usaha perikanan laut juga merupakan potensi besar yang dapat dikembangkan di pulau dengan panjang pantai 123 km ini. Berbagai jenis ikan hasil tangkapan nelayan mempunyai tekstur daging yang tebal seperti ikan arau, kerapu, tenggiri, dan gabus. Semua jenis ikan ini sangat baik untuk dijadikan abon ikan dan kerupuk ikan. Abon ikan jenis ini mempunyai bentuk lembut, rasa enak, bau khas, dan mempunyai daya awet yang relatif lama. Proses pengolahan untuk membuat abon ikan cukup sederhana, hanya merupakan pelumatan dan pengeringan daging ikan segar yang telah ditambahkan bumbu-bumbu untuk meningkatkan cita rasa dan dapat memperpanjang masa simpan.

Permasalahan utama dalam mengembangkan industri perikanan di pulau kecil sebelah barat Sumatera ini adalah ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pulau induk untuk mendapatkan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan es balok serta bahan kebutuhan melaut lainnya. Sebagaimana diketahui bersama bahwa balok es merupakan bahan yang sangat penting bagi nelayan untuk dapat menjaga kesegaran ikan supaya tidak cepat busuk. Oleh karena itu, mendirikan pabrik balok es merupakan hal yang sangat krusial di pulau seluas 402,6 km2 ini.

Pembangkit Listrik

Sebagaimana telah disinggung pada artikel terdahulu bahwa untuk pengembangan jaringan listrik dari pulau Sumatera ke pulau Enggano sangat tidak ekonomis karena membutuhkan investasi yang tidak sedikit sehubungan dengan jauhnya jarak transmisi yang harus dibentangkan. Oleh karena itu sumber energi alternatif, terutama EBT merupakan pilihan yang sangat rasional.

PLTS merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk dibangun di Pulau Enggano pada saat ini. Meskipun pulau kecil ini terpencil, jauh dari pulau induk, tetapi sumber energi matahari dapat diperoleh dimanapun sepanjang hari, kecuali ketika tertutup awan atau hujan. PLTS memanfaatkan energi gratis sinar matahari yang melimpah ruah untuk dikonversi menjadi energi listrik guna memenuhi kebutuhan listrik penduduk sekitarnya.

Hasil kajian litbang KESDM menyimpulkan bahwa meskipun nilai investasi PLTS relatif lebih mahal dibandingkan dengan pembangkit listrik konvensional seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) atau Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), akan tetapi dalam beberapa kondisi, pemanfaatan PLTS menjadi solusi yang jauh lebih ekonomis, baik dari segi investasi ataupun operasional. Sulitnya akses dan mobilisasi ke lokasi menjadikan biaya investasi pengembangan jaringan listrik atau pembangunan pembangkit konvensional menjadi membengkak, ditambah lagi biaya operasional dan maintenance yang tidak sedikit akibat sulitnya transportasi menuju lokasi.

Meskipun masih belum mencukupi, sebagian masyarakat sudah dapat menikmati suplai listrik di pulau yang berjarak sekitar 156 km dari kota Manna (kota terdekat) atau sekitar 513 km dari kota Jakarta. Sebagian besar tenaga listrik digunakan untuk kegiatan produktif di sejumlah pabrik seperti pabrik batu es, pabrik abon ikan, pabrik tepung pisang, pabrik pengolahan melinjo, cold storage (lemari pendingin ikan) dan untuk keperluan hotel. Sebagian kecil listrik digunakan masyarakat untuk penerangan rumah.

Di samping penambahan pembangkit listrik, Bupati Bengkulu Utara (8/8/2016) mengharapkan rencana pembangunan pulau Enggano dalam 5 tahun kedepan, dapat terealisasi antara lain :

  • Pembangunan klaster industri perikanan tangkap (pembangunan pelabuhan perikanan) terdiri dari dermaga, kantor administrasi pelabuhan, stasiun pengisian BBM, jetty, pabrik es, cold storage, dan fasilitas fungsional/penunjang pelabuhan lainnya.
  • Pembangunan wisata bahari berupa mangrove tracking, wisata menyelam, wisata pantai dan keramba jaring apung minawisata.
  • Pembangunan infrastruktur utama lainnya, berupa jalan utama sepanjang 42 km dan jalan lingkar sepanjang 17 km.

Perencanaan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara ini memang perlu didukung oleh semua pihak karena sumber daya ikan yang melimpah di pulau yang terletak di samudera luas ini. Alamnya juga indah, baik pemandangan di permukaan laut, maupun alam di bawah laut. Foto-foto indah nan eksotis yang ditayangkan oleh Bupati Bengkulu Utara di Kantor Sekretariat Kabinet pada tanggal 8 Agustus 2016 yang lalu merupakan bukti nyata betapa indahnya alam Enggano. Tentu saja ini akan mendatangkan kemanfaatan dan kesejahteraan kepada masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Pulau Enggano, apabila dapat dipoles dan dikemas dalam suatu bentuk objek wisata yang terintegrasi.

Opini Terbaru