Festival Terampil Tahun 2019, 9 Februari 2019, di The Hall Kasablanka, Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 9 Februari 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.823 Kali

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para Menteri, para Dirut BUMN yang hadir,
Serta Pak Iwan beserta seluruh manajemennya,
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian utamanya para Peserta Kelas Terampil yang siang hari ini hadir.

Saya ingin bercerita sedikit mengenai perjalanan yang saya alami. Saya kira Saudara-saudara tahu semuanya saya dulu lahir di pinggir kali karena memang rumahnya di pinggir kali. Jadi enggak mungkin orang tua saya di Menteng kemudian lahir saya di pinggir kali, enggak mungkin. Jadi saya lahir di pinggir kali karena memang rumah orang tua saya di pinggir kali. Penuh dengan kesulitan, penuh dengan kekurangan, penuh dengan penderitaan tapi menurut saya justru pada posisi-posisi seperti itulah sebuah karakter, sebuah pribadi itu ditempa.

Jadi saya ingin anak-anak muda kita jangan sampai kita gampang mengeluh kalau menghadapi sebuah problem, jangan sampai kita gampang mengeluh kalau menghadapi sebuah persoalan, jangan sampai kita gampang mengeluh kalau kita menghadapi hambatan-hambatan. Karena di situlah sebetulnya kita bisa belajar banyak dari sebuah masalah, kita bisa belajar banyak dari sebuah problem-problem kehidupan.

Setelah sekolah, sekolah, sekolah, sekolah, lulus, saya masuk di BUMN yang di Aceh, namanya Kertas Kraft Aceh. Tadi saya lihat banyak yang dari BUMN. Saya hanya kuat 2,5 tahun saat itu, 2,5 tahun. Setelah itu pulang balik ke kota kecil yang namanya Solo. Kemudian saya memulai usaha.

Apa yang ingin saya ceritakan di sini? Saya tidak memiliki apa-apa, saya tidak memiliki agunan, saya tidak memiliki kekayaan, saya tidak memiliki orang tua yang bisa memberikan bantuan modal kepada saya tapi saat itu saya berani memutuskan bahwa saya harus memulai sebuah usaha. Apa yang saya jual? Hanya satu, kepercayaan. Kepercayaan, enggak ada yang lain, dan kerja super keras. Bukan kerja keras, kerja super keras.

Saya lihat kalau orang lain kerja jam delapan sampai jam empat, saya kerja jam subuh sampai tengah malam. Karena saya enggak punya kelebihan. Yang harus saya lebihkan ya itu, jam kerjanya saya lebihkan.

Apa yang saya ambil dari perjalanan ini? Sama, kepada anak-anak saya saya sampaikan, memulai sesuatu harus dan lebih baik kalau itu dimulai dari nol. Bukan dari langsung memiliki dan punya sesuatu yang besar, ndak. Itu nanti akan gampang, kalau dimanjakan dengan seperti ini akan gampang ditelan oleh gelombang-gelombang. Gelombang kecil saja mungkin langsung ambruk apalagi gelombang besar.

Sehingga seperti anak saya yang gede, jualan martabak, silakan jualan martabak, yang kecil jualan pisang goreng, silakan jualan pisang goreng, pisang nugget goreng. Saya sering diprotes sama anak saya yang kecil, “Pak, bukan pisang goreng Pak, pisang nugget goreng.” Oke lah, oke, oke, oke, salah sedikit saja kok.

Jadi dengan cara itulah saya ingin mendidik anak-anak saya agar dia mengerti bahwa yang namanya mencari uang itu tidak mudah, mencari modal itu juga tidak mudah, mencari kepercayaan/membangun kepercayaan itu juga tidak mudah.

Sebetulnya saya memiliki pabrik, mungkin sepuluh kali ruangan ini. Ekspor produk kayu dan mebel. Saya berikan, untungnya juga enggak mau, anak-anak saya enggak ada yang mau. “Enggak Pak, saya enggak mau. Saya mau memulai usaha diri saya sendiri.” Saya pikir yang kecil juga mau, “wah kalau yang gede enggak mau, yang kecil sajalah.” Saya serahin juga enggak mau, “enggak, saya sudah punya bisnis Pak.” Saya belum mengerti kalau dia sudah jualan pisang nugget goreng tadi. Ya sudah silakan, silakan.

Tapi menurut saya, sekarang ini anak-anak muda memang dengan dinamika perubahan sekarang ini sangat cepat sekali menangkap peluang-peluang, menangkap opportunity yang ada di semua titik. Dan berbeda sekali dengan apa yang saya alami waktu saya memulai kerja dulu, sangat beda sekali, sangat beda sekali.

Seperti tadi sudah disampaikan Pak Iwan, ada fashion stylish, ada barista, ada fotografi, macam-macam, dan itu bisa menghasilkan semuanya dan tidak sedikit. Saya dulu melihat yang kecil jualan pisang nugget goreng tadi, saya pikir ini apa ini lho, pisang nugget goreng. Saya lihat produknya kayak begitu, maaf saya agak meremehkan pertama-tama. Tapi begitu anak saya yang kecil ini sudah memiliki 54 cabang, 54 cabang, saya tanya, “le,” saya kan manggil anak saya le, “le ini ongkos produksi berapa sih? Untungnya berapa sih?” Saya ditunjuki. “Terus omzet per outlet, per warungnya berapa?” Saya ditunjuki. Saya langsung enggak pakai kalkulator, langsung saya kalikan 54, lho kok pabrik saya yang gede kalah sama dia.

Saya sekarang mengakui bahwa anak-anak muda sekarang ini memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan apapun. Sangat banyak sekali peluang-peluang itu karena sekarang terjadi yang namanya perubahan ekonomi global, perubahan ekonomi nasional, dan perubahan-perubahan lanskap sosial, lanskap politik, dan juga lanskap ekonomi sehingga perilaku-perilaku kita semuanya juga berubah.

Kopi, juga memiliki peluang yang sangat besar sekarang ini untuk dikembangkan. Jangan kalah brand-brand lokal kita dengan brand-brand asing, jangan kalah. Saya cobain semuanya. Saya pernah coba brand asing, saya bukan senang ya. Kalau ketemu saya nanti, misalnya ngopi di sebuah brand asing, jangan dipikir saya senang dengan brand itu. Itu perlu dicatat dulu. Jangan ada nanti saya ngopi di situ langsung diklik, ini Presiden baru ngopi di…, enggak usah saya sebut mereknya. Jangan seperti itu. Saya hanya ingin membandingkan harganya berapa sih, rasanya kayak apa sih.

Saya coba, saya bandingkan, saya masuk ke sebuah outlet, mungkin lima kali empat lah ruangannya. Enggak tahu, mungkin hadir di sini ndak, Tuku Cafe. Saya masuk ke sana, pemiliknya masih sangat muda sekali. Saya masuk. Mau masuk saja antre, mau masuk outletnya itu, gerainya itu antre, coba. Ini apa tho ini kok antre panjang sekali, ini apa ini. Ya sudah saya ikut antre, saya beli, saya coba. Saya rasa-rasain enggak kalah dengan yang brand asing tadi, enggak kalah, enggak kalah, enggak kalah, betul. Artinya kita bisa melakukan itu.

Terus saya bandingkan harganya, bagaimana harganya. “Berapa ini? “Satu cangkir Pak, ini Rp18.000.” Saya bandingkan yang di sana Rp60.000. Bagaimana saya suruh ke brand asing? Di sini rasa sama-sama persis, enggak ada bedanya sama sekali. Yang di sini Rp18.000, yang di sana Rp60.000, yang benar saja? Enggak, kapok saya enggak mau ke sana saya, sudah.

Saya bisiki pemiliknya, “jangan hanya punya satu saja, segera buka secepatnya sebanyak-banyaknya. Kita harus berani, kalau perlu jejerin itu brand asing itu. Dia di sini, kamu di sini sudah, coba. Beradu saja, berani ndak? Beradu saja, menang siapa, yang menang siapa, yang kalah. Beradu saja.” “Saya yakin kamu yang menang,” saya sampaikan kepada Tuku Cafe. Itu dimulai dari belajar menjadi barista.

Kembali, saya beli lagi kopi, malam-malam saya sering ngelayap. Waktu di Tulungagung malam-malam saya mampir ke warung yang namanya Angkringanku. Mampir, saya ngopi di situ. Saya tanya ke pemilik, muda sekali, muda sekali, masih muda sekali, belum menikah. Minum, minum, minum, wah enak ini, enak, enak, enak. Saya tanya, “harganya berapa?” “Rp4.000.” Saya yang Rp18.000 saja sudah kaget, ini ada Rp4.000 coba. Coba, geleng-geleng saya. Artinya kita ini, anak-anak kita ini memang betul-betul super kreatif betul. Saya tanya, “ini kopi semuanya?” “Enggak Pak, ini campur Pak.” “Campur apa?” “Ini kopi dicampur sama jagung Pak.” Kopi dicampur sama jagung. Jadi kopi kan mahal, jagung kan murah, dicampur. Pintar juga.

Saya bisik-bisik, “bagaimana kita bikin di Jakarta yang gede? Itu yang brand-brand asing tutup semuanya kalau berani.” “Berani Pak. Berani Pak.” “Harganya Rp4.000 berani?” “Ya tergantung sewa warungnya di sana nanti Pak.” “Oke, coba dihitung, bikin di Jakarta.” Tapi saja juga ngeri juga, kalau dia jualan di sini Rp4.000, jangan-jangan yang lokal di sini juga ikut tutup juga. Brand asingnya tutup, brand lokal yang di Jakarta juga tutup karena Rp4.000 jualannya.

Oke, saya kira kesempatan-kesempatan itu sekarang ini betul-betul saya melihat besar, banyak sekali di semua bidang, di semua bidang, di semua bidang. Mulailah, mulailah dari yang paling kecil.

Anak saya ini sudah mulai belok lagi ini. Saya banyak cerita anak karena sering kalau pulang saya tanyakan punya apa lagi, begitu. Dia baru saja ini dua bulan cerita ke saya, “Pak, saya sekarang bisnis lele.” Ini apalagi ini. Hitung-hitungannya kayak apa, ditunjukkan ke saya. Waduh, ini lebih gede lagi ini untungnya. Artinya, sekali lagi, lele itu kebutuhannya banyak sekali, demand banyak supply-nya kurang. Ini harus dilihat kayak begini, kayak begini. Tapi saya pesan, mengurus yang namanya hewan yang memiliki nyawa itu tidak mudah. Kalau tangannya enggak dingin bisa mati semua dalam sehari. Untungnya gede tapi risikonya juga gede.

Jadi, selamat mengikuti kelas festival ini, kelas terampil ini, dan gunakan seluruh keterampilan yang Saudara-saudara miliki. Terserah, tadi ada yang mau ikut fotografi hanya ingin masang fotonya biar keren di Instagram, ya enggak apa-apa, silakan. Tapi nanti kalau ada peluang kan bisa belok ke sisi bisnis yang memberikan hasil. Barista, silakan belajar barista. Enggak apa-apa misalnya jadi karyawan dulu di warung-warung kopi, enggak apa-apa. Jangan merasa rendah kita bekerja, memulai, melihat, memiliki pengalaman, baru mencoba sendiri untuk memiliki usaha. Enggak perlu tergesa-gesa. Tapi menurut saya masa depan itu hanya milik orang-orang yang berani, milik orang-orang yang mau bekerja keras.

Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru