Festival Tradisi Islam Nusantara, di Stadion Diponegoro, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, 9 Januari 2023

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 10 Januari 2023
Kategori: Sambutan
Dibaca: 1.220 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati para Menteri;
Yang saya hormati Yang Mulia Rais ‘Aam PBNU Bapak KH. Miftachul Akhyar;
Yang saya hormati Yang Mulia Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Bapak KH. Yahya Cholil Staquf beserta seluruh jajaran PBNU;
Yang saya hormati Gubernur Jawa Timur beserta Bupati Kabupaten Banyuwangi;
Yang saya hormati para Kiai, para Ibu Nyai, para pengasuh pondok pesantren yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
Yang saya hormati Yang Mulia Abdul Syech Abdul Qodir Assegaf, beliau ini adalah habib dari Solo, tetapi saya sudah kira-kira 8 tahun tidak bertemu. Dan bertemunya justru di Banyuwangi. Kalau dulu saat saya masih wali kota, tiap hari saya sering bertemu dengan Habib Syech.
Yang saya hormati Ketua SC (Steering Committee) Bapak Erick Thohir dan Ketua OC (Organizing Committee) Ibu Yeni Wahid;
Bapak-Ibu sekalian hadirin undangan yang berbahagia yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Sebelum saya menyampaikan sambutan, saya ingin tadi ada Mbak yang melantunkan Syair Alfiyah Ibnu Malik yang pertama tadi, tolong maju ke depan. Maju ke depan. Sudah pulang? Maju ke panggung. Dan juga, tadi ada yang paling muda tadi, yang muda tapi yang gendangnya yang paling bagus tadi, maju ke depan. Mana tadi yang gendang tadi, yang kecil lho, bukan yang gede. Silakan, sini.

Coba diulang lagi satu ini saja, satu bait saja yang tadi. Iya. Enggak, pendek saja untuk mengingatkan tadi lho, tadi suaranya kan bagus sekali.

-Pelantun Syair Alfiyah Ibnu Malik melantunkan satu bait syair-

Cukup. Sepeda satu.

Kalau yang gendang, gendangnya gak ada. Tapi enggak apa-apa, juga sepeda satu. Sudah, silakan. Sebentar, biar dicatat namanya dulu, saya enggak bawa sepeda. Tapi besok pagi insyaallah sepedanya sudah datang.

Alhamdulillah kita sangat bersyukur, tanah air kita Indonesia ini adalah Zamrud Khatulistiwa dengan suku, bahasa, budaya, agama, yang beragam, yang ber-bhinneka tunggal ika, saling akulturasi, berasimilasi dan beradaptasi, saling bersilang budaya tanpa kehilangan jati diri, serta rukun dan bersatu. Ini yang kita lihat, apa yang kita lihat malam ini adalah apa yang tadi baru saja saya sampaikan.

Dan, kita harus belajar kepada alim ulama kita di masa lalu, antara lain Wali Songo, yang memilih jalan kebudayaan dalam menjalankan dakwah dan syiar Islam, membuat ajaran Islam bisa bersanding dan menjiwai kebudayaan-kebudayaan yang ada di daerah-daerah kita di tanah air yang beragam, yang bermacam-macam, dan memberikan kontribusi besar dalam membangun peradaban Nusantara.

Yang Mulia para Kiai, Ibu Nyai, para alim ulama dan hadirin yang berbahagia,

Berkat kearifan para alim ulama, bangsa kita Indonesia yang beragam bisa kokoh rukun dan bersatu. Berkat kearifan alim ulama, negara kita memiliki beragam seni budaya dengan corak keislaman yang kokoh, yang telah beradaptasi dan mewarnai corak ragam kebudayaan Indonesia, memperkaya dan menjadikan kebudayaan kita semakin istimewa.

Saya ingin tadi yang bermain hadroh yang paling muda, tolong naik ke depan. Yang merasa paling muda yang bermain hadroh, seragamnya atas hijau, bawah hitam, yang merasa paling muda. Kalau yang tidak merasa paling muda, jangan naik ke panggung. Silakan yang merasa paling muda, silakan maju. Silakan, yang merasa paling muda. Ini coba, mau kita sunat. Sini, sini, ini namanya? Nama, nama?

Peserta Hadroh (Dian)
Dian.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dian. Nama Dian, umur?

Peserta Hadroh (Dian)
Dua belas.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dua belas. Ini?

Peserta Hadroh (Aufat)
Aufat.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Aufat. Umur?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tiga belas. Menang Dian.
Adit. Umur? Dua belas. Dua belas, yang menang tiga belas, dapat sepeda. Sudah, silakan turun. Sudah. Enggak, tiga-tiganya dapat sepeda. Saya guyonan saja. Sebentar-sebentar, dicatat dulu.

Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati,

Seni dan budaya bukan hanya tontonan, tetapi juga mengandung pesan tuntunan. Tuntunan hidup untuk selalu mengingat keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mengajak amal makruf nahi munkar, menghaluskan rasa, memperkuat toleransi, serta moderasi dan menjaga keharmonisan dalam keberagaman serta memperkuat sistem sosial dalam masyarakat kita, Nusantara.

Karena itu, saya ingin mengajak umat Islam di seluruh penjuru tanah air, khususnya warga Nahdlatul Ulama untuk ikut menjaga dan melestarikan kekayaan budaya Nusantara yang beragam, menggunakan seni budaya sebagai bagian dari dakwah dan syiar untuk membangun peradaban, membawanya tetap eksis, dan mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman di masa depan.

Oleh sebab itu, saya sangat menghargai dalam rangkaian acara peringatan satu abad Nahdlatul Ulama, saat ini digelar Festival Tradisi Islam Nusantara untuk menampilkan dan memperkenalkan kembali kekayaan tradisi Islam Nusantara dan mengunggah kepedulian dan kecintaan kita pada kekayaan budaya bangsa.

Terima kasih kepada seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama yang telah konsisten tetap istiqomah mengambil peran sebagai penebar toleransi, penebar kesejukan dan keharmonisan, dan selalu mengedepankan ukhuwah islamiah, selalu mengedepankan ukhuwah wathoniyah, selalu mengedepankan ukhuwah basyariyah, dan berdiri terdepan dalam mengawal tegaknya NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saya rasa, itu yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan yang berbahagia ini.

Dan, terakhir dari Banser yang umurnya paling tua silakan maju. Yang merasa umurnya paling tua silakan maju. Dan yang Pagar Nusa, yang umurnya paling muda silakan maju. Yang perempuan, yang paling muda, yang perempuan Pagar Nusa silakan maju. Satu saja. Ayo, sudah naik. Silakan dikenalkan. Nama?

Anggota Banser (Sudaryono)
Nama Sudaryono.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Mas Sudaryono dari?

Anggota Banser (Sudaryono)
Dari Satkorcab Banser Banyuwangi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Subkorcab Banser Banyuwangi. Umur berapa, Pak Dar?

Anggota Banser (Sudaryono)
Lima puluh satu tahun, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Lima puluh satu tahun? Kelihatannya 32 gitu. Benar?

Anggota Banser (Sudaryono)
Lima puluh satu tahun.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sudah, enggih, besok sepedanya saya kirim.
Tadi yang dua mana tadi? Kembali ya. Oke, berarti enggak mau.
Silakan, nama?

Pagar Nusa (Laura)
Laura.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Laura, Pagar Nusa bannya ban hijau? Kuning? Oh bannya kuning, berarti sabuknya hijau bannya, ban kuning ya. Umur berapa?

Pagar Nusa (Laura)
Empat belas.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Empat belas. Oke. Siapa tadi?

Pagar Nusa (Laura)
Laura.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Umur?

Pagar Nusa (Laura)
Empat belas.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya. Oke, sepeda juga, sudah. Silakan.

Satu lagi. Sekarang pertanyaan silakan maju, siapapun boleh, tapi jangan rebutan. Hari Santri Nasional diperingati tanggal berapa? Maju cepat. Setop, sudah. Nama dulu.

Santri (Muhammad Ikbal Maulana)
Nama saya Muhammad Ikbal Maulana.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Muhammad Ikbal Maulana. Pertanyaannya, Hari Santri Nasional diperingati pada tanggal dan bulan berapa?

Santri (Muhammad Ikbal Maulana)
Tanggal 22 bulan Oktober.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
[Tanggal] 22 bulan Oktober, betul. Sudah, sepeda.

Saya rasa itu yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan yang baik ini. Dan saya tutup.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru