Firmanzah Lebih Cemaskan Tekanan Global, Bukan Eskalasi Politik Lokal

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 6 Oktober 2014
Kategori: Berita
Dibaca: 25.295 Kali

duitDinamika politik nasional akhir-akhir ini yang tersirat dari sejumlah fenomena seperti tentang votiting Tata Tertib DPR, UU Pilkada, dan Pemilhan Pimpinan DPR-RI, dan lebih spesifik eskalasi dua kubu yaitu Koalisi Indonesia Hebat dengan Koalisi Merah Putih dikhawatirkan sejumlah kalangan akan menciptakan ketidakpastian politik sehingga resiko doing-business di Indonesia akan meningkat di kemudian hari.

Namun bagi pakar ekonomi Prof. Firmanzah., PhD perlu dicermati lebih mendalam mengingat pengalaman Indonesia dalam mengelola dinamika politik baik di parlemen (DPR dan DPRD) ataupun dinamika politik di akar rumput (Pilkada) sangatlah baik.

Firmanzah menunjuk contoh, misalnya saja dinamika politik di DPR terkait dengan polemik bail-out Century yang menghasilkan dua kelompok yaitu mereka yang setuju dan tidak setuju. Terlepas dari analisa ekonomi, polemik ini menjadikan dinamika di DPR-RI waktu itu menjadi sangat dinamis dan kompleks.

Namun begitu, lanjut Firmanzah, pada 2010-2011, kepercayaan investor dunia justru semakin meningkat dengan diberikannya Indonesia investment-grade oleh S&P, Moody’s, Fitch, Japan Credit Agency (JCRA).

Bagi Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembanguan itu, dinamika politik antara koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih masih terjadi dalam tingkat yang wajar. Ia menilai, eskalasi konflik di antara mereka masih dalam koridor konstitusi dan pengalaman Indonesia di era demokrasi dalam mengelola konflik baik di parlemen maupun akar rumput merupakan bukti matangnya demokasi di tanah air. Sehingga para investor tidak perlu khawatir dan cemas akan kepastian iklim politik di Indonesia.

“Terlebih secara fundamental ekonomi nasional masih sangat terjaga dan hal ini ditunjukkan oleh sejumlah indikator seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, cadangan devisa, trend positif investasi langsung, terjaganya daya beli masyarakat, defisit fiskal terus di bawah 3 persen dan porsi hutang yang tetap terjaga,” tambah Firmanzah dalam perbincangan di Jakarta, Seni (6/10) pagi.

Tekanan Global

Prof. Firmanzah melihat justru tekanan dan sentimen global terhadap rencana Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, untuk mengakhiri stimulus moneter dan rencana disesuaikannya tingkat suku bunga acuan menjadi perhatian investor global.

Menurut Firmanzah, pelemahan nilai tukar mata uang dialami banyak negara di Asia dan tidak terkecuali Indonesia. Ia memperkirakan, investor global sedang melakukan konsolidasi atas portfolio mereka dengan melakukan penghitungan kembali baik resiko maupun imbal hasil atas rencana penempatan dana di banyak negara.

Firmanzah mengingatkan, pengakhiran stimulus moneter akan berdampak langsung terhadap likuiditas global dan hal ini perlu menjadi perhatian khusus bagi para pengambil kebijakan di banyak negara.

“Kebijakan moneter, fiskal dan sektor riil perlu segera dirumuskan sebagai langkah antisipasi agar dampak dari rencana penghentian stimulus moneter dan penyesuaian suku bunga di Amerika Serikat dapat dimitigasi,” tutur Firmanzah seraya menyebutkan, dengan langkah tersebut maka resiko capital-outflow keluar dari Indonesia dapat terkelola secara baik agar hal ini tidak membahayakan fundamental ekonomi nasional. (ES)

Berita Terbaru