Gabung di G20, Menlu: Bukan Hanya Dapat Apa, Namun Juga Kita Mampu Kontribusi Apa?

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 9 Juli 2017
Kategori: Berita
Dibaca: 20.839 Kali
Menlu dan Menkeu menyampaikan konferensi pers di Hotel Steigenberger, Hamburg, Jerman, Sabtu malam (8/7). (Foto: Humas/Edi)

Menlu dan Menkeu menyampaikan konferensi pers di Hotel Steigenberger, Hamburg, Jerman, Sabtu malam (8/7). (Foto: Humas/Edi)

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dan Menteri Luar Negeri (Menlu) melakukan konferensi pers bersama di Hotel Steigenberger, Hamburg, Jerman, Sabtu (8/7) hingga pukul 19.30 malam waktu setempat atau sekitar pukul 00.30 Minggu (9/7).

Dalam sesi tanya jawab konferensi pers tersebut, Menkeu menjelaskan mengenai nilai positif bergabungnya Indonesia di Group 20 (G20).

“Jadi dari sisi kalau dibanding-bandingkan apakah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dibandingkan negara lain katakanlah posisi makro ekonomi, pertumbuhan ekonomi, inflasi, perdagangan internasional, nilai tukar, kesempatan kerja. Itu semuanya bisa menggambarkan bahwa apakah Indonesia ada di level mana,” jelas Menkeu.
Hal kedua, lanjut Menkeu, di dalam pertemuan seperti ini akan menunjukkan Indonesia dibanding-bandingkan negara lain misal dari aspek investment grade growth-nya .
“Indonesia dianggap sebagai negara yang performing well mulai dari tadi Presiden Trump mengatakan wow 5% kita envy. Kita ingin pertumbuhan yang tinggi,” ujar Menkeu seraya sampaikan pertanyaan Presiden Trump bagaimana cara memperolehnya.
Kalau bicara tentang konkret, jelas Menkeu, pertemuan seperti ini bisa diukur sebagai salah satu bentuk confidence dan menaikkan reputasi Indonesia yang kemudian menciptakan daya tarik lebih banyak, tapi pada saat yang sama Indonesia juga bisa belajar dari yang lain.
“Itu adalah hal-hal yang menurut saya konkret untuk bisa dilihat, dicapai oleh Indonesia, tapi sebagai negara yang besar Indonesia akan makin diminta untuk menjadi warga dunia yang makin responsible,” papar Menkeu.
Lebih lanjut, Menkeu menjelaskan bahwa pada waktu zaman kemerdekaan, para pendiri bangsa kita bisa berinisiatif membuat forum Asia-Afrika solidaritas. Masa sekarang kalau income perkapitanya lebih tinggi dan lebih makmur, kita tidak bisa membuat kesepakatan untuk solidaritas negara Afrika yang mungkin masih agak tertinggal dari sisi pertumbuhannya atau dari perkembangannya,” jelas Menkeu.
Dengan demikian, Menlu menegaskan bahwa masyarakat makin bermartabat, makin civillized, makin menjadi masyarakat dunia yang peduli pada diri sendiri, tetapi juga terhadap dunia karena dunia itu kan It’s more village.
Senada dengan Menkeu, Menlu juga menyampaikan bahwa sebagai negara besar G20 dari segi politiknya setiap kali dilihat wajah politik luar negeri Indonesia adalah wajah yang damai.
“Di tahun 1955 saja kita sudah bisa mengajak dunia Asia dan Afrika untuk duduk di dalam suatu kesetaraan untuk mengajak, untuk membangun Afrika, dan itu sampai sekarang terus kita lakukan untuk membantu negara berkembang yang lainnya,” jelas Menlu.
Sekali lagi isinya, lanjut Menlu, adalah tidak hanya apa yang tidak bisa Indonesia dapatkan, tetapi apa yang bisa Bangsa Indonesia kontribusikan kepada negara lain untuk perdamaian dan kesejahteraan dunia. (EN/AS/ES)

Berita Terbaru