Gubernur BI: Kondisi Sekarang Berbeda dengan 1998 dan 2008

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 21 Maret 2020
Kategori: Berita
Dibaca: 994 Kali

Era Reformasi 1998.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memberikan penjelasan bahwa saat ini sangat berbeda dengan tahun 1998 atau 2008 karena sekarang yang terjadi memang adalah kepanikan seluruh pasar keuangan global, termasuk juga pemilik-pemilik modal di seluruh dunia.

“Karena begitu cepatnya merebaknya virus ke Amerika Serikat ke berbagai negara di Eropa di Inggris dengan eskalasi yang sangat cepat, sehingga dalam kondisi memang investor dan pelaku pasar keuangan global melepas semua aset-asetnya yang mereka miliki saham, obligasi, emas dan mereka menjualnya dalam cash dalam bentuk dolar,” ujar Gubernur BI saat menyampaikan keterangan melalui daring, Jumat (20/3).
Di seluruh dunia, menurut Gubernur BI, terjadi keketatan dolar di pasar keuangan global dan dalam konteks itu memang Indonesia juga terkena, namun tidak sendiri, seluruh negara mengalami yang sama.
Soal terjadi capital flow, menurut Gubernur BI, dari perhitungan sampai data per 19 Maret 2020, tahun ini terjadi capital outflow jumlahnya adalah 105,1 triliun secara netto. Terdiri dari SBN yang dilepas asing secara netto Rp92,8 triliun, sementara untuk saham adalah Rp8,3 triliun.
“Memang sebagian besar capital outflow itu terjadi pada bulan-bulan Maret seiring dengan eskalasi yang sangat cepat penyebaran virus di negara-negara maju tadi. Itu yang terjadi sehingga ini yang dihadapi oleh seluruh dunia ada pelepasan aset keuangan kemudian mereka mengkorporasinya dolar,” ujar Perry.
BI, menurut Perry, mengambil langkah stabilisasi yang terus kami lakukan adalah menyediakan supply dari dolar yang terus kami lakukan dengan intervensi baik secara tunai atau spot maupun juga secara forward melalui domestic non delivery forward.
“Ini untuk menjaga mekanisme pasar secara berjalan dan juga agar tidak terjadi kepanikan di pasar dan juga memberikan confident di pasar,” ujarnya.
Cadangan devisa, menurut Perry, lebih dari cukup karena ada akhir Februari lalu cadangan devisa adalah Rp130,4 miliar dolar AS berkoordinasi dengan pemerintah dengan Bu Menteri Keuangan dengan Kementerian BUMN.
“Tentu saja langkah-langkah lanjutan akan dilakukan bagaimana kemudian berbagai program maupun pembiayaan dari budget itu nanti juga akan mendatangkan devisa,” ucapnya.
Selain itu di dalam, lanjut Perry, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah juga membeli SBN yang dilepas oleh investor asing seperti tahun ini Bank Indonesia sudah membeli SBN Rp163 triliun yang dilepas asing sehingga mengurangi tekanan-tekanan pada pasar SBN.
Dengan OJK kita berkoordinasi menjaga agar pasar berjalan. Fokus kami adalah menjaga confident, memastikan bekerjanya mekanisme pasar, dan menjaga kecukupan likuiditas baik rupiah maupun valuta asing.
Senasa dengan Gubernur BI, Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto membedakan bahwa kondisi sekarang dengan krisis tahun 1998 ataupun 2008 adalah posisi sekarang baik perbankan maupun sektor korporasi lebih tertata baik daripada pada waktu tersebut.
“Sehingga harapannya dengan ketenangan dari otoritas dan pemerintah kita berharap penanganan ini bisa ditangani secara baik dan terukur,” katanya. (MAY/EN)
Berita Terbaru