Gubernur BI: Langkah Konkret Pemerintah Hasilkan Fundamental Ekonomi Yang Lebih Baik

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 22 Oktober 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 22.682 Kali
Gubernur BI Agus Martowardojo didampingi Menko Kemaritiman Rizal Ramli memberikan keterangan pers di kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (22/10) petang

Gubernur BI Agus Martowardojo didampingi Menko Kemaritiman Rizal Ramli memberikan keterangan pers di kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (22/10) petang

Langkah konkret pemerintah dalam menghadapi pelemahan ekonomi dengan mengeluarkan Paket Kebijakan, mulai dari jilid I, II, III, IV, termasuk Paket Kebijakan V, diapresiasi oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo. Paket-paket Kebijakan itu konsisten dengan upaya menyehatkan struktur ekonomi, juga konsisten dengan upaya reformasi struktural yang dilakukan oleh pemerintah, dan membuat potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik ke depan.

“Kami juga menyambut baik bahwa langkah-langkah konkret yang diambil oleh Pemerintah sekarang sudah menghasilkan fundamental pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di Indonesia, dan ini terlihat dari pencapaian inflasi dimana inflasi di tahun 2015 ini kami dari Bank Indonesia meyakini akan berada di bawah 4%,” kata Agus kepada wartawan di kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (22/10) petang.

Gubernur BI itu mengingatkan, pada tahun 2014, 2013, inflasi ada di atas 8 bahkan di 8,3-8,4%. Karena itu, kalau sekarang inflasi bisa dicapai di akhir tahun 2015 ini bisa di bawah 4%, ini menunjukkan suatu fundamental ekonomi yang kuat.

Agus juga menunjukkan  adanya perbaikan pada transaksi berjalan. Ia menyebutkan, transaksi berjalan Indonesia yang pernah mencapai -27 miliar dollar AS, pada tahun 2015 ini diperkirakan akan terjadi perbaikan menjadi kurang lebih  -18 miliar dollar AS.

“Ini menunjukkan kondisi perbaikan, dan kita juga melihat secara pertumb uhan ekonomi di semester I memang di kisaran 4,7%, tetapi di semester II akan ada kesempatan untuk kita mempunyai kondisi yang lebih baik. Kami melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015 akan ada di kisaran, 4,7%-5,1%,” jelas Agus seraya menyebutkan,di kuartal III tahun 2015, itu akan ada di kisaran 4,85%.

Kalau Indonesia bisa mencapai peretumbuhan ekonomi 4,85%, lanjut Gubernur BI, ini adalah turning point karena di saat dunia sedang memperhatikan negara-negara berkembang yang  umunnya mempunyai pertumbuhan ekonomi yang terus melambat, Indonesia bisa membuktikan bahwa setelah semester I di kuartal III bisa berbalik menjadi 4,85%.

Karena itu Gubernur BI meyakini, langkah-langkah ini (peluncuran Paket Kebijakan) apabila didukung oleh upaya terus-menerus untuk  melakukan reformasi struktural tentu akan membawa kinerja yang lebih baik. “Kinerja yang lebih baik dari Indonesia di tengah kondisi ekonomi dunia yang tidak pasti memang akan menjadi suatu kekuatan dari Indonesia di mata dunia,” tuturnya.

Revaluasi Dan Penghindaran Pajak Berganda

Terkait dengan Paket Kebijakan V yang intinya adalah revaluasi asset dan dan juga penyediaan fasilitas bagi penghindaran pajak berganda atas Real Estate Investment Trust (REIT), Gubernur BI Agus Martowardojo menyambut baik Paket Kebihakan itu, karena secara umum kita mengetahui apabila ada fasilitas akses evaluasi aset dan juga diberikan kemudahan untuk melakukan pajak, itu akan membuat bagi korporasi termasuk BUMN untuk melakukan revaluasi aset.

“Dengan revaluasi aset itu dimungkinkan untuk terjadi nilai aset yang lebih besar, yang juga mencerminkan kondisi sebenarnya dan juga terjadi peningkatan modal,” kata Agus.

Ia menyebutkan, peningkatan modal itu sangat dibutuhkan bagi korporasi termasuk oleh BUMN karena akan membuat rasio-rasio kesehatan daripada korporasi itu semakin baik, dan hal ini juga akan mencerminkan bagaimana kesiapan korporasi Indonesia untuk menghadapi tantangan ke depan.

Adapun terkait dengan REIT, dimana akan diputuskan oleh pemerintah akan dilakukan penghindaran  pajak berganda, Gubernur BI juga menyambut baik, karena dengan adanya penyikapan terhadap tidak terjadinya pajak berganda, akan memungkinkan REIT yang selama ini telah dijalankan di luar negeri menggunakan real estate yang sebetulnya ada di Indonesia.

“Sekarang ada konkret kemungkinan untuk memindahkan bahwa  tidak perlu lagi dilakukan di luar negeri tetapi dilakukan di Indonesia. Tentu ini akan membuat pasar modal, pasal keuangan di Indoesia semakin baik, dan ini kami sambut baik,” pungkas Agus. (SLN/OJI/ES)

Berita Terbaru