Gubernur BI: Pelemahan Mata Uang Rupiah Masih Lebih Rendah Dibanding Negara Lain

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 12 Maret 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 24.974 Kali
Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo

Gubernur BI Agus Martowardojo

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo mengakui, kalau kondisi pasar uang, termasuk nilai tukar rupiah, saat ini mendapatkan tekananyang eksternal, yaitu normalisasi kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), dan membaiknya ekonomi negara tersebut. Namun dibandingkan dengan negara lain, depresiasi atau pelemahan nilai tukar rupiah masih lebih rendah dari negara lain.

Menurut Agus, kalau rupiah terdepresiasi 5,7 persen, pada periode yang sama mata uang Brasil terdepresiasi 16,7 persen, sementara Turki 13 persen. Demikian juga dengan negara-negara ASEAN, nilai tukar rupiah tidak lebih buruk dari Malaysia atau Singapura Dollar. Pun dengan Australian Dollar dan New Zealand Dollar yang mengalami depresiasi lebih besar daripada Indonesia.

“Jadi yang ingin kami sampaikan, di antara negara-negara berkembang di dunia, kondisi Indonesia memang terjadi depresisi tapi tidaklah sebesar negara-negara berkembang utama,” kata Agus kepada wartawan seusai rapat terbatas (Ratas) mengenai nilai tukar rupiah, di kantor Presiden, Jakarta, Rabu (11/3).

Gubernur BI itu mengatakan, kondisi penyesuaian tingkat bunga The Fed akan berlangsung di Juni-September. Selain itu, yang harus diwaspadi adalah adalah Tiongkok, di mana dipertemuan kongresnya komite nasionalnya telah disepakati bahwa pertumbuhan ekonomi di Tiongkok diperkirakan tujuh persen.

“Ini tentu suatu angka yang perlu diwaspadai karena berdampak terhadap dunia,” kata Agus seraya menyebutkan, bahwa k ita juga memperhatikan bahwa komoditi dunia masih terkoreksi, dimana pasar future melihat delapan komoditi yang menjadi andalan utama Indonesia, terkoreksi juga mungkin sampai 11 persen di tahun 2015.

Cukup Baik

Menurut Gubernur BI, secara umum Indonesia dalam keadaan yang cukup baik, paling tidak dilihat dari sisi inflasi. “Kita sekarang sudah nyaman bahwa inflasi itu akan mengarah kepada 4 persen di 2015, dan di 2016 juga kurang lebih seperti itu, dan credit default swap Indonesia juga terus membaik. Istilahnya kalau setahun yang lalu ada di kisaran 230, sekarang 130. Dan kemarin sedikit naik menjadi kira-kira 140,” kata Agus seraya menyebutkan, bahwa hal itu  menunjukan bahwa, resiko Indonesia cukup baik dibandingkan dengan negara berkembang dunia.

Jadi, lanjut Agus, betul, ada nilai tukar yang volatility, ada volatilitas dari rupiah. Namun, secara umum kita masih melihat dalam kondisi yang aman.

Agus juga meyakinkan,BI akan selalu ada di pasar, untuk menjaga agar volatilitasnya tidak tinggi. “Jadi kalau terjadi volatilitas kita ingin yakinkan volatilitas itu ada di batas yang dapat diterima. Apabila  voltilitasnya tinggi pasti BI akan masuk untuk meyakinkan volatilitasnya terjaga dan tetap menjaga kepercayaan masyarakat,” terang Agus. (Humas Setkab/ES)

 

 

Berita Terbaru