Hadapi ISIS, Presiden SBY : Militer Tidak Bisa Berperang Sendirian

Oleh Alfurkon Setiawan
Dipublikasikan pada 23 September 2014
Kategori: Berita
Dibaca: 68.478 Kali
Taruna AS

Hadapi ISIS, Presiden SBY : Militer Tidak Bisa Berperang Sendirian

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, seiring dengan perkembangan dunia yang semakin kompleks, kini militer dihadapkan pada jenis peperangan yang terus berkembang. Ia menyebutkan, militer kini dituntut untuk mempersiapkan diri mampu melakukan perang konvensional dan non-konvensional.

“Militer kini harus menghadapi musuh yang memiliki ideologi dan keyakinan, militansi dan persepsi yang sama sekali berbeda dari mereka,” ungkap Presiden SBY dalam ceramahnya di hadapan ratusan kadet atau taruna militer serta sekitar 300 perwira militer Amerika Serikat (AS) di The United States Military Academy di West Point, Orange County, di barat Sungai Hudson, sekitar 35 km di utara New York, Amerika Serikat, Senin (22/9) siang waktu setempat.

SBY mempertanyakan, apakah tentara reguler siap menghadapi aksi teror dan pemberontakan oleh ribuan orang yang bertekad untuk menjadi pelaku bom bunuh diri? Apakah tentara konvensional di rumah atau di luar negeri siap menghadapi ancaman terorisme yang mungkin terjadi setiap saat?

Menurut Presiden SBY, saat ini kita menghadapi realitas baru. Sebuah dunia yang lebih kompleks dengan mendalam keterkaitan antara politik, militer, psikologi dan emosi, dan juga ideologi dan geopolitik baru.

“Saya yakin para pemikir militer yang besar dan tokoh-tokoh masa lalu seperti Napoleon, Clausewitz, Jomini, Liddle Hart, Sun Tzu, Mahan, dan banyak lainnya, – jika  hidup di dunia sekarang ini, mereka harus merevisi mereka teori dan pikiran mereka,” tutur SBY.

Presiden menekankan  untuk menyelesaikan kompleksitas tersebut, militer tidak dapat melakukannya sendiri. Penyelesaian yang komprehensif, kata Presiden SBY, memerlukan kolaborasi antara solusi politik dengan solusi lainnya.

SBY lantas menunjuk contoh untuk menghadapi permasalahan yang ditimbulkan oleh perkembangan gerakan Islam radikal di Timur Tengah, yaitu Islamic State of Iraqi and Syria (ISIS) dan aksi terorisme diseluruh dunia, diperlulkan pendekatan multidisipliner, menggunakan soft power dan smart power dalam berbagai bentuk dan dosis.

Menurut SBY, apabila ISIS telah dilumpuhkan secara militer, maka yang diperlukan adalah campur tangan politisi, diplomat, pemimpin agama, dan masyarakat untuk memastikan agar generasi penerus tidak dihantui dengan certa- cerita kejahatan mereka.

“Kasus di Indonesia, untuk menghadapi ancaman tterorisme pemerintah telah mengadopsi program deradikalisasi sekaligus juga empowering pemimpin agama yang moderat untuk mendidik para ekstrimis,” papar SBY.

Presiden SBY juga menekankan, bahwa mengakhiri perang akan lebih sulit dari pada memulainya. Disinilah peran politisi dan diplomat sangat diperlukan. “Meskipun ini bukan pilihan yang mudah, saya meyakini selalu ada jalan,” kata SBY seraya menyebutkan, pada masa kepemimpinannya di Indonesia, pemerintah telah mampu menyelesaikan konflik Aceh, melakukan rekonsiliasi damai dengan Timor Leste setelah konflik selama 25 tahun, dan menyelesaikan perjanjian batas wilayah dengan negara tetangga seperti Filipina dan Singapura.

Namun demikian, Presiden SBY mengakui dalam beberapa situasi, pemerintah tidak dapat selalu menggunakan penyelesaian secara damai untuk myelesailan konflik. Oleh karena itu, militer harus selalu siap untuk melalukan tugasnya untuk memperjuangkan kepentingan bangsanya.

Presiden SBY juga mengingatkan, meskipun dunia dalam keadaan tenang, tetapi selalu ada ruang terjadinya konflik yamg mengarah pada berkurangnya kepercayaan antara sesama. Namun Presiden menekankan, bahwa prinsipnya perang merupakan jalan terakhir setelah semua jalan perdamaian dilakukan. Namun demikian, militer harus selalu siap untuk peperangan dan pertempuran.

Khusus terkait dengan posisi Amerika Serikat sebagai negara super power, Presiden SBY mengingatkan, para taruna militer dan perwira di negara tersebut, bahwa mereka memiliki tanggung jawab besar untuk membantu menciptakan damai, adil dan makmur dunia.

“Dunia memiliki harapan tinggi pada negara Anda kepemimpinan-kepemimpinan yang konstruktif, bijaksana, dan bermanfaat bagi semua bangsa,” tutur SBY.

Ikut mendampingi Presiden dalam kunjungannya ke West Point ini antara lain Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Chairuul Tanjung, Mensesneg Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Perindustrian MS. Hidayat, dan Mendikbud Mohammad Nuh. (MGD/ES)

 

 

Berita Terbaru