Hadiri Silaturahmi Al Khairiyah, Presiden Jokowi Sampaikan Pentingnya Perhatikan Integritas

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 22 Oktober 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 21.792 Kali
Kampus Al-Khairiyah, Cilegon, Provinsi Banten, Sabtu (22/10) sore.

Presiden Jokowi di Kampus Al-Khairiyah, Cilegon, Banten, Sabtu (22/10) sore. (Foto: BPMI/Laily)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan pentingnya untuk memperhatikan karakter dalam pembangunan manusia. Integritas dan kejujuran ialah salah satu dari sekian banyak nilai-nilai yang menurut Presiden perlu dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia.

“Banyak yang pintar-pintar, tapi senangnya mungli (melakukan pungutan liar). Ini yang menjadi penyakit bangsa kita,” kata Presiden Jokowi saat bersilaturahmi dengan pengurus besar Al-Khairiyah di Kampus Al-Khairiyah, Cilegon, Banten, Sabtu (22/10) sore.

Menurut Presiden, urusan pungutan liar (pungli) ini memang menjadi perhatian khusus pemerintah saat ini. Dengan melihat kondisi perizinan di sejumlah instansi yang menjadi lebih sulit atau berbelit-belit akibat adanya pungli, Presiden merasa perlu untuk turun tangan langsung. Apalagi Indonesia kini sedang berusaha agar mampu menjadi negara yang ramah investasi.

“Dari survei kemudahan berinvestasi, Indonesia ada di nomor 109. Singapura di nomor satu, Malaysia nomor 18, Thailand nomor 49. Jangan ditepukin, ada yang mau tepuk tangan. Inilah persoalan besar kita,” ungkap Presiden.

Oleh karenanya, Presiden Jokowi mengingatkan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang cerdas, tapi juga yang memiliki integritas dan kejujuran untuk bersama mengelola negara Indonesia ini.

Presiden lantas membagi pengalaman yang pernah dihadapinya saat mengurus perizinan berpuluh tahun lampau yang mungkin masih bisa ditemui hingga kini.

“Tahun ’87-’88, mau urus izin berbelit-belit dan diminta ini itu di setiap meja. Pasti diminta rupiah tertentu. Inilah yang harus kita selesaikan kalau kita ingin peringkat kita naik. Oleh sebab itu dibutuhkan SDM yang memiliki integritas,” kata Presiden.

Tidak Berdiam Diri
Pada bagian lain sambutannya Presiden Jokowi mengatakan, Indonesia sepatutnya tidak hanya berdiam diri saat menghadapi era persaingan global dewasa ini. Sebab menurutnya sedikit saja negara ini lengah, maka sudah menunggu banyak negara lain yang ingin memenangkan persaingan.

Presiden sendiri berpandangan sudah saatnya Indonesia dihadapkan dengan persaingan dan kompetisi. Sebab, persaingan merupakan sesuatu yang dibutuhkan negara ini untuk terus berkembang lebih baik lagi.

“Tapi memang kalau kita lihat karakter bangsa ini baru bergerak kalau diberi pesaing. Kalau tidak diberi pesaing malah enak-enakan, malas-malasan. Tapi begitu diberi pesaing malah bangkit,” ungkap Presiden.

Ia lantas memberi contoh pada sekitar tahun 1975 hingga 1980 misalnya, saat itu hanya terdapat dua bank milik pemerintah, itupun dengan pelayanan yang alakadarnya. Namun, dengan adanya pesaing, kini industri perbankan nasional dapat melejit.

“Dulu saya ingat kalau jam satu atau jam setengah dua sudah tutup. Loketnya seperti yang ada di gambar (kosong), kantornya juga seperti itu. Karena apa? Mereka tidak ada pesaing, tidak ada swasta. Tapi begitu ada pesaing langsung menjadi 170-an bank. Melejit, semuanya berbenah. Kantor diperbaiki, pelayanan diperbaiki, ATM di mana-mana. Coba kalau dulu tidak ada pesaing, masih seperti itu,” kenang Presiden.

Persaingan memang sesuatu yang mutlak dan diperlukan oleh bangsa Indonesia untuk berkembang. Namun demikian, Presiden mengatakan bahwa bangsa ini tidak perlu takut dalam menghadapi persaingan sepanjang telah mempersiapkan diri dalam kompetisi tersebut.

Ia menyebutkan, pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara merata di Tanah Air merupakan salah satu dari sekian banyak upaya pemerintah dalam mempersiapkan diri menghadapi persaingan global.

“Oleh sebab itu, sekarang ini kita mempersiapkan diri dalam rangka persaingan, mempersiapkan hal yang sangat fundamental yaitu infrastruktur. Karena tanpa itu sulit kita bisa bersaing. Tidak hanya di Jawa, tapi sekarang kita lebih banyak konsentrasi di luar Jawa,” terangnya.

Pembangunan infrastruktur besar-besaran seperti jalan tol misalnya, menurut Presiden, bertujuan untuk memudahkan mobilitas orang maupun barang. Mudahnya mobilitas tersebut diharapkan ke depannya harga-harga komoditas akan dapat ditekan seiring dengan turunnya biaya transportasi logistik yang diperlukan.

“Inilah yang sedang kita kejar, kita bangun, agar kita bisa memenangkan persaingan dengan negara yang lain. Tol Trans-Sumatera, Manado-Bitung, Balikpapan-Samarinda, kemudian pelabuhan-pelabuhan, masih proses semuanya,” tambahnya.

Di awal sambutannya dalam silaturahmi dengan Peserta Muktamar Al-Khairiyah ke-9 ini, Presiden Jokowi mengatakan bahwa sejak awal didirikan hingga sekarang, Al-Khairiyah selalu dekat dengan misi awal Kiai Haji Syam’un yaitu memajukan umat Islam.

“Mulai dari bentuk pesantren, lalu madrasah, sampai menjadi Perguruan Tinggi Islam, Al-Khairiyah terus berjuang untuk mengembangkan pendidikan Islam, melahirkan putra-putri Indonesia yang cerdas dan berdaya saing. Melahirkan putra putri-Indonesia yang mempunyai karakter-mental yang kuat dan Islami,” ujar Presiden.

Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Gubernur Banten Rano Karno, dan Ketua Umum Pengurus Besar Al-Khairiyah KH Hikmatullah A Syam’un. (BPMI/ES)

Berita Terbaru