Harga BBM Turun, Januari Catat Deflasi 0,24 Persen

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 2 Februari 2015
Kategori: Opini
Dibaca: 101.672 Kali

SPBUBadan Pusat Statistik (BPS), 2 Februari 2015, melaporkan bahwa  selama bulan Januari 2015 terjadi deflasi sebesar 0,24 persen, atau secara Year on Year (Januari 2015 terhadap Januari 2014) mencapai 6,96 persen. Dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) yang diamati, 51 kota mengalami deflasi, serta sisanya 31 kota mengalami inflasi, dengan deflasi tertinggi terjadi di kota Padang sebesar 1,98 persen, dan terendah terjadi di Bandung dan Madiun sebesar 0,05 persen. Sementara Inflasi tertinggi terjadi di Ambon sebesar 2,37 persen dan terendah terjadi di Malang sebesar 0,04 persen.

Dalam laporannya, Kepala BPS Suryamin mengatakan, terjadinya deflasi pada bulan Januari tersebut merupakan deflasi yang ketiga kalinya terjadi dalam bulan Januari sejak tahun 1973. Sebelumnya deflasi terjadi pada Januari 1973 sebesar 1,65 persen, dan Januari 2009 sebesar 0,07 persen, sementara selebihnya terjadi inflasi.

Rendahnya tingkat inflasi pada Januari 2015 sudah diprediksi sebelumnya oleh sejumlah pihak, termasuk pemerintah dan Bank Indonesia. Turunnya harga BBM sebanyak dua kali pada awal tahun menjadi faktor utama terjadinya deflasi pada Januari 2015, hal ini terlihat dari data yang disajikan dalam laporan Berita Resmi Statistik oleh Kepala BPS, yang menunjukkan bahwa Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan mengalami deflasi sebesar 4,04 persen, dengan andil terhadap pembentukan deflasi sebesar 0,78 persen.

Sementara itu, menurut kelompok komponen, deflasi pada Januari 2015 berasal dari administered price atau harga yang diatur pemerintah, sebesar 3,51 persen, sedangkan sisanya mengalami inflasi yaitu volatile food sebesar 0,55 persen dan komponen inti sebesar 0,61 persen.

Masih terdapatnya efek penurunan harga BBM yang terjadi selama Januari 2015 terhadap penyesuaian tarif angkutan umum serta sejumlah komoditas lainnya, diprediksi akan menyebabkan nilai inflasi pada Februari masih rendah.

Berikut ini adalah daftar komoditas yang memberikan andil dalam pembentukan tingkat inflasi Januari 2015:

Pendukung Deflasi

  1. Bensin, andil -0,71 persen, perubahan penurunan harga sebesar -15,33 persen, dikarenakan penurunan harga BBM pada awal tahun.
  2. Cabai merah, andil -0,22 persen, perubahan -24,73 persen, dikarenakan meningkatnya pasokan cabai di pasaran serta telah memasuki musim panen.
  3. Tarif angkutan dalam kota, andil -0,07 persen, perubahan -2,2 persen, dikarenakan turunnya harga BBM.
  4. Tarif angkutan udara, andil -0,07 persen, perubahan -10,84 persen, dikarenakan kurangnya permintaan jasa angkutan udara.
  5. Cabai Rawit, andil -0,06 persen, perubahan -17,7 persen, dikarenakan meningkatnya pasokan dikarenakan memasuki musim panen di sejumlah sentra produksi.
  6. Solar, andil -0,02 persen, perubahan -8,08 persen, dikarenakan penurunan harga BBM.

 

Penghambat deflasi

  1. Daging ayam ras, andil 0,09 persen, perubahan kenaikan harga sebesar 7,2 persen. Dikarenakan rendahnya pasokan ternak.
  2. Ikan segar, andil 0,08 persen, perubahan 1,9 persen, dikarenakan cuaca yang kurang baik yang menyebabkan menurunnya tangkapan.
  3. Beras, andil 0,07 persen, perubahan 1,92 persen, dikarenakan masuk masa paceklik.
  4. Telur ayam ras, andil 0,07 persen, perubahan 10,2 persen, dikarenakan kurangnya pasokan dari peternak.
  5. Bahan bakar rumah tangga, andil 0,06 persen, perubahan 3,66 persen, dikarenakan kenaikan harga elpiji 12 kg sebesar Rp 1.500/kg
  6. Emas perhiasan, andil 0,04 persen, perubahan 3,25 persen, dikarenakan mengikuti perubahan harga logam mulia internasional.
  7. Tarif kereta api, andil 0,04 persen, perubahan 25,92 persen, dikarenakan kenaikan pada tarif yang ditetapkan pemerintah 1 Januari 2015, pencabutan Public Service Obligation (PSO), dan dicabutnya subsidi kereta api jarak jauh dan sedang yang dialihkan ke kerata api lokal dan commuter.
  8. Mobil, andil 0,03 persen, perubahan 1,3 persen, dikarenakan naiknya biaya produksi.
  9. Wortel, andil 0,02 persen, perubahan 28,32 persen, dikarenakan berkurangnya pasokan.
  10. Bawang Merah, andil 0,02 persen, perubahan 4,82 persen, dikarenakan berkurangnya pasokan.
  11. Nasi dan Lauk , 0,02 persen, perubahan 1,18 persen, dikarenakan naiknya harga bahan baku.

(Muhammad Hilmansyah, Keasdepan Ekonomi Makro, Keuangan, dan Ketahanan Pangan – Sekretariat Kabinet RI)

Opini Terbaru