Hilang Rp 35 Triliun/Tahun Karena Macet, Presiden Jokowi Minta LRT, MRT, Airport Terintegrasi

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 29 Maret 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 28.359 Kali
Presiden Jokowi memimpin rapat terbatas masalah LRT, di kantor presiden, Jakarta, Selasa (29/3) siang. (Foto: JAY/Humas)

Presiden Jokowi memimpin rapat terbatas masalah LRT, di kantor presiden, Jakarta, Selasa (29/3) siang. (Foto: JAY/Humas)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan keinginannya untuk mempercepat pembangunan kereta ringan Light Rail Transit (LRT), baik yang ada di Jakarta, di Bodetabek, maupun di Palembang, dan juga di Bandung Raya.

“Yang berkaitan dengan kereta api cepat Jakarta-Bandung sudah dimulai atau sebentar lagi dimulai. Sudah dimulai dan kita harapkan nantinya betul-betul terintegrasi dari kereta api cepat atau MRT (Mass Rapid Transport)nya, LRT-nya, busway-nya, ke bandara dengan commuter line, kemudian juga dengan kereta cepat, sambung lagi ke LRT di Bandung Raya,” kata Presiden Jokowi saat memimpin rapat terbatas, di kantor Kepresidenan, Jakarta

Menurut Presiden Jokowi, dari hitungan dan data yang diterimanya, di Jakarta setahun kita kehilangan Rp 28 triliun karena kemacetan. Di Bandung plus ke Jakarta itu kehilangan Rp 7 triliun setiap tahun karena kemacetan. Jadi secara hitungan-hitungan makro negara setiap tahun berarti kehilangan kurang lebih Rp 35 triliun.

“Jadi ini mutlak diperlukan pembangunan karena kita tidak ingin kehilangan uang yang percuma karena adanya kemacetan,” tegas Presiden Jokowi.

Presiden juga ingin agar semuanya terintegrasi dengan airport. Menurut Presiden, yang di Palembang sudah dari airport. Yang di sinipun (Jakarta), lanjut Presiden, sebaiknya LRT-nya yang ke airport, karena kereta api juga sudah, atau mungkin kereta api cepatnya yang sampai ke airport.

“Tetapi semuanya mestinya harus dikalkulasi, dihitung sehingga ini menjadi alternatif-alternatif bagi masyarakat untuk memakai moda transportasi apa yang disenangi,” tutur Presiden.

Presiden Jokowi juga menegaskan, percepatan ini juga harus dilakukan karena ada momentum Asian Games yang ke-18 yang akan berlangsung 2018 yang akan datang.

Karena itu, supaya ini semuanya nantinya, terutama yang LRT itu bisa selesai semuanya, maka masalah-masalah yang ada diharapkan semuanya bisa diselesaikan. baik mengenai trasenya, mengenai spek (spesifikasi) teknis untuk kereta api LRT, masalah pembiayaan, dan masalah sumber daya penggeraknya.

“Juga masalah perizinan yang berkaitan dengan tata ruang, dengan ruang, serta masalah persinggungan dengan flyover dan mungkin trase jalur LRT atau MRT. Kita harapkan semuanya terintegrasi dan saya melihat kalau yang dulu-dulu yang kita lihat dulu di Kementerian Perhubungan sudah ada semuanya. Sehingga prinsip yang ingin kita bangun adalah sebuah produktivitas, efisiensi, dan efektivitas dari investasi yang ada,” pungkas Presiden.

Tampak hadir dalam rapat terbatas itu antara lain Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Kemaritiman Rizal Ramli, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Presiden Teten Masduki, dan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro. (FID/JAY/ES)

 

Berita Terbaru