Indonesia Berhasil Masukkan Kerjasama Maritim Sebagai Prioritas dalam KTT Asia Timur

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 22 November 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 26.978 Kali
Presiden Jokowi di antara para peserta KTT Asia Timur, di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (22/11). Foto: Cahyo/Setpres

Presiden Jokowi di antara para peserta KTT Asia Timur, di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (22/11). Foto: Cahyo/Setpres

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan dua hal yang dinilai sangat penting bagi masa depan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Timur. Pertama, memajukan kerja sama maritim sebagai prioritas baru dalam kerja sama KTT Asia Timur.

“Kerjasama maritim sangat strategis, karena sejalan dengan prakarsa Indonesia mengenai Poros Maritim Dunia, memiliki dampak langsung terhadap stabilitas, keamanan serta kemakmuran di kawasan,” ujar Presiden Jokowi dalam KTT Asia Timur, di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (22/11).

Presiden Jokowi juga memberikan apresiasi kepada seluruh negara KTT Asia Timur atas dukungan yang diberikan bagi prakarsa Indonesia mengenai EAS Statement on Enhancing Regional Maritime Cooperation yang akan disahkan pada KTT kali ini.

“Statement EAS merupakan deklarasi politik yang menunjukkan komitmen negara peserta EAS untuk meningkatkan dialog dan kerja sama di bidang maritime,” ucap Presiden Jokowi sebagaimana dikutip Tim Komunikasi Presiden, Ari Dwipayana, dalam siaran persnya Minggu (22/11) siang.

Memang diakui Presiden Jokowi, pengesahan dokumen ini memerlukan tindaklanjut melalui kegiatan konkret. “Untuk itu, saya ingin mendorong pengembangan ekonomi maritim berkelanjutan, konektivitas kelautan, kerja sama antar lembaga penelitian, dan mengatasi tantangan lintas batas,” ucap Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi mengajak negara peserta EAS untuk memerangi Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing. Untuk itulah, Presiden Jokowi mengusulkan perlunya dibentuk suatu instrumen hukum di kawasan guna memberantas IUU Fishing.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah kerja sama dalam pemberantasan terorisme, radikalisme dan ekstremisme. Indonesia, kata Presiden Jokowi, adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar juga negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Namun, pluralisme merupakan kenyataan sehari-hari dan berkembang dengan baik di Indonesia.

“Pengalaman Indonesia menunjukkan Islam, demokrasi dan pluralisme dapat berjalan berdampingan merupakan aset penting,” ujar Presiden jokowi.

Menurut Presiden, Indonesia mengedepankan pendekatan hukum, sekaligus budaya dan kultur dalam memerangi terorisme. Presiden Jokowi mendorong negara peserta EAS untuk kerja sama konkret melawan ekstremisme dan radikalisme.

“Saya juga ingin mendorong penguatan arsitektur regional yang mengedepankan sentralitas ASEAN,” ucap Presiden Jokowi.

Presiden juga menyampaikan visi Indonesia ke depan dalam kerja sama EAS, yakni memperkuat kerja sama penanganan illegal migration/irregular movement of persons dan mekanisme regional dalam penanggulangan bencana dan penyakit menular dan mendukung dan ikut menjadi co-sponsor Statement of the 10th East Asia Summit on Enhancing Regional Health Security relating to Communicable Diseases with Epidemic and Pandemic Potential prakarsa Republik Korea. “Saya menyambut baik pengesahan Deklarasi Kuala Lumpur mengenai Peringatan 10 Tahun KTT Asia Timur,” ujar Presiden Jokowi.

KTT Asia Timur itu dihadiri oleh PM Malaysia Najib Abdul Razak, Presiden  Barack Obama, Presiden Republik Korea Park Geun Hye, PM Jepang Shinzo Abe dan PM RRT Li Keqiang, PM Australia Malcolm Turnbull, PM Selandia Baru John key, PM India Narendra Modi serta para Kepala Negara/Kepala Pemerintah ASEAN. (ES)

Berita Terbaru