Indonesia Ingin Jadikan IORA Pintu Akses Kerja sama Negara Afrika dan Timteng

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 3 Maret 2017
Kategori: Berita
Dibaca: 37.373 Kali
Menlu RI Retno LP Marsudi Pada Press Briefing tentang KTT IORA, di Kemlu, Jakarta, Jumat (3/3) siang. (Foto : Dite Infomed Kemlu)

Menlu RI Retno LP Marsudi Pada Press Briefing tentang KTT IORA, di Kemlu, Jakarta, Jumat (3/3) siang. (Foto : Dit Infomed Kemlu)

Indonesia melihat pentingnya kerja sama negara-negara di lingkar luar Samudera Hindia khususnya yang tergabung dalam Indian Ocean Rim Association (IORA) mengambil visi strategis. Agar dapat memanfaatkan besarnya potensi di kawasan, maka kestabilan dan perdamaian harus terus dipelihara.

“Inilah arti penting IORA Concord yang akan dihasilkan dalam IORA Leader’s Summit,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno L.P. Marsudi dalam keterangannya kepada wartawan di Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Jakarta, Jumat (3/3) siang.

Leader’s Summit atau Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) IORA yang akan digelar di Jakarta, 5-7 Maret ini, diikuti oleh 16 pemimpin negara dan 7 utusan setingkat menteri.

Ditegaskan Menlu, bahwa Indonesia telah menunjukkan kepemimpinannya di APEC dan di ASEAN. Kini, saatnya Indonesia menampilkan kepemimpinan di IORA dengan menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi yang pertama dan menghasilkan concord.

IORA concord, jelas Menlu, akan memberikan platform bagi negara-negara untuk menghadapi tantangan masa kini dan mendatang. IORA bercita-cita memajukan berbagai kerja sama di bidang ekonomi. Namun sejarah membuktikan, pertumbuhan ekonomi tidak akan berkelanjutan tanpa didukung kestabilan dan perdamaian.

“Indonesia ingin memastikan Samudera Hindia yang stabil dan damai. Concord menjelaskan norm setting agar negara-negara berkomitmen terhadap hukum dan perjanjian internasional, termasuk UNCLOS 1982,” ungkap Retno.

Ia menyebutkan, visi dalam concord ini tidak terlepas dari implementasi pilar Poros Maritim pemerintahan Presiden Joko Widodo. Melalui diplomasi maritim, Indonesia akan mengisi kekosongan di Samudera Hindia dan memanfaatkan peluang ekonomi.

Menlu Retno menjelaskan bahwa bagian barat Samudera Hindia adalah pasar yang telah tergarap. Indonesia ingin memanfaatkannya sebagai sumber investasi dan pariwisata. Sedangkan bagian timur yang relatif belum tergarap, “Melalui IORA, kita ingin jadikan bagian timur Samudera Hindia, pintu akses kerja sama dengan negara-negara di Afrika dan Timur Tengah,” ujarnya.

Di balik diplomasi maritim di IORA, Indonesia memprediksikan bahwa Samudera adalah kawasan masa depan. Sekitar 2,7 miliar penduduk dunia dari 21 negara berada di kawasan ini. Setengah dari negara G20 juga ada di Samudera Hindia. Lebih lanjut, perairannya telah menjadi sarana transportasi dunia dan menyimpan berbagai sumber daya alam.

Dijelaskan pula rangkaian Leader’s Summit, yaitu pertemuan tingkat Pejabat Tinggi (Senior Officials Meeting – SOM, 5 Maret), pertemuan tingkat Menteri (Council of Ministers Meeting – COMM, 6 Maret) dan pertemuan tingkat Puncak (Leaders Summit, 7 Maret).

Diakui Menlu Retno bahwa partisipasi pertemuan ini melebihi harapan, “Dari 21 negara, telah dipastikan kehadiran 16 pemimpin dan 5 di tingkat menteri.” Di sela-sela konferensi, akan diatur sejumlah pertemuan bilateral di tingkat Kepala Pemerintah maupun Menteri.

Sebelunya Direktur Jenderal Asia, Pasifik dan Afrika (Dirjen Aspasaf) Kementerian Luar Negeri (Kemlu)  Desra Percaya mengemukakan, IORA Leader’s Summit akan terdiri dari rangkaian pertemuan tingkat Pejabat Tinggi (Senior Officials Meeting – SOM), pertemuan tingkat Menteri (Council of Ministers Meeting – COMM) dan pertemuan tingkat Puncak (Leaders Summit).

“Presiden Joko Widodo direncanakan akan memimpin sesi Leaders Summit bersama dengan PM Australia (sebagai ketua IORA sebelumnya) dan Presiden Afrika Selatan (Ketua IORA berikutnya). Selain itu, Presiden Joko Widodo juga direncanakan akan menyampaikan sambutan dalam acara Business Summit,” kata Desra dalam press briefing di Kemlu, Kamis (2/3) kemarin.

Leader’s Summit ini, jelas Desra, merupakan pertemuan tingkat puncak pertama dalam sejarah terbentuknya kerja sama negara-negara di Samudera Hindia sejak 1997. Format pertemuan di tingkat puncak adalah inisiatif dalam Keketuaan Indonesia di IORA periode 2015-2017.  (Ditinfomed Kemlu/ES)

Berita Terbaru