Indonesia-Timor Leste: Meneguhkan Komitmen untuk Konsisten

Oleh Alfurkon Setiawan
Dipublikasikan pada 28 Agustus 2014
Kategori: Opini
Dibaca: 185.464 Kali

foto_kunker“…Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan…”

Petikan dari Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tersebut bukanlah pernyataan yang biasa. Kalimat tersebut menjadi sebuah titik tolak dari keinginan, motivasi, dasar, dan pembenaran perjuangan akan hak-hak kemerdekaan. Bahkan, pernyataan tersebut lebih dahulu dari Hak Asasi Manusia (HAM) menurut Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai deklarasi Universal of Human Rights 1948.

Dalam piagam tersebut tercantum 9 (sembilan) hak-hak asasi manusia yang terdiri dari:

  1. Hak berpikir dan mengeluarkan pendapat;
  2. Hak memilih sesuatu:
  3. Hak mendapatkan pendidikan dan pengajaran;
  4. Hak menganut aliran kepercayaan atau agama;
  5. Hak untuk hidup;
  6. Hak untuk kemerdekaan hidup;
  7. Hak untuk memperoleh nama baik;
  8. Hak untuk memperoleh pekerjaan; dan
  9. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.

Indonesia melalui proses yang panjang dalam meraih kemerdekaan. Setiap proses yang dijalani tersebut menjadikan Indonesia benar-benar belajar akan arti kemerdekaan sebuah bangsa. Untuk itulah, saat Timor Leste mengukuhkan keputusannya saat referendum 30 Agustus 1999, Bangsa Indonesia menghargai putusan yang dibuat tersebut karena merupakan aspirasi dari rakyat Timor Leste.

Hubungan Indonesia-Timor Leste Kini

Awal hubungan Indonesia dan Timor Leste harus menyelesaikan berbagai permasalahan yang muncul pasca Referendum. Beberapa permasalahan itu di antaranya adalah:

  • Penyelesaian isu mengenai garis batas negara sehingga dapat diterapkan sistem pas lintas batas yang disepakati oleh kedua negara;
  • Menyampaikan komunikasi secara efisien antara pemerintah dan aparat keamanan di kedua belah pihak pada semua tingkatan. Hal ini untuk  menurunkan secara cepat kemungkinan insiden yang terjadi; dan
  • Meningkatkan kerja sama di berbagai bidang terutama terkait pelatihan dan pertukaran pengetahuan.

Seiring dengan berjalannya waktu berbagai persoalan Indonesia dan Timor Leste sebagai sebuah negara yang memiliki kedekatan secara geografis dan budaya, terutama wilayah perbatasan langsung dengan kedua negara, semakin lama makin bekurang bahkan dapat dikatakan tidak ada. Kerja sama di antara kedua negara terus ditingkatkan. Pertumbuhan ekonomi GDP kedua negara tahun 2013, berdasarkan World Bank, pun semakin meningkat.

Indonesia dengan luas wilayah 1.904.569 km2 dan penduduk sebanyak 247,4 juta jiwa, survei BPS tahun 2013, memiliki GDP sebesar US$ 3.475. Sedangkan, Timor Leste dengan luas wilayah 14.874 km2 dan penduduk sebanyak 1,17 juta jiwa, data World Bank tahun 2013, memiliki GDP sebesar US$ 1.371.

Hubungan antara kedua negara pun makin meningkat. Hal ini dibuktikan dalam data perdagangan antar kedua negara.

Data Perdagangan Indonesia-Timor Leste

No

Item

Perbandingan

Indonesia

Timor Leste

1

Total Perdagangan

2013: US$ 246,56 juta

2012 : US$ 258,8 juta

2

Tren

Jan-Mei 2014: US$ 88,58 juta

Tren 2009-2013: naik 12,78%

3

Ekspor

2013: US$ 246,29 juta

2012: US$ 258,17 juta

4

Tren

Jan-Mei 2014: US$ 88,47 juta

Tren 2009-2013: naik 12,89%

5

Impor

2013 : US$ 274.000

2012: US$ 632.000

6

Tren

Jan-Mei 2014: US$ 111.200

Tren 2009-2013: turun 20,55%

7

Neraca Perdagangan

2013: Surplus RI US$ 246 juta

2012: Surplus RI US$ 257,5 juta

8

Tren

Jan-Mei 2014: US$ 88,36 juta

Tren 2009-2013: naik 13%

Tabel Data Perdagangan Indonesia-Timor Leste (diolah dari berbagai sumber)

Dengan melihat tabel di atas nampak bahwa Indonesia merupakan mitra dagang efektif bagi Timor Leste. Bukan hanya itu, beberapa perusahaan Indonesia melakukan investasi di Timor Leste di antaranya adalah Pertamina, Bank Mandiri, PT. WIKA, Kimia Farma, Telkomsel, Sucofindo, Nexian Indonesia, Waskita Karya, dan lain-lain.

Salah satu bukti paling konkret pembangunan di Timor Leste oleh perusahaan Indonesia adalah dibangunnya Gedung Kementerian Keuangan Timor Leste oleh PT Pembangunan Perumahan Persero. Gedung tersebut telah diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada hari Rabu, 27 Agustus 2014 yang juga turut dihadiri oleh Presiden dan Perdana Menteri Timor Leste.

Meneguhkan Komitmen untuk Konsisten

Jikalau kerja sama dalam bidang ekonomi tersebut masih dianggap belum lengkap, berbagai komitmen Indonesia terus ditegaskan untuk memberikan bantuan kepada Timor Leste, di antaranya adalah:

  • Bidang Pendidikan dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Selama tahun 2009-2013, sebanyak 1.811 warga negara Timor Leste mengikuti program kerja sama teknik. Selain itu, komitmen berikan bantuan capacity building (pengiriman tenaga ahli/ internship/beasiswa) senilai 6 juta dollar AS kepada RDTL periode 2013-2017. Dengan demikian, hal ini mempertegas komitmen Pemerintah Indonesia untuk membantu capacity building SDM di Timor Leste; dan
  • Dalam hal hubungan diplomatik, Pemerintah Indonesia telah keluarkan Perpres Nomor 31 Tahun 2014 mengenai Pemberlakuan Persetujuan Indonesia mengenai Pembebasan Visa bagi Pemegang Paspor Diplomatik dan Dinas Timor Leste. Selanjutnya, Pemerintah Timo Leste pun telah sampaikan Nota Diplomatik tanggal 17 Juli 2014 sehingga exchange of notes telah dilakukan. Kemudian, persetujuan tersebut telah dapat diberlakukan 30 hari sejak pemberitahuan disampaikan.

Dengan berbagai kerja sama dan komitmen yang dilakukan oleh kedua negara, terutama Indonesia, tidak salah kemudian para pemimpin Indonesia dan Timor Leste menyampaikan bahwa hubungan diplomatik kedua negara haruslah menjadi contoh bagi negara di belahan dunia seperti Timur Tengah, Afrika maupun Eropa Timur yang saat ini sedang bergejolak.

Presiden SBY pun menyampaikan dalam pertemuan dengan pemimpin di Timor Leste bahwa Pemerintah Indonesia dan Timor Leste memiliki komitmen dan semangat dan upaya besar untuk mampu mengatasi masa lalu, merajut masa depan yang lebih kokoh. Oleh karena itulah, keberhasilan memelihara keamanan (peace building) dan rekonsiliasi antara Indonesia-Timor Leste merupakan contoh bagi negara-negara lain yang pernah atau sedang mengalami konflik.

Bahkan, dalam dalam pertemuan bilateral tanggal 26 Agustus 2014 Presiden Timor Leste, Taur Matan Ruak, mencetuskan ide agar pemerintah kedua negara bersama-sama membuat suatu wadah atau forum pemerintah kedua negara. Forum berfungsi sebagai ajang untuk berdialog dan berdiskusi berbagai permasalahan dengan bangsa-bangsa di dunia terutama mengenai penanganan peace building dan post conflict reconciliation.

Bukan hanya itu, kedua Ibu Negara, Ibu Hj. Ani Yudhoyono dan Isabela Da Costa Ferreira, meresmikan Rumah Pintar “Casa da Cidadania” atau House of Citizenship di Istana Kepresidenan Timor Leste Nicolau Lobato. Bahkan, kedua Ibu Negara juga mendiskusikan kepedulian dan komitmen bersama untuk memajukan pendidikan anak dan pemberdayaan perempuan di antara kedua negara.

Kerja sama Indonesia-Timor Leste yang sudah ada sekarang ini terus-menerus dapat ditingkatkan di berbagai bidang. Dengan demikian, tidak perlu lagi menanyakan komitmen akan konsistensi Indonesia kepada Timor Leste, cukuplah dengan mengutip pertanyaan retoris yang disampaikan oleh Presiden SBY, “Jika kedua Ibu Negara sudah berkomitmen, apa lagi yang ditunggu?”.

*) Penulis adalah Kepala Subbidang Perekaman dan Transkripsi, Sekretariat Kabinet

Opini Terbaru