Inflasi Agustus 2015, Terendah Sejak Tahun 2007

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 2 September 2015
Kategori: Opini
Dibaca: 23.019 Kali

Angkutan Umum-1Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin, menyampaikan bahwa pada Agustus 2015 terjadi inflasi sebesar 0,39 persen. Dengan demikian, maka inflasi tahun kalender (Januari-Juli 2015) mencapai 2,29 persen, sementara inflasi tahun ke tahun (Year on Year) sebesar 4,92 persen. Sebagai informasi, nilai inflasi sebesar 0,39 persen tersebut merupakan yang terendah sejak tahun 2007.

Dari 82 Kota IHK, BPS mencatat 59 kota mengalami inflasi, dan 23 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjungpandan sebesar 2,92 persen, dan inflasi terendah terjadi di Sumenep sebesar 0,02 persen. Sementara itu, untuk deflasi, tertinggi terjadi di Ambon sebesar -1,77 persen.

Dalam penjelasannya, Suryamin juga mengatakan bahwa dari 59 kota IHK yang mengalami inflasi tersebut, 37 kota nilai inflasinya berada diantara 0-0,5 persen, 18 kota bernilai 0,5-1 persen, dan hanya 4 kota yang mengalami inflasi di atas satu persen. “Artinya pengendalian inflasi di daerah sudah bagus,” ujar Suryamin.

Dilihat dari kelompok pengeluaran, hampir seluruh kelompok mengalami inflasi, hanya kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan yang mengalami deflasi. Inflasi selama bulan Agustus terutama disebabkan oleh kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga yang mencapai diatas 1 persen, yaitu sebesar 1,72 persen. “Ini karena bertepatan dengan tahun ajaran baru,” ujar Suryamin.

Sementara untuk kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar -0,58 persen, diakibatkan penurunan pada beberapa tarif angkutan, baik itu angkutan udara, darat, maupun laut.

Turunnya harga pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan tersebut menjadi hal yang cukup berpengaruh terhadap rendahnya nilai inflasi Agustus. Hal ini dikarenakan kelompok tersebut memiliki pengaruh yang penting dalam mengekang harga pada komoditi lainnya sehingga tidak terjadi inflasi yang tinggi.

Apabila dilihat menurut kelompok komponen, inflasi paling tinggi berasal dari komponen harga yang bergejolak (volatile food) sebesar 0,95 persen, diikuti oleh inflasi komponen inti sebesar 0,52, dan komponen energi sebesar 0,11 persen. Sementara itu, kelompok harga diatur pemerintah (administered price) mengalami deflasi  sebesar -0,45 persen.

Berikut ini adalah komoditas pendukung dan penghambat inflasi Agustus 2015:

Pendukung Inflasi:

  1. 1.       Daging ayam ras, rata-rata perubahan kenaikan harga sebesar 0,68 persen, andil terhadap pembentukan inflasi sebesar 0,08 persen, dikarenakan berkurangnya pasokan.
  2. 2.       Beras, rata-rata perubahan kenaikan harga sebesar 1,6 persen, andil 0,06 persen, dikarenakan berukurangnya pasokan akibat memasuki musim panas.
  3. 3.       Cabe Rawit, rata-rata perubahan kenaikan harga sebesar 24,01 persen, andil 0,05 persen, dikarenakan berkurangnya pasokan, dan terjadinya gagal panen di beberapa daerah.
  4. 4.       Uang Sekolah Dasar, rata-rata perubahan kenaikan harga sebesar 4,75 persen, andil 0,04 persen, dikarenakan memasuki tahun ajaran baru.
  5. 5.       Telur Ayam Ras, rata-rata perubahan kenaikan harga sebesar 4,72 persen, andil 0,03 persen, dikarenakan berkurangnya pasokan.
  6. 6.       Uang Sekolah SMP, rata-rata perubahan kenaikan harga sebesar 5,4 persen, andil 0,03 persen, dikarenakan memasuki tahun ajaran baru.
  7. 7.       Uang Sekolah SLTA, rata-rata perubahan kenaikan harga sebesar 4,11 persen, andil 0,03 persen, dikarenakan emasuki tahun ajaran baru.
  8. 8.       Mie, rata-rata perubahan kenaikan harga sebesar 1,39 persen, andil 0,02 persen, dikarenakan naiknya bahan baku mie (Gandum) akibat pelemahan nilai tukar.
  9. Nasi dan lauk, rata-rata perubahan kenaikan harga sebesar 1,1 persen, andil 0,02 persen, dikarenakan bahan baku yang naik (beras dan bahan makanan lainnya)
  10. Daging Sapi, rata-rata perubahan kenaikan harga sebesar 1,27 persen, andil 0,01 persen, dikarenakan berkurangnya pasokan.
  11. Tarif Listrik, rata-rata perubahan kenaikan harga sebesar 0,25 persen, andil 0,01 persen, dikarenakan harga yang diatur pemerintah.
  12. Uang sekolah Perguruan Tinggi, rata-rata perubahan kenaikan harga sebesar 0,57 persen, andil 0,01 persen, dikarenakan adanya tahun ajarn baru.
  13. Uang Bimbingan Belajar, rata-rata perubahan kenaikan harga sebesar 2,25 persen, andil 0,1 persen, dikarenakan memasuki tahun ajaran baru.

 

Penghambat Inflasi (yang mengalami deflasi):

  1. Bawang Merah, rata-rata perubahan penurunan harga sebesar -15,92 persen, andil terhadap pembentukan inflasi sebesar -0,08 persen, dikarenakan pasokan yang mencukupi dari sentra produksi.
  2. Tarif Angkutan Udara, rata-rata perubahan penurunan harga sebesar -4,7 persen, andil 0,07 persen, dikarenakan berkurangnya permintaan jasa angkutan udara.
  3. Tarif Antar Kota, rata-rata perubahan penurunan harga sebesar -6,08 persen, andil -0,05 persen, dikarenakan tarif yang kembali normal pasca Idul Fitri.
  4. Tomat Sayur, rata-rata perubahan penurunan harga sebesar -8,04 persen, andil 0,02 persen, dikarenakan pasokan yang cukup banyak
  5. Emas Perhiasan, rata-rata perubahan penurunan harga sebesar 1,1 persen, andilnya 0,01 persen.
  6. Tarif Kereta Api, rata-rata perubahan penurunan harga sebesar -5,46 persen, andil -0,01 persen, dikarenakan tarif yang kembali normal pasca Idul Fitri.

(MH, Keasdepan Ekonomi Makro, Penanaman Modal, dan Badan Usaha Setkab)

Opini Terbaru