Ingin Menangkan Persaingan, Pemerintah Utamakan Pendidikan Kejuruan

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 25 April 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 22.796 Kali
Seskab Pramono Anung, Menkeu Bambang Brodjonegoro, dan Mendag Thomas Lembong, berbincang sebelum memberikan keterangan pers, Senin (25/4) sore. (Foto: Humas/Jay)

Seskab Pramono Anung, Menkeu Bambang Brodjonegoro, dan Mendag Thomas Lembong, berbincang sebelum memberikan keterangan pers, Senin (25/4) sore. (Foto: Humas/Jay)

Presiden Joko Widodo dalam Rapat Terbatas mengenai tindak lanjut hasil kunjungan kerjanya ke Eropa (25/4), di Kantor Presiden, Jakarta, menyampaikan bahwa kedepan, negara yang akan memenangkan pertarungan dalam dunia persaingan atau kompetisi adalah negara yang mempunyai skills. Terkait hal itu, sebagaimana diungkapkan Sekretaris Kabinet Pramono Anung usai mengikuti ratas tersebut, Presiden memberikan arahan untuk adanya perubahan yang mendasar dalam sistem pendidikan di Indonesia dari pendidikan umum ke pendidikan kejuruan.

“Yang dulunya lebih mengutamakan bersifat general atau umum akan dikhususkan pendidikan yang bersifat kejuruan atau skill,” ujar Seskab kepada wartawan.
Beberapa Balai Latihan Kerja (BLK), lanjut Seskab, akan direhab, diperbaiki, dan dibuatkan sertifikasi atau mereka akan bisa mengeluarkan sertifikasi. Juga akan diberikan kemudahan untuk mendatangkan trainer yang mempunyai keahlian, terutama trainer-trainer dari luar.

“Nanti akan ada izin-izin yang dipermudah sehingga dengan demikian gerakan untuk menciptakan tenaga kerja yang mempunyai kemampuan skill ini akan menjadi secara masif akan dilakukan oleh pemerintah,” kata Mas Pram panggilan akrab Pramono Anung.

Di samping itu, lanjut Pramono, semua calon tenaga kerja yang akan dilatih, akan dilatih berdasarkan kebutuhan dari negara yang akan menerima yang bersangkutan, terutama di dalam persoalan bahasa.

“Tentunya yang mendasar mereka harus bisa bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, kemudian yang kedua adalah bahasa lokal di mana yang bersangkutan akan dikirim, apakah bahasa Arab, bahasa India, bahasa Cina, dan sebagainya-dan sebagainya,” kata Pramono. (DID/FID/ES)

Berita Terbaru