Investasi dan Perekonomian Indonesia

Oleh Alfurkon Setiawan
Dipublikasikan pada 18 Juni 2014
Kategori: Opini
Dibaca: 109.113 Kali

Oleh : Prof. Firmanzah, PhD, Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

firmansyah2aNaiknya peringkat investasi Indonesia ke level investment grade zone dengan outlook positif dan stabil yang disematkan oleh sejumlah lembaga pemeringkat internasional seperti The Fitch, Moodys, S&P, merupakan modal bagi kesinambungan pembangunan di masa mendatang. Indonesia kini di mata dunia menjadi destinasi investasi utama di tengah perlambatan ekonomi global sejak 2008.

Menariknya perekonomian nasional di tengah perlambatan ekonomi dunia mendorong para investor global untuk berinvestasi ke Indonesia. Realisasi investasi dalam 2 tahun terakhir tercatat melampaui target yang ditetapkan Pemerintah. Tahun 2012 realisasi investasi sebesar Rp.313 triliun dan tahun 2013 sebesar Rp 398,6 triliun. Pada triwulan 1 -2014, BKPM menyampaikan data realisasi investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp 106,6 triliun atau naik 14,6% dari periode yang sama tahun lalu. Pemerintah menargetkan investasi yang masuk  pada tahun 2014 sebesar Rp 456,6 triliun.

Menguatnya prospek ekonomi nasional dengan stabilitas yang terjaga, menjadi faktor yang menarik bagi para investor global untuk berinvestasi  ke Indonesia. Indonesia saat ini menjadi negara destinasi investasi utama yang menarik di saat sebagian besar negara berkembang lainnya menghadapi kontraksi ekonomi.Bahkan Jepang untuk pertama kalinya menempatkan Indonesia sebagai destinasi inevstasi utama menggeser Tiongkok yang selama ini dijadikan tujuan utama investor Jepang.

Di tahun Pemilu 2014 ini, perekonomian nasional diyakini akan terus melanjutkan tren penguatannya dengan lima hal mendasar. Pertama, realisasi investasi triwulan 1-2014 yang menembus rekor seperti yang dijelaskan di atas. Kedua,  tinggiya animo pasar terhadap perekonomian nasional juga terlihat dari derasnya arus modal masuk sepanjang Januari-Mei 2014 yang mencapai Rp. 130 triliun berdasarkan data Bank Indonesia. Ketiga, investasi di sektor pariwisata triwulan 1-2014 mencapai USD 130,13 juta atau meningkat lebih dari 200 pesen di banding triwulan 1-2013. Keempat, kinerja inflasi Mei yang terkendali sebesar 0,16 persen (mtm) atau 7,32 persen (yoy).Kelima, Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan I-2014 mencapai 101,95 yang mengindikasikan kondisi bisnis meningkat dari triwulan sebelumnya. BPS mencatat peningkatan ini disebabkan terjadinya peningkatan penggunaan kapasitas produksi/usaha (nilai indeks sebesar 102,74), rata-rata jumlah jam kerja (nilai indeks sebesar 102,07), dan pendapatan usaha (nilai indeks sebesar 101,43).Dan keenam, Indeks Tendensi Konsumen (ITK) nasional pada triwulan I-2014 mencapai 110,03 yang berarti kondisi ekonomi konsumen meningkat dibanding triwulan sebelumnya.Peningkatan ini disebabkan oleh semakin tingginya tingkat optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian menjelang Pilpres 9 Juli 2014.Peningkatan ekonomi konsumen terjadi di seluruh propinsi  (33 propinsi).

Semakin menariknya perekonomian nasional bahkan di tahun Pemilu ini telah mendorong para investor global untuk berinvestasi atau merelokasi investasinya ke Indonesia. Kepercayaan pasar dan investor global  terhadap iklim investasi di Indonesia terus meningkat menjadi barometer  penguatan fundamental serta stabilitas ekonomi nasional. Ini menjadi modal besar untuk mendorong sejumlah agenda pembangunan yang sedang berjalan saat ini.Aliran investasi yang masuk diharapkan dapat menopang kebutuhan pembangunan infrastruktur, industrialisasi, dan agenda pembangunan lainnya.

Menjelang Pilpres tanggal 9 Juli 2014, perekonomian nasional diharapkan dapat terus terjaga stabil dan positif tidak hanya sepanjang penyelenggaraan Pilpres tetapi juga paska Pilpres.Transisi kepemimpinan di tahun ini diharapkan dapat menjaga iklim investasi dan kondusifnya perekonomian nasional dalam beberapa tahun terakhir.Secara historis, sepanjang penyelenggaraan Pemilu 1999, 2004, dan 2009, perekonomian nasional menunjukkan kinerja yang positif. Pada Pemilu 1999, ekonomi nasional dapat tumbuh positif 0,79 persen setelah pada 1998 berkontraksi minus 13,8 persen. IHSG pada akhir 1999 tumbuh sebesar  70 persen dimana konsumsi masyarakat bertumbuh lebih dari 7 persen. Pada Pemilu 2004, pertumbuhan ekonomi berada pada level 5,13 persen dan IHSG meningkat hampir 50 persen akhir 2004 mencapai. Pemilu 2009, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai angka 4,6 persen walaupun tahun 2008 ekonomi dunia diperhadapkan pada krisis pasar keuangan global.Pada tahun 2009, Indonesia diklaim oleh dunia sebagai salah satu negara yang mampu memitigasi risiko krisis keuangan global 2008.Pertumbuhan IHSG pada akhir 2009 melonjak lebih dari 80 persen di banding tahun sebelumnya.

Pemerintah saat ini terus bekerja untuk menjaga dan meningkatkan stabilitas perekonomian nasional di tengah ekonomi global yang masih melambat. Pertumbuhan ekonomi tetap dijaga pada level yang positif, daya beli masyarkaat terjaga, inflasi dapat dikendalikan, kesehatan fiskal terjaga, kualitas penyerapan anggaran ditingkatkan, industrialisasi, mendorong ekspor barang bernilai tambah tinggi dan mempercepat pembangunan proyek-proyek infrastruktur.

Pemerintah terus mempertahankan kebijakan ekonomi yang disiplin dan prudent termasuk mempertahankan kinerja ekonomi di tahun Pemilu 2014.Kinerja perekonomian nasional bahkan berhasil melalui masa-masa sulit beberapa waktu lalu ketika tekanan ekonomi dunia banyak dirasakan negara berkembang lainnya. Daya beli masyarakat terus dipertahankan melalui sejumlah kebijakan sebagai bantalan baik dari sisi pasokan maupun permintaan.Termasuk di dalamnya menjaga dan menghindari terjadinya PHK akibat melemahnya permintaan global.Pembangunan infrastruktur terus dilakukan baik melalui pembiayaan APBN maupun skema kerjasama PPP.Terjaganya inflasi dan kelentingan ekonomi nasional yang tinggi telah mendorong penguatan sejumlah indikator yang dijelaskan di atas.

Menjelang Pilpres dan sepanjang tahun transisi kepemimpinan nasional, kita tetap berharap stabilitas ekonomi nasional dapat  terjaga dengan baik. Berkaca pada data  historis di pemilu-pemilu sebelumnya, ekonomi nasional diyakini terus menguat di tahun pemilu ini dan semakin membaik di masa-masa mendatang. Saya percaya dan berkeyakinan, perekonomian nasional akan melanjutkan tren penguatannya di tahun pemilu ini bahkan paska transisi kepemimpinan nasional. Saya optimistis, siapapun Presiden yang terpilih pada 9 Juli 2014 nantinya akan berkomitmen besar untuk menjaga dan mempertahankan stabilitas dan kinerja perekonomian nasional saat ini. Komitmen ini tentunya merupakan bagian dari komitmen politik bagi kesinambungan pembangunan nasional ke depan. Dengan demikian, para investor  dan pelaku usaha tidak perlu merisaukan keberlanjutan pembangunan ekonomi nasional. Iklim investasi di Indonesia ke depan akan semakin membaik ditopang oleh stabilitas dan menguatnya fundamental ekonomi nasional.

Opini Terbaru