Jadi Arah Kerja sama, Pertemuan Para Menteri IORA Hasilkan Draft Jakarta Concord

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 6 Maret 2017
Kategori: Berita
Dibaca: 21.352 Kali
Menlu Retno Marsudi didampingi Menlu Australia (Julie Bishop, kanan), dan Menlu Afsel Maite Nkoana Mashabane seusia menjelaskan hasil pertemuan para Menlu IORA, di JCC Jakarta, Senin (6/3) siang. (Foto: Jay/Humas)

Menlu Retno Marsudi didampingi Menlu Australia Julie Bishop (kanan), dan Menlu Afsel Maite Nkoana Mashabane (kiri) seusai menjelaskan hasil pertemuan para Menlu IORA, di Jakarta Convention Center (JCC), Senin (6/3) siang. (Foto: Jay/Humas)

Pertemuan para pejabat setingkat menteri negara-negara anggota Indian Ocean Rim Association (IORA) telah menghasilkan beberapa kesepakatan, di antaranya dihasilkannya dokumen di antaranya Jakarta Concord, juga Rencana Aksi IORA yang memuat aksi konkret untuk melaksanakan Jakarta Concord, dan Deklarasi IORA untuk Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme dan Ekstremisme.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan, Jakarta Concord yang merupakan dokumen utama hasil pertemuan IORA, berisi panduan teknis IORA ke depan dalam menghadapi tantangan di kawasan, diharapkan akan memberikan arah yang jelas bagi kerja sama antarnegara anggota Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia (IORA) di masa depan.

“Jakarta Concord memuat panduan yang menambah dan menguatkan kerja sama IORA. Selain menambah 6 isu utama, Jakarta Concord juga mendorong tiga isu baru yang penting untuk kerja sama di masa mendatang, antara lain blue economy, pemberdayaan perempuan, dan promosi demokrasi,” kata Retno Marsudi dalam konferensi pers di Ruang Cendrawasih 1, Jakarta Convention Center (JCC), Senin (6/3) siang.

Pertemuan para menteri IORA, lanjut Menlu, juga menghasilkan kesepakatan untuk  mengadopsi rencana aksi IORA yang memuat langkah konkret dan pengukuran, dimana para anggota IORA akan mengimplementasikan komitmen dari Jakarta Concord dalam empat kelompok kerja. Keempat kelompok itu adalah  di  keselamatan dan keamanan maritim, pariwisata dan pertukaran budaya, blue economy, dan pemberdayaan perempuan.

Pertemuan ini, lanjut Menlu, juga mengadopsi deklarasi IORA pertama untuk Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme dan Ekstremisme dengan Kekerasan.  “Ini adalah komitmen bersama dari anggota IORA untuk melawan ancaman terorisme dan ekstremisme dengan kekerasan melalui kerja sama dan dialog, dan sharing dari expertise, best practice dan lesson learned. Selain juga mendorong pesan moderasi dan toleransi,” ujarnya.

Sebagai bangsa maritim, Menlu Retno Marsudi mengemukakan, Indonesia memainkan peran penting di samudera Hindia. Sejak 2015, Indonesia telah menguatkan kerja sama keamanan dan stabilitas untuk mengembangkan infrastruktur maritim, mendekatkan negara, memperbaiki manajemen bencana dan menguatkan kebiasaan dialog dan diplomasi di kawasan ini.

Menlu percaya bahwa usaha ini merefleksikan Jakarta Concord dan sejalan dengan tujuan IORA untuk mendorong kesejahteraan ekonomi.

Saat memberikan keterangan pers itu, Menlu Retno Marsudi didampingi oleh Menteri Luar Negeri Afrika Selatan (Afsel) Maite Nkoana Mashabane, dan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop.

Dalam kesempatan ini, Retno juga menyampaikan bahwa ini adalah kesempatan unik dimana 3 perempuan memimpin the council of minister di IORA. Selain itu, isu pemberdayaan perempuan menjadi salah satu isu utama yang dibahas dalam IORA ini.

Penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) dimaksudkan untuk meningkatkan komitmen negara-negara anggota IORA untuk menciptakan keamanan dan stabilitas kawasan demi kesejahteraan bersama.

KTT IORA yang mengangkat tema “Strengthening Maritime Cooperation for a Peaceful, Stable, and Prosperous Indian Ocean” ini merupakan pertemuan IORA tingkat Kepala Negara/Pemerintahan yang pertama kali diselenggarakan sejak didirikan 20 tahun yang lalu.

KTT ini dihadiri oleh 21 negara anggota IORA, 7 mitra wicara IORA, dan sejumlah organisasi internasional dan negara tamu yang memiliki ikatan kuat dengan Samudra Hindia. (RMI/JAY/ES)

 

Berita Terbaru