Jadi Musuh Bersama, Pemerintah Konsolidasikan Kekuatan Untuk Netralisasi Terorisme

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 22 Mei 2018
Kategori: Berita
Dibaca: 18.607 Kali
Menko Polhukam Wiranto menyampaikan hasil rapat terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (22/5) sore. (Foto: JAY/Humas)

Menko Polhukam Wiranto menyampaikan hasil Rapat Terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (22/5) sore. (Foto: Humas/Jay)

Menteri Koordinator (Menko) bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Wiranto mengemukakan, bahwa yang dihadapi Indonesia saat ini adalah aksi terorisme yang prosesnya tidak tiba-tiba. Prosesnya panjang, tambah Menko Polhukam, mulai dari proses rekrutmen, brainwashing, pelatihan, dan ajakan.

“Sehingga ada satu ujung dari proses itu, yaitu aksi-aksi yang dilaksanakan, terorisme,” kata Wiranto kepada wartawan usai mengikuti Rapat Terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (22/5) sore.

Oleh karena itu, jelas Menko Polhukam, sebenarnya terorisme itu hidup di kalangan dan bersumber di kalangan masyarakat. Ia menambahkan bahwa para teroris itu hidup bersama-sama dengan masyarakat dalam seluruh aspek kehidupan.

Melihat kondisi seperti itu, menurut Wiranto, tentu menghadapinya juga secara bersama-sama. “Terorisme adalah musuh bersama, bukan musuh polisi, bukan musuh TNI saja, tapi musuh seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Menko Polhukam Wiranto mengingatkan, yang menjadi korban dari aksi terorisme juga rakyat, karena yang dilakukan adalah menakuti, mengancam rakyat, dan bahkan membunuh rakyat.

Dalam kesempatan itu, Menko Polhukam menekankan, harus ada satu sinkronisasi dan koordinasi di seluruh komponen bangsa dalam menghadapi aksi terorisme bersama-sama.

Di lingkungan Kemenko Polhukam, menurut Wiranto, telah ada satu tekad untuk mengonsolidasikan dan mengoordinasikan seluruh kekuatan serta menyinkronkan kegiatan dari semua kementerian/lembaga sesuai dengan porsi masing-masing untuk menetralisasi kegiatan terorisme dari awal sampai ujung.

“Dari mulai kutub yang paling awal yaitu proses rekrutmen, kaderisasi, brainwash, sampai paling ujung yaitu aksi mereka. Itu yang kita bicarakan, kita sinkronkan sehingga kita mengharapkan kesadaran masyarakat bahwa kita harus menghadapi terorisme itu secara bersama-sama, secara menyeluruh,” terang Wiranto.

Yang penting, tegas Menko Polhukam, adalah bagaimana mengamankan perhelatan nasional yang segera akan digelar pada tahun ini dan tahun depan. Ia mencontohkan ada Asian Games, pilkada serentak, kemudian perhelatan IMF di Bali. Agenda selanjutnya, lanjut Wiranto, tahun depan ada pemilihan legislatif dan pemilihan presiden.

“Semuanya adalah event-event penting yang harus kita amankan bersama. Karena itu merupakan suatu proses demokrasi yang menjadi milik bangsa yang harus kita amankan bersama,” tegas Wiranto. (MAY/ES)

Berita Terbaru