Jangan Sampai Produk Luar Masuk Ilegal, Presiden Jokowi Minta TNI Awasi Pelabuhan

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 16 Desember 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 22.056 Kali
Presiden Jokowi dan sejumlah menteri berfoto bersama para peserta Rapim TNI, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Rabu (16/12)

Presiden Jokowi dan sejumlah menteri berfoto bersama para peserta Rapim TNI, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Rabu (16/12)

Pada bagian lain arahannya di hadapan sekitar 180an perwira tinggi (Pati) Tentara Nasional Indonesia (TNI), Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan perlunya kita berani melakukan sebuah tranformasi, sebuah perubahan, dari konsumsi ke produksi, dari konsumsi ke investasi.

“Kita tidak boleh lagi menumpukan pertumbuhan ekonomi kita pada konsumsi. Kita harus menyiapkan bangsa kita sebagai sebuah basis produksi. Memang di awal-awal pahit, saya tahu, di awal-awal pahit,” kata Presiden Jokowi saat memberikan arahan pada rapat pimpinan (Rapim) TNI, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Rabu (16/12).

Diakui Presiden Jokowi, pada awal-awal pasti banyak tantangan. Tetapi itu adalah sebuah pilihan yang harus kita ambil untuk masa depan kita.

Menurut Presiden Jokowi, kita tidak bisa lagi menjual bahan-bahan mentah. Tidak, harus minimal setengah jadi, pada tahap berikut barang jadi. Ia menyebutkan, nilai tambahnya kalau setengah jadi itu bisa 30-40 kali lipat, sementara kalau jbarang jadi bisa di atas 100 kali lipat nilai tambahnya, added value-nya.

Presiden mengingatkan, penduduk kita 250 juta, yang semuanya butuh pekerjaan, butuh income. Kalau kita berjualan bahan mentah, ingat tahun 70-an saat kita pernah booming minyak, harusnya pondasi itu bisa dibangun. Booming kayu pernah, gelondongnya habis, kayunya habis, kitanya dapat 5 dolar perkubik, yang terjadi kita sekarang dapat banjirnya.

Ia lantas mengingatkan juga mengenai mineral dan batubara (minerba), yang sudah sekian tahun ini diekspor mentah-mentahan, dalam bentuk raw, harus mulai diproduksi.

“Ndak bisa. Bisa setengah jadi, dan akan kita paksa lagi pada tahapan berikut barang jadi. Karena nilai tambah ada di situ. Dan juga jangan sampai kita menjadi pasar barang produk-produk negara lain,” tegas Presiden Jokowi.

Kepada para perwira TNI yang mengikuti Rapim itu, bersama-sama dengan Polri dan Bea Cukai, Presiden Jokowi menitipkan, agar mengawasi, jangan sampai produk-produk dari luar masuk secara ilegal.

“Kita banyak sekali produk-produk seperti itu yang masuk secara ilegal. Ini bisa menghancurkan produksi di dalam negeri. Barang masuk secara legal saja bisa melibas produksi kita, apalagi yang ilegal,” tutur Presiden Jokowi seraya menyebutkan, kesulitan kita adalah, kita mempunyai ribuan pelabuhan, kecil, sedang, maupun besar, yang itu perlu pengawasan.

Untuk itu, Presiden Jokowi mengingatkan agar ini diperintahkan sampai jajaran paling bawah, baik nantinya berupa informasi, baik nantinya dalam bentuk sebuah perintah langsung agar penjagaan terhadap produk-produk ilegal ini betul-betul dikawal.

“Apabila kita lengah terhadap hal-hal yang tadi saya sampaikan, kita bisa ditinggal dan tertinggal, dan bisa tergulung oleh perubahan-perubahan yang tadi saya sampaikan,” kata Presiden Jokowi.

Presiden menekankan sekali lagi, agar tidak perlu takut menghadapi integrasi ekonomi regional maupun global, tetapi kita harus memiliki strategi dalam mengelola hubungan Indonesia dengan negara-negara lain terutama negara-negara besar.

Disamping itu, lanjut Presiden, kita harus bisa menjaga independensi, menjaga otonomi strategis kita, sehingga ke depan yang namanya fleksibilitas, kelincahan, kecepatan negara dalam menghadapi setiap perubahan dunia itu harus betul-betul disiapkan.

Rapat Pimpinan TNI yang mengambil tema “Meningkatkan loyalitas, moralitas dan integritas sebagai landasan dalam mewujudkan TNI yang kuat, hebat, profesional dan dicintai rakyat” itu dihadiri oleh Menko Polhukam Luhut B Panjaitan, Menlu Retno Marsudi, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Mentan Andi Amran Sulaiman, KSAD Jenderal TNI Mulyono, KSAU Marsekal TNI Agus Supriatna, dan KSAL Laksamana TNI Ade Supandi.(DND/AGG/ES)

 

 

Berita Terbaru