Kaltim Hadapi Masalah Gizi Ganda

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 4 Desember 2014
Kategori: Nusantara
Dibaca: 19.814 Kali

KaltimPemerintahan Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) terus berupaya meningkatkan perannya menyikapi berbagai tantangan pembangunan di bidang kesehatan, terutama menghadapi masalah gizi ganda, yakni masalah kekurangan gizi, dan masalah kelebihan gizi.

“Meskipun banyak kemajuan yang dicapai dalam bidang kesehatan, akan tetapi Kaltim masih menghadapi masalah gizi ganda. Masalah kurang gizi masih menjadi isu penting, sementara gizi lebih mulai meningkat,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim Rini Sukesih saat sebelum membuka seminar gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI), di ruang rapat gubernuran selasa (2/12).

Menurut Rini, kondisi tersebut menunjukan makanan yang dikonsumsi masyarakat Kaltim belum sesuai kebutuhan. Makanya perlu upaya mengantisipasi masalah gizi ganda dimaksud, bagaiamana masyarakat bisa memberikan asupan ideal, sehingga peningkatan gizi masyarakat terpenuhi namun tidak berlebihan.

Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan menunjukan, status gizi balita Kaltim menurun dari 2010, 17,1 persen menjadi 16,6 persen pada 2013. Demikian ibu hamil dengan kekurangan asupan gizi menurun dari 27 persen pada 2010 menjadi 24,2 persen pada 2013.

Kemudian prevalensi balita pendek (kesesuaian perbandingan tinggi badan dengan umur) menurun menjadi 27, 6 persen pada 2013 dibanding 2010 yang mencapai 29,1 persen, serta balita kurus dari 2010,  12,9 persen menjadi 11,6 persen pada 2013.

Sebaliknya, balita gemuk terjadi peningkatan, dari 9,6 persen pada 2010 menjadi 12,6 persen pada 2013. Termasuk kalangan dewasa yang menujukan peningkatan tingkat obesitas masyarakat menjadi 20,6 persen atau jauh dari tingkat obesitas nasional yang hanya 14,8 persen.

“Ini dirasa suatu kondisi yang harus diantisipasi. Kondisi tersebut turut menjadi faktor penyumbang peningkatan angka kematian akibat penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan stroke. Semuanya berhubungan erat dengan pola konsumsi paket, menyangkut jumlah dan mutu keamanan pangan yang dikonsumsi,” kata Rini Sekesih. Masalah kekurangan asupan gizi seimbang yang secara tidak langsung berdampak kekurangan zat mikro seperti zat besi, asupan zink, asam polat, iodium, serta vitamin B1 dan B12  dapat menyebabkan anemia, maupun mengganggu perkembangan fisik dan mental anak.

Sedangkan untuk orang dewasa, kekurangan asupan gizi seimbang dapat menyebabkan kelelahan, kurangnya daya tahan tubuh, serta menurunkan produktivitas kerja.

“Pelaksanaan seminar ini mengindikasikan masih perlu penanganan besar bidang peningkatan gizi masyarakat. Masukan yang diperoleh diharap mempercepet pencapaian target MDGs 2015 berkaitan peningkatan gizi masyarakat yang tentunya merupakan komitmen lintas sektor, termasuk Pemprov Kaltim,” tukas Kepala Dinas Kesehatan Kaltim itu.(humas pemprov kaltim/es)

Nusantara Terbaru