Kecam Aksi Teror di Paris, Kemlu Ingatkan WNI Yang Ke Eropa Agar Hati-Hati

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 10 Januari 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 124.245 Kali

SanderaPemerintah Republik Indonesia (RI) melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengecam aksi terorisme dalam bentuk penyanderaan di sebuah toko kelontong bernama Hyper Cache, di Paris, Perancis, Jumat (9/1) yang mengakibatkan 5 (lima) orang tewas termasuk penyandera dan 4 (empat) lainnya luka parah itu.

“Indonesia mengecam tindakan terorisme di #Paris yang menewaskan 4 sandera,” bunyi kultwit pernyataan Kemlu RI melalui akun@Portal_Kemlu beberapa saat lalu.

Pernyataan itu merujuk pada peristiwa aksi kepolisian Perancis dalam menghentikan aksi terorisme yang terjadi di toko kelontong halal Yahudi (kosher) di Vicennes, Paris, dan telah berlangsung beberapa jam, Jumat (9/1). Dalam peristiwa ini, 4 (empat) orang penyandera tewas, sementara seorang sandera tewas, dan 4 (empat) lainnya luka parah.

Aksi penyanderaan di sebuah tokoh kelontong itu diduga terkait dengan aksi terror sebelumnya, yaitu kantor majalah Charlie Hebdo di Paris yang menewaskan 12 orang, dan penembakan seorang polwan dan pegawai negeri.

Warning WNI

Terkait dengan dua aksi terorisme yang berturutan terjadi di Paris, Perancis itu, Kementerian Luar Negeri memberikan peringatan (travel warning) kepada Warga Negara Indonesia (WNI) yang sedang bepergian ke Perancis atau negara-negara Eropa lainnya agar berhati-hati.

“WARNING kepada WNI yang akan bepergian ke Perancis & negara Eropa lainnya: Hati2 & cepat hubungi KBRI/Perwakilan RI terdekat jika terjadi sesuatu,” bunyi travel warning Pemerintah RI yang disiarkan melalui situs website Kemlu RI (www.kemlu.go.id) dan akun twitter @Portal_Kemlu beberapa saat lalu.

Kepada WNI di Perancis, Kemlu RI mengingatkan agar terus waspada dan hubungi KBRI #Paris dan KJRI Marseilles apabila butuh bantuan.

Sejauh ini menurut Kemlu, berdasarkan konfirmasi dengan pihak Kepolisian Paris, tidak ada korban di pihak WNI terkait aksi terorisme di Paris dalam tiga hari terakhir. (ES)

Berita Terbaru