Kondisi Masih Parah, Pemerintah Tambah 15 Pesawat Untuk Padamkan Kebakaran Hutan

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 21 Oktober 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 24.042 Kali
Menteri LHK Siti Nurbaya didampingi Menko Polhukam, Seskab, Kapolri, Panglima TNI, dan Kepala BNPB menyampaikan keterangan pers terkait hasil rapat terbatas penanggulangan bencana kabut asap, di kantor Presiden, Jakarta, Selasa (20/10) malam

Menteri LHK Siti Nurbaya didampingi Menko Polhukam, Seskab, Kapolri, Panglima TNI, dan Kepala BNPB menyampaikan keterangan pers di kantor Presiden, Jakarta, Selasa (20/10) malam

Pemerintah menilai bahwa perkembangan kondisi daerah-daerah yang terkena kebakaran hutan dan lahan hingga saat ini masih cukup parah, dan diperlukan langkah-langkah massif. Oleh karena itu, rapat terbatas yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk menambah jumlah pesawat terbang yang akan dilibatkan dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, baik di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, maupun Papua.

Menko Polhukam Luhut B. Pandjaitan yang terakhir kali melihat kondisi di OKI (Sumsel) bersama Willem Rampangilei (Kepala BNPB), Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengaku melihat bahwa kekeringan ini masih berlanjut cukup parah dan terasa sekali hawa sangat panas, kering.

“Kita naik helikopter melihat tadi. Tingkat kebakaran masih cukup parah sehingga dari hasil keliling kami dengan helikopter selama lebih 1,5 jam di beberapa titik kami melihat bahwa langkah-langkah yang harus dilakukan harus lebih massif,” kata Luhut kepada wartawan seusai rapat terbatas di kantor Kepresidenan, Jakarta, Selasa (20/10) malam.

Untuk itu, jelas Luhut, sudah diputuskan oleh rapat kabinet terbatas kita akan menambah pesawat terbang untuk penanggulangan kebakaran ini baik yang di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, maupun Papua. Mungkin akan ditambah sampai 15 pesawat terbang.

“Mungkin kita hitung nanti tepatnya kira-kira antara 10-15. Nanti kita akan minta, dengan pengalaman dari BNPB, kita melihat beberapa tipe pesawat yang akan kita pakai: air tractor, kemudian pelican (itu bombardier), kemudian BE200 dari Rusia. Kalau tiga pesawat ini datang, mungkin kalau bisa kita operasikan di daerah Sumatera selatan dalam waktu 10 hari ke depan, saya kira akan mampu membatasi keganasan api yang ada di sana,” kata Luhut.

Begitu juga yang ada di Kalimantan Tengah, menurut Menko Polhukam, juga mengalami  masalah yang besar. Ia menyebutkan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah mengirim pesawat kesana, tambahan tapi masih kurang.

“Tapi memang kita punya pesawat sekarang kurang. Bantuan yang dari luar negeri, dari Australia sudah kembali ke Australia, yang dari Malaysia juga sudah kembali. Tapi kita, untuk Malaysia sudah kita minta lagi, kalau bisa untuk datang lagi,” terang Luhut.

Menurut Menko Polhukam,  pesawat Pelican Bombardier itu sangat efektif. Pemerintah sudah siap, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya sudah memesan, paling tidak 5 pesawat air tractor sudah datang.

“Kita berharap mungkin 10 pesawat lagi kita dapatkan nanti BE200 dan mungkin juga nanti Pelican Bombardier mungkin bisa 5 atau lebih dari itu. Kita akan coba dari Kanada, kita coba Rusia, kita coba dengan Australia, atau tempat lain yang bisa memberikan pesawat yang bagus,” terang Luhut.

Menko Polhukam menegaskan, bahwa komando penanggulangan kebakaran hutan dan lahan sejauh ini masih tetap terpadu dan terkendali dengan bagus. TNI dan Polri telah melakukan operasi darat, mereka kerja.

“Kalau kita lihat mereka kerja dan kalau anda lihat bagaimana besarnya api dan bagaimana mereka bergulat dengan keadaan asap, dan mereka membuat kanal-kanal blocking. Menurut saya suatu pekerjaan yang sangat melelahkan dan juga berbahaya,” papar Luhut seraya menyebutkan, bahwa mereka sudah satu bulan lebih meninggalkan pasukannya dan Panglima TNI sudahimengatakan mereka akan melakukan rotasi karena sudah terlalu lama mereka terekspose dengan keadaan atau environment yang tidak bersahabat.

Sangat Berat

Sementara itu Menteri Lingkungan Hidup Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan, kalau dilihat dari titik api atau hotspot kemarin ham 06.00 WIB itu ada  392 se-Indonesia dan 56 di Sumsel. Kemudian kemarin, Senin (19/10) pukul 18:25 ada 2.438, dan di Sumsel pada saat itu tercatat 513. Lalu Selasa (20/10) pukul 10.00 WIB tercatat seluruh Indonesia 1.678 dan khusus Sumsel-nya 809.

“Kondisi di lapangannya memang sangat berat, asapnya bergulung-gulung dan apinya sangat dahsyat. Malahan catatan tadi, pada hari Sabtu itu apinya seperti bergerak baik dari bawah maupun dari atas, bergeraknya luar biasa,” terang Siti.

Kemudian, di Kalteng cukup berat dan Papua serta Sulawesi sehingga atensi dari pemerintah tadi selain Sumatera Selatan yang menjadi fokus, karena kondisi yang sangat berat, Pemerintah juga memberikan atensi untuk Kalimantan Tengah dan Papua serta Sulawesi.

Terkait dengan masih adanya upaya-upaya untuk melakukan land clearing atau pembersihan lahan oleh swasta atau di lahan-lahan swasta dan masyarakat, menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, dalam rapat terbatas telah dibahas untuk mempersiapkan revisi Undang-Undang 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada pasal 69 bagian penjelasan.

(UN/RAH/ES)

Berita Terbaru