KPPU Temukan Kartel Beras Dan Daging, Presiden Jokowi Dukung Cabut Izin usaha

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 13 November 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 25.962 Kali
Ketua KPPU Syarkawi Rauf menjawab wartawan seusai diterima Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (13/11)

Ketua KPPU Syarkawi Rauf menjawab wartawan seusai diterima Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (13/11)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendukung langkah Komisi Persaingan Usaha (KPPU) yang merekomendasikan pencabutan izin usaha bagi perusahaan yang melakukan praktek kartel, dan melakukan pengurangan pasokan komoditi penting ke pasar, sehingga mengakibatkan tingginya harga.

“Respon beliau sangat mendukung upaya-upaya KPPU untuk melakukan penegakan hukum di bidang pangan,” kata Ketua KPPU Syarkawi Rauf kepada wartawan usai diterima Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (13/11) pagi.

Dalam pertemuan dengan Presiden Jokowi itu, KPPU melaporkan hasil pantauannya di 11 provinsi sentra produksi beras nasional, baik yang ada di Sumatera, Jawa, sampai Papua. Hasilnya di setiap provinsi KPPU menemukan adanya 5 (lima) pemain besar.

“Pemain-pemain besar inilah yang menentukan harga,” kata Syarkawi seraya menyebutkan, dampak dari persekongkolan itu beras menjadi langka di pasaran, dan harganya melonjak tinggi.

Ia menegaskan, kalau ada tindakan yang mengarah ke anti persaingan, maka sesuai perundangan yang berlaku, KPPU akan melakukan tindakan langsung.

Sesuai arahan Presiden, lanjut Syarkawi, KPPU akan menjatuhkan sanksi administrasi, dan merekomendasikan pencabutan izin usaha perusahaan yang bersangkutan.

Daging

Khusus untuk komodisi daging, Ketua KPPU Syarkawi Rauf mengatakan bahwa pihaknya sudah menyidangkan 32 perusahaan yang diduga melakukan kartel daging sapi.

“Dua bulan ke depan akan ada keputusan resmi dari KPPU mengenai dugaan kartel daging sapi,” kata Syarkawi.

Ditambahkan Syarkawi, bahwa perusahaan tersebut berasal dari dalam negeri tetapi menjalin hubungan dengan perusahaan asing.

Perusahaan tersebut, jelas Syarkawi, bersekongkol untuk menahan pasokan daging sapi hingga sampai ke rumah potong hewan. (WID/OJI/ES)

Berita Terbaru