KTT ASEAN – AS, Presiden Jokowi Sampaikan Masalah Laut China Selatan Hingga Perubahan Iklim

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 22 November 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 23.984 Kali
Presiden AS Barack Obama bertemu dengan para pemimpin negara ASEAN, dalam KTT ASEAN - AS, di Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (21/11). Foto: Cahyo/Setpres

Presiden AS Barack Obama bertemu dengan para pemimpin negara ASEAN, dalam KTT ASEAN – AS, di Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (21/11). Foto: Cahyo/Setpres

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan sejumlah masalah, dari Laut China Selatan, perubahan iklim, illegal fishing, hingga masalah kemajemukan dan moderasi pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-3 ASEAN – Amerika Serikat, di Kuala Lumpur Convention Center, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (21/11) kemarin.

Presiden Jokowi menilai kemitraan strategis ASEAN-Amerika Serikat (AS) yang sudah terjalin selama hampir 40 tahun menunjukkan semakin kokohnya hubungan ASEAN-AS.  Kemitraan tersebut, menurut Presiden Jokowi, harus mampu berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan. Salah satunya adalah dengan menjaga agar kawasan Laut Cina Selatan harus tetap damai dan stabil.

Untuk itu, Presiden berpendapat, semua pihak harus mencegah kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan tensi, mengutamakan mood of cooperation daripada mood of rivalries, menghormati hukum internasional dan kebebasan navigasi.

Hal kedua yang disampaikan Presiden terkait kemitraan ASEAN-AS adalah perlunya peningkatan kerjasama penanganan perubahan iklim.  “Kemitraan ASEAN-AS perlu diarahkan pula untuk pencapaian komitmen masing-masing Negara terhadap isu perubahan iklim,” kata Presiden Jokowi.

Selain itu, Presiden  Jokowi juga berpendapat bahwa COP 21 di Paris harus sukses, disamping komitmen setiap negara perlu dikedepankan.

Pada kesempatan ini, Presiden Jokowi kembali menegaskan komitmen Indonesia untuk mengurangi 29% emisi di bawah business as usual pada tahun 2030. “Pengurangan dapat mencapai 41% dengan kerja sama internasional,” ucap Presiden.

Terkait masalah Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing (IUU Fishing), Presiden Jokowi berharap kemitraan ASEAN-AS ini dapat ditujukan bagi pemberantasan IUU Fishing.

Presiden menyampaikan bahwa Indonesia yang dua pertiga wilayahnya adalah lautan, akibat IUU, selama bertahun-tahun mengalami kerugian sebanyak 3 juta ton ikan atau senilai Rp 300 triliun hilang setiap tahunnya.

“IUU Fishing terbukti pula berkaitan dengan drugs trafficking, people smuggling, slavery dan kejahatan trans-nasional lainnya,” tegas Presiden Jokowi.

Dalam kesempatan itu  Presiden Jokowi juga menyambut baik kepemimpinan AS dalam pelaksanaan pertemuan mengenai masalah Suriah di Wina, Austria, pada Oktober lalu. Menurut Presiden, untuk mendapatkan solusi terbaik atas masalah Suriah, diperlukan pendekatan bersama (unified approach).

Presiden Jokowi menyerukan pentingnya menanamkan nilai-nilai kemajemukan, toleransi, dan moderasi. Presiden juga mendorong kerjasama peningkatan kerjasama guna memerangi aksi terorisme dan ekstrimisme.

Terakhir, Presiden menyampaikan apresiasi atas dukungan AS terkait prakarsa Indonesia mengenai draft EAS Statement on Enhancing Regional Maritime Cooperation. “Bersama kita upayakan agar draft tersebut dapat disetujui semua Negara EAS,” katanya.

KTT ke-3 ASEAN – AS itu dihadiri oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama, PM Malaysia Najib Abdul Razak selaku Ketua ASEAN dan Kepala Negara/Kepala Pemerintahan Negara di ASEAN. (TKP/ES)

Berita Terbaru