Kunjungan ke Kantor Pusat PT. PLN (Persero), 5 Agustus 2019, di Kantor Pusat PT. PLN (Persero), Kebayoran Baru, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 5 Agustus 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 79 Kali

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pagi hari ini saya datang ke PLN, yang pertama saya ingin mendengar langsung, peristiwa pemadaman total minggu kemarin. Dan dalam sebuah manajemen besar seperti PLN ini mestinya menurut saya ada tata kelola risiko-risiko yang dihadapi. Dengan manajemen besar tentu saja ada contingency plan, ada backup plan. Pertanyaan saya, kenapa itu tidak bekerja dengan cepat dan dengan baik?

Saya tahu peristiwa seperti ini pernah kejadian di tahun 2002, tujuh belas tahun yang lalu untuk Jawa dan Bali. Mestinya itu bisa dipakai sebuah pelajaran kita bersama, jangan sampai kejadian yang sudah pernah terjadi itu kembali terjadi lagi. Kita tahu ini tidak hanya bisa merusak reputasi PLN tetapi juga banyak hal di luar PLN yang terutama konsumen sangat dirugikan. Pelayanan transportasi umum misalnya juga sangat berbahaya sekali, MRT misalnya.

Oleh sebab itu, pagi hari ini saya ingin mendengar langsung, tolong disampaikan yang simpel-simpel saja. Kemudian kalau memang ada hal-hal yang kurang yang blak-blakan saja sehingga bisa diselesaikan masalah dan tidak terjadi lagi untuk masa-masa yang akan datang.

Saya silakan.

Pelaksana Tugas Direktur Utama PT PLN (Persero) (Sripeni Inten Cahyani)
Baik. Terima kasih. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden yang berkenan hadir. Dan atas nama direksi kami mohon maaf atas kejadian hari Minggu, 4 Agustus 2019.

Mohon izin Pak Presiden, kami laporkan bahwa pada sistem kelistrikan di Jawa-Bali ini terdapat dua sistem yaitu sistem Utara dan sistem Selatan. Di mana sistem transmisi ini ada masing-masing adalah dua sirkuit. Jadi dua sirkuit di Utara dan dua sirkuit di Selatan, jadi ada totalnya adalah empat sirkuit atau empat jaringan.

Yang menjadi backbone yaitu jaringan 500 KV, Bapak. Jaringan 500 KV yaitu kalau dari Utara adalah Rembang kemudian Ungaran-Mandiraja, dan kemudian yang Selatan adalah dari Kediri-Pedan-Kasugihan, dan kemudian Tasik. Dua-duanya adalah 500 KV, dua sirkuit.

Nah kemudian, yang terjadi pada hari Minggu posisinya adalah sebagai berikut, Pak. Jadi di Utara, pada titik di jaringan Ungaran-Pemalang, itu di Kecamatan Gunungpati terjadi gangguan, di mana gangguan pertama terjadi pada pukul 11.48 dan kemudian sirkuit yang kedua juga mengalami gangguan. Jadi dua line terjadi gangguan. Nah kemudian secara otomatis pasokan listrik dari Timur ke Barat, ini dalam rangka efisiensi Bapak, jadi pasokan listrik murah itu ditransfer dari Timur ke Barat.

Nah salah satu mitigasi yang telah dilakukan oleh kami dalam hal ini di RUPTL adalah membangun PLTU-PLTU, yang dalam hal ini murah, ada di pusat beban yaitu di wilayah Barat dan itu sekarang sedang berjalan. Salah satunya yang sudah akan beroperasi COD pada tahun ini adalah Jawa 7, Bapak. Seribu mega akan masuk di tahun 2019 ini, dan kemudian 2020 seribu mega lagi. Selanjutnya 2023 akan ada seribu mega dari Suralaya 9, dan kemudian 2024 seribu mega lagi Suralaya 10.

Dari kondisi seperti itu maka secara otomatis transfer daya dari Timur ke Barat itu sebesar dua ribu mega, itu kemudian pindah jalur Pak, menuju ke jalur Selatan. Nah pada waktu hari Minggu, ini sudah menjadi satu rutin, Pak, hari Minggu itu beban rendah, sehingga kami PLN melakukan perbaikan-perbaikan atau pemeliharaan jaringan. Kemudian yang dipelihara adalah yang di Selatan, Bapak. Di Kediri, Pedan, dan Kasugihan itu dilakukan pemeliharaan satu sirkuit, sirkuit yang pertama sehingga itu tinggal satu sirkuit saja.

Pada waktu pindah dari Ungaran kemudian ke Pedan dan kemudian ke Kasugihan dan Tasik, inilah kemudian membuat guncangan di dalam sistem. Guncangan ini kemudian secara proteksi, secara pengamanan, sistem ini kemudian melepas, Pak. Yang dilepas adalah Kasugihan-Tasik. Jadi Kasugihan-Tasik kemudian melepas, lepas dari sistem sehingga aliran pasokan daya dari Timur ke Barat mengalami putus.

Di Timur, masih bertegangan Pak. Jadi pada pukul 11.48 itu kondisi sistem kelistrikan di Jawa Timur dan Bali, dan kemudian Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah normal, Bapak. Nah kemudian karena lepas, maka tegangan turun, Pak. Karena tegangan turun maka secara proteksi pembangkit-pembangkit yang ada di sistem Barat itu mengalami proteksi melepaskan diri dari sistem. Karena frekuensinya kemudian drop sampai mencapai 46 hertz dan kemudian ini secara proteksi kesisteman mesin-mesin pembangkit melepaskan diri.

Dari melepaskan diri inilah kemudian upaya yang dilakukan PLN adalah memaksimalkan bagaimana perbaikan atau proses transfer dari Timur ke Barat itu tetap berjalan. Sedikit demi sedikit berjalan waktu Pak, memang kami mohon maaf Pak, prosesnya lambat. Kami akui Pak prosesnya lambat.

Kami mengharapkan sebenarnya sudah masuk untuk ke Suralaya kembali, masih dalam posisi hot start, artinya kalau PLTU masih bertegangan sedikit kemudian tidak mati sama sekali dia tidak dalam kondisi dingin sehingga hanya memerlukan waktu empat jam untuk kemudian di-start kembali.

Kejadiannya adalah kemarin masuk ke Saguling, kemudian Saguling dihidupkan, dari Saguling dihidupkan ini sudah pada pukul 14.00, Bapak. Nah Saguling ini memiliki peran untuk menstabilkan daya dan tegangan karena sistem di Jawa-Bali ini kemudian pada waktu kondisi emergency sangat memerlukan pembangkit-pembangkit yang memiliki peran menstabilkan daya dan tegangan. Kemudian dari Saguling kemudian agak masuk ke Cibinong, kemudian ke Depok, dan kemudian masuk ke Gandul. Nah, dari Gandul ini pasokan daya kemudian ditransfer menuju ke Balaraja dan ke Suralaya. Namun, posisinya memang sudah cukup lama Pak, sehingga masuk ke Suralaya posisinya sudah cold start, jadi mesin sudah dingin, Pak. Mesin sudah dingin, sehingga sampai saat ini yang kami prediksikan kami bisa memulihkan dalam waktu empat jam dengan beroperasinya PLTU Suralaya yaitu 2.800 mega di sana yang cukup untuk memasok sistem Jawa Barat dan Banten kemudian menjadi mundur, Bapak.

Karena baru tadi pagi pukul 03.00, artinya lebih dari delapan jam, karena sudah masuk dingin. Ini baru masuk satu Bapak, empat ratus mega, yaitu unit 3. Kemudian dari Gandul pasokan menuju ke Muara Karang dan kemudian ke Priok. Priok dan Muara Karang memang secara sistem mendukung DKI Bapak, mendukung kelistrikan DKI, dan tipe pembangkit PLTGU Priok dan Muara Karang ini adalah cepat untuk start. Jadi memang dirancang cepat untuk beroperasi kembali. Dari Priok dan Muara Karang ini, baru sampai ke Priok dan Muara Karang itu pukul 18.00, Bapak.

Oleh karena itu, kalau kita perhatikan, kami pantau di dalam masyarakat/pelanggan, ada yang sudah masuk di pukul 19.00, ada yang 20.00, 21.00, dan 22.00 karena bertahap, Bapak. Bertahap karena apa? Karena kami pada waktu kondisi emergency sistem harus dijaga secara tegangan maupun secara frekuensi. Karena kalau frekuensinya turun maka pembangkit-pembangkit yang sudah beroperasi dikhawatirkan akan lepas kembali. Jadi memang ini salah satu yang sangat hati-hati pada kondisi emergency, karena pada waktu semuanya turun maka kami harus menghidupkan satu per satu dengan cermat dan hati-hati.

Jadi memang proses, kami mengakui Bapak, kami di dalam proses kami ada beberapa hal yang kami harus pangkas di dalam penormalan kembali, terutama cascading berkaitan dengan mulainya dari 500 KV turun ke 150 KV kemudian masuk ke 20 KV, ini masuk ke distribusi dan masuk ke jaringan pelanggan, ke pelanggan. Ini merupakan ada cascading antara peran penyaluran dan peran distribusi.

Inilah Pak, kami mohon maaf karena cascading inilah yang kami sekarang mengakui bahwa ini akan kami pangkas. Kami akan satukan menjadi advance control center yang akan meng-combine antara penyaluran dan distribusi dari 150 KV ke 20 KV.

Itulah mungkin mudah-mudahan dengan perbaikan ini nanti mudah-mudahan ini bisa lebih baik dalam rangka kecepatan. Namun, yang tadi kami sampaikan bahwa antara Utara dengan Selatan kami di dalam RKAP maupun di dalam RUPTL telah memasukkan Bapak, perkuatan jaringan transmisi, khususnya membuat redundant Pak untuk sistem Utara maupun sistem Selatan dan itu sudah masuk di dalam RUPTL dan sudah masuk dalam RKAP, Bapak.

Demikian kira-kira Bapak, penjelasan singkat.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pertanyaan saya tadi penjelasannya panjang sekali. Pertanyaan saya, Bapak Ibu semuanya ini kan orang pintar-pintar, apalagi urusan listrik dan bertahun-tahun, apakah tidak dihitung, apakah tidak dikalkulasi bahwa akan ada kejadian-kejadian, sehingga kita tahu sebelumnya. Kalau tahu-tahu drop gitu, artinya pekerjaan-pekerjaan yang ada tidak dihitung, tidak dikalkulasi, dan itu betul-betul merugikan kita semuanya.

Pelaksana Tugas Direktur Utama PT PLN (Persero) (Sripeni Inten Cahyani)
Mohon izin menambahkan boleh, Bapak?

Tadi yang Bapak sampaikan mengenai kalkulasi, kami memiliki ketentuan Bapak, N-1 kemudian paling emergency-nya adalah N-1-1. N itu adalah jumlah sirkuit, Bapak, di dalam sistem yang memasok tadi, Utara dan Selatan, tadi ada dua sirkuit di Utara dan dua sirkuit di Selatan, ada jumlahnya empat.

Kemudian dua hilang Pak secara tiba-tiba, jadi menjadi N-2. Kemudian satu itu sudah ada pemeliharaan. Jadi N-1 artinya pemeliharaan yang dibolehkan adalah satu line yaitu di Selatan. Ini yang kami tidak antisipasi adalah terjadinya gangguan dua sirkuit sekaligus, Bapak. Memang ini yang secara teknologi nanti kami akan investigasi lebih lanjut, Bapak, berkaitan dengan gangguan di satu tempat tersebut. Dan mudah-mudahan nanti inilah yang dari sisi keteknisan akan menjadi improvement kita.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Yang paling penting saya minta perbaiki secepat-cepatnya. Yang memang dari beberapa wilayah yang belum hidup segera dikejar dengan cara apapun agar segera bisa hidup kembali. Kemudian hal-hal yang menyebabkan peristiwa besar ini terjadi, sekali lagi saya ulang jangan sampai kejadian lagi. Itu saja permintaan saya.

Oke, baiklah.
Terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru