KUR Mendukung Upaya Pengurangan Pengangguran di Tanah Laut

Oleh Alfurkon Setiawan
Dipublikasikan pada 12 Oktober 2014
Kategori: Pro Rakyat
Dibaca: 362.246 Kali

file_1 (1)KUR terdiri dari KUR mikro Rp 5 juta hingga Rp 20 juta, dan KUR ritel di atas Rp 20 juta hingga Rp 500 juta.  KUR diberikan kepada pelaku UMKM yang mempunyai usaha minimal berjalan enam bulan. Layak atau tidaknya pelaku UMKM memperoleh KUR adalah wewenang pihak perbankan setelah dilakukan survei ke lokasi usaha. Jika dari hasil survei dan analisa usaha tersebut memiliki prospek yang bagus, maka pihak perbankan memberikan KUR. Selain kelayakan usaha, persyaratan memperoleh KUR adalah melampirkan KTP, KK, foto, dan surat keterangan usaha.

Salah satu daerah yang melaksanakan KUR adalah Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. KUR disalurkan oleh dua bank, yakni BRI Cabang Pelaihari dan Bank Kalsel Cabang  Pelaihari.  Pelaksanaan  KUR mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Tanah Laut yang  aktif  turut menyosialisasikan KUR hingga ke pelosok-pelosok desa. Hasilnya adalah realisasi KUR meningkat tajam dari Rp 554 juta dengan jumlah nasabah 6 orang  tahun  2007 menjadi  Rp 313,01 miliar dengan jumlah nasabah sebanyak  29.937 orang  pada  Agustus 2013.   Bank  yang terbesar menyalurkan KUR adalah BRI, yakni Rp 269,01 miliar dengan jumlah nasabah 29.108 orang, sedangkan  Bank  Kalsel menyalurkan KUR sebesar Rp 44 miliar dengan jumlah nasabah sebanyak  829 orang.  Khusus tahun 2012 realisasi KUR sebesar Rp 78,55 miliar, dan  khusus periode  Januari – Agustus  2013 realisasi KUR mencapai Rp  16,41  miliar.

Dari total KUR Rp 313,01 miliar sektor  usaha  yang  terbanyak  mendapat KUR adalah sektor perdagangan (restoran,  toko sarana produksi tanaman (saprotan), warung sembako, toko spare part, toko pakaian,  jual  beli ikan,  dan toko kue)  sebesar Rp 156,50  miliar  atau  50%,  sektor  jasa  (bengkel motor, bengkel mobil)  sebesar Rp  93,90   miliar  atau  30%, dan  sektor  pertanian (kelapa sawit dan padi)  sebesar Rp 62,60 miliar atau 20%. Adapun tenaga kerja yang terserap dalam usaha-usaha yang dibiayai KUR sekitar 50.000 orang.  Hal ini berdampak kepada pengurangan pengangguran di Tanah Laut sehingga tinggal 4,20% tahun 2012 dari sebelumnya 5,99% pada tahun 2007.

Siswanto, warga Desa Martadah, Kecamatan Tambang Ulang, salah seorang  yang sukses menjalankan usahanya setelah  menerima KUR. Pria yang ramah ini menggeluti bisnis pupuk dan sembako di toko sekaligus rumahnya. Siswanto mengawali usahanya berjualan sembako dengan modal kecil Rp 5 juta  pada tahun 1996, dan pada tahun 2006 mengembangkan sayap usahanya dengan berjualan pupuk. Untuk pengembangan usaha tahun 2008, Siswanto meminjam KUR ke BRI. Tahun itu juga Siswanto meminjam KUR sebesar Rp 50 juta untuk tambahan modal membeli pupuk dan sembako. Ia berkewajiban membayar angsuran Rp 2.090.000/bulan untuk jangka waktu 3 tahun. Berkat KUR barang dagangannya menjadi banyak dan jumlah pembeli pun bertambah. Siswanto melunasi pinjamannya lebih cepat pada tahun 2010, dan tahun itu pula ia kembali meminjam KUR Rp 125 juta dengan angsuran Rp 4.932.000/bulan untuk jangka waktu 3 tahun. Ternyata Siswanto hanya membutuhkan waktu setahun melunasi pinjamannya, dan tahun 2011 ia kembali mendapat KUR sebesar Rp 225 juta dengan angsuran Rp 8.818.750/bulan untuk jangka waktu 3 tahun. Sebelum mendapat KUR omsetnya berkisar Rp 750 ribu – Rp 1 juta/hari, namun setelah mendapat KUR omsetnya melejit menjadi Rp 15 juta – Rp 20 juta/hari dan ia mengambil keuntungan 10%.

Berkat KUR Siswanto berhasil membangun sebuah rumah besar, dua buah toko sembako, dan sebuah toko pupuk yang semuanya berdampingan dengan total biaya Rp 200 juta beberapa tahun lalu. Semula ia dan isterinya yang berjualan, dan seiring kemajuan usaha Siswanto merekrut seorang karyawan.

“Sungguh saya tidak pernah bermimpi memiliki usaha sebesar ini. Ini semua berkat KUR. Saya harus bekerja keras lagi untuk memajukan toko sembako dan toko pupuk agar dapat menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang,” kata ayah dua anak dan kakek dua cucu ini.

Pedagang lain yang mendapat KUR adalah Kusnadi. Warga Desa Martadah Baru, Kecamatan Tambang Ulang, ini sehari-harinya berjualan sayur-mayur. Kusnadi hampir sepuluh tahun berjualan sayur-mayur dan modal awalnya berasal dari kantongnya sendiri. Untuk memperlancar usahanya tersebut dia telah tiga meminjam KUR, yakni tahun 2009 sebesar Rp 5 juta, tahun 2011 Rp 5 juta, dan tahun 2013 Rp 10 juta. Kusnadi membeli sayur-mayur dari para petani, lalu menjualnya di pasar. Sebelum mendapat KUR Kusnadi kesulitan membeli sayur-mayur dalam jumlah banyak karena keterbatasan modal, dan setelah mendapat KUR ia lebih leluasa berbelanja sayur-mayur. Sebelum memperoleh KUR omsetnya Rp 100.000 -150.000 /hari. Perubahan terjadi setelah ia memperoleh KUR omsetnya meningkat menjadi Rp 350.000 – Rp 500.000/hari dan ia memperoleh keuntungan 20%. Dari omsetnya tersebut Kusnadi tidak mengalami kesulitan membayar angsuran Rp 518.700/bulan untuk jangka waktu 2 tahun. “Saya lancar membayar angsuran tiap bulan, dan saya selalu membayar tepat waktu,” katanya.

KUR merupakan Program Pro Rakyat Klaster 3 dan diluncurkan Presiden SBY di Gedung BRI, Jakarta, tanggal 5 November 2007. Pemerintah memberikan jaminan melalui PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) Rp 2 triliun/tahun. Semula KUR  dilaksanakan   oleh 6 bank, lalu tahun 2010 diperluas menjadi 33 bank yang meliputi 7 bank nasional dan 26 Bank Pembangunan Daerah (BPD). Pada periode  2007 – Juni 2013 realisasi KUR sebesar Rp 119,22  triliun  dengan jumlah nasabah 8,9 juta orang. Berbagai usaha yang mendapat manfaat KUR cukup beragam meliputi perdagangan, perikanan, pertanian, pertenakan, perkebunan, jasa dan lain sebagainya.

(Arif Rahman Hakim & Khusnul Khotimah)

Pro Rakyat Terbaru