Lahir Dari Rakyat, Presiden Jokowi: TNI Tidak Boleh Sakiti Rakyat, Tidak Boleh Menjauh Dari Rakyat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 5 Oktober 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 40.526 Kali
Presiden Jokowi melakukan inspeksi pasukan pada upacara HUT ke-70 TNI, di Cilegon, Bantun, Senin (5/10) pagi

Presiden Jokowi melakukan inspeksi pasukan pada upacara HUT ke-70 TNI, di Cilegon, Bantun, Senin (5/10) pagi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan, sejarah mencatat bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) lahir dari ‘rahim’ rakyat. Untuk itu, TNI harus menegaskan jati diri sebagai tentara rakyat, tidak boleh melupakan rakyat, tidak boleh menyakiti hati rakyat.

“TNI tidak boleh berjarak dengan rakyat serta harus selalu bersama-sama rakyat. Hanya dengan bersama-sama rakyat, TNI akan kuat dalam  menjalankan tugas pengabdian pada bangsa dan negara,” kata Presiden Jokowi dalam amanatnya pada upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 TNI, yang berlangsung di Dermaga Indah Kiat, Kabupaten Cilegon, Banten, Senin (5/10) pagi.

Hanya bersama-sama rakyat, Presiden Jokowi meyakini, TNI menjadi kekuatan militer yang hebat, kekuatan militer yang disegani serta kekuatan diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Presiden Jokowi yang datang ke acara HUT ke-50 TNI didampingi Ibu Negara Iriana menegaskan, dalam darah TNI juga mengalir  jati diri sebagi tentara pejuang. Sebagai tentara pejuang,  lanjut Presiden Jokowi, TNI harus memiliki daya juang dan semangat pantang menyerah untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian.

“Dengan semangat juang, TNI harus mampu menjaga kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. TNI harus mampu menghadapi para penjarah sumberdaya laut dan perikanan kita. TNI harus mampu menjaga wilayah perbatasan dan pulau-pulau terdepan kita,” tegas Presiden .

Perekat Kemajemukan

Terkait dengan kemajukan bangsa, Presiden Jokowi mengatakan, TNI harus menempatkan diri sebagai perekat kemajemukan dan menjaga persatuan Indonesia. TNI tidak boleh tersekat-sekat dalam kotak suku, agama dan golongan, tapi harus bisa berdiri tegak di atas semua golongan, mengatasi kepentingan pribadi dan kelompok, yang mempersatukan ras, suku, dan agama dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Menurut Presiden Jokowi,  bangsa kita bukan hanya menghadapi tantangan di bidang politik, keamanan dan ekonomi, namun juga menghadapi tantangan dalam mengelola kemajemukan.

Ia menegaskan, kemajemukan bisa menjadi kekuatan yang maha dasyat jika kita mampu menjaganya dengan baik, namun banyak bangsa yang harus menghadapi takdir sejarah, terpecah-belah, tercerai-berai karena tidak mampu menjaga kemajemukan. “Ini tidak boleh terjadi di Bumi Pertiwi kita,” tutur Presiden Jokowi seraya menyebutkan, bersama-sama rakyat, TNI harus terus menjaga kebhinneka tunggal ika-an.

Presiden berharap, keragaman dan perbedaan tidak menjadi sumber konflik, namun seharusnya semakin melengkapi atas kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Sehingga keragaman justru menjadi perekat bangsa, menjadi energi kolektif mencapai kemajuan bangsa.

“Kita harus mampu menjadikan kemajemukan itu sebagai kekuatan kita dalam menyongsong masa depan,” tutur Presiden Jokowi.

Kepala Staf TNI

Presiden Jokowi  didampingi Ibu Negara Iriana Widodo tiba di lokasi upacara HUT ke-70 TNI, di Dermaga Indah Kiat, Cilegon, pada pukul 08.45 WIB. Presiden disambut langsung oleh Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo didampingi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi dan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Agus Supriatna.

Tema Peringatan ke-70 Hari TNI Tahun 2015 adalah “Bersama Rakyat TNI Kuat, Hebat, Profesional, Siap Mewujudkan Indonesia Yang Berdaulat, Mandiri Dan Berkepribadian”.

Tampak hadir dalam acara itu antara lain mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, pada menteri anggota Kabinet Kerja, dan duta besar negara-negara sahabat. (DNS/ES)

 

 

Berita Terbaru