Lebih Ringan Dibanding 1998, Presiden Jokowi Meyakini Bisa Atasi Tantangan Ekonomi

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 9 Juli 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 27.131 Kali
Presiden Jokowi saat menyampaikan paparan "Jokowi Menjawab Tantanga Ekonomi", di JCC Jakarta, Kamis (9/7)

Presiden Jokowi saat menyampaikan paparan “Jokowi Menjawab Tantanga Ekonomi”, di JCC Jakarta, Kamis (9/7)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, situasi yang kita hadapi saat ini sebenarnya lebih ringan dibandingkan dengan tantangan yang kita hadapi sebelumnya di tahun 1998, saat krisis moneter yang dahsyat melanda ekonomi kita. Karena itu, Presiden meyakini tantangan yang kita hadapi sekarang insya Allah sangat bisa kita atasi.

“Marilah kita bahu-membahu sebagai bangsa yang besar, saya ajak semua kalangan untuk kompak, kalangan dunia usaha saling bahu membahu, saya ajak untuk semuanya bekerja sama, berkontribusi untuk membangkitkan perekonomian kita saat ini,” pinta Presiden Jokowi dalam pertemuan dengan pelaku bisnis nasional “Jokowi Menjawab Tantangan Ekonomi, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (9/7) siang.

Presiden menjelaskan, kita saat ini menghadapi tantangan ekonomi yang fundamental, namun Presiden meyakinkan, bahwa  pemerintah semakin siap menghadapi tantangan tersebut.

Mengapa ekonomi saat ini mengalami pelambatan? Menurut Kepala Negara, kita harus pahami bahwa ekonomi kita baru mengakhiri satu siklus, dan sedang diarahkan menuju satu siklus yang baru. Inilah yang ia sebut ekonomi kita sedang mengalami transisi yang fundamental.

Ekonomi kita, lanjut Presiden, sedang beralih dari konsumsi ke produksi, dari konsumsi ke investasi, dan growth engine, mesin pertumbuhan dari siklus yang lalu, komoditas mentah sudah tidak bisa diandalkan lagi.

“Kita harus masuk ke hilirisasi, ke industrialisasi. Dunia telah berubah, dan menggali komoditas mentah, baik nikel, tembaga, bauksit sudah tidak bisa lagi menghasilkan kemakmuran sebagaimana sebelumnya karena harga komoditas sedang anjlok turun,” jelas Jokowi.

Menurut Presiden,kita harus membangun growth engine yang baru, membangun mesin pertumbuhan yang baru. Ia menyebutkan, kita memerlukan revolusi di budaya manajemen.

Presiden menunjuk contoh, menghadapi pemelahan kurs dan kenaikan harga barang impor, produsen jangan asal langsung naikkan harga, dan biasa terjadi kurs naik harga naik. Mestinya, kata Presiden, kita harus berpikir bagaimana kita bisa menekan ongkos, kita bisa mengefisienkan biaya, menekan biaya, bagaimana kita bisa mengubah sistem produksi, bisa mengubah sistem distribusi, kalau perlu bagaimana kita mengubah disain supaya kita lebih efisien.

“Kalau diperlukan memang harus melakukan itu, bukan mencari gampangnya kurs naik harga ikut naik. Inilah yang saya kira bertahun-tahun kita melakukan itu sehingga tidak mau berpikir bagaimana merubah sistem produksi, mengubah sistem distribusi, mengubah desain,” tutur Jokowi seraya menyebutkan, tingginya harga barang dan jasa itulah yang membuat negara kita tidak kompetitif.

Namun Kepala Negara mengingatkan, untuk membangun growth engine yang baru, mesin pertumbuhan yang baru butuh waktu, butuh proses.  Ia mencontohkan, untuk membangun infrastruktur butuh waktu, untuk membangun pabrik ekspor butuh waktu, karena tanpa infrastruktur baik listrik, transportasi pabrik juga tidak bisa jalan. Untuk melatih  sumber daya manusia (SDM) juga butuh waktu.

Kepala Negara lantas menguraikan strategi pemerintah dalam mengatasi hal itu, mulai dari jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Presiden menekankan, bahwa kita semua harus realistis. “Kami sadar bahwa tantangan yang kita akan hadapi ke depan tidak ringan, dan inilah tanggung jawab kami, tanggung jawab saya, tanggung jawab pemerintah,” ujarnya.

Tampak hadir dalam paparan tersebut antara lain Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Darmin Nasution, para menteri Kabinet Kerja, pengurus Kadin, dan kalangan dunia usaha. (NPS/DNS/ES)

 

Berita Terbaru