Makan Siang Bareng Muhaimin, Presiden Jokowi: Konsolidasi Untuk Ingatkan Kemajemukan Indonesia

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 29 November 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 19.791 Kali
image

Presiden Jokowi dan Ketua PKB Cak Imin berbincang bersama di teras Istana Merdeka, Selasa (29/11). (Foto: BPMI)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali bersilaturahmi dengan tokoh politik. Kali ini, Presiden Jokowi menerima kehadiran Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, dan melakukan makan siang bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (29/11) siang.

Presiden menegaskan, silaturahmi dengan para tokoh atau yang biasa disebut dengan konsolidasi kebangsaan akan terus dilakukannya. Ia menyebutkan, hal itu diperlukan untuk mengingatkan kembali kepada semua pihak bahwa masyarakat Indonesia sangat beragam dan majemuk.

“Kesadaran tersebut penting kiranya untuk ditumbuhkan agar masyarakat dapat saling memahami dan menghormati satu dengan lainnya,” kata Presiden Jokowi dalam konferensi pers bersama Muhaimin Iskandar yang digelar usai keduanya melakukan pembicaraan sembari makan siang bareng di Istana Merdeka, Jakarta.

Menurut Presiden, tidak ada habisnya konsolidasi kebangsaan dan kenegaraan, karena ini untuk mengingatkan kita semuanya mengenai pentingnya kita tetap di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang isinya beragam dan majemuk.

“Terus kita ingatkan, saya kira tidak hanya ke tokoh-tokoh politik, tokoh-tokoh agama, TNI-Polri, saya kira juga penting sekali untuk anak-anak muda,” jelas Presiden.

Presiden menyebutkan masukan dari semua pihak dicatat termasuk dari partai, tanpa memandang partai itu besar atau kecil jumlah kursinya di DPR. “Semua dicatat, pelaksananya nanti ada kalkulasinya, tidak ada yang tidak dicatat,” ujarnya.

Parlementer

Sementara Ketua PKB Muhaimin Iskandar mengemukakan, dalam pertemuan dirinya dengan Presiden Jokowi, setidaknya terdapat tiga hal yang dibicarakan. Pertama, hal yang berkaitan dengan dimulainya pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu. Kedua, hal yang berkaitan dengan perkuatan sistem presidensial, dan yang ketiga mengenai masalah komunikasi politik dengan partai-partai pendukung yang akan diintensifkan lagi.

Terkait dengan pembahasan mengenai sistem presidensial, Cak Imin, sapaan akrab Muhaimin Iskandar, beranggapan bahwa saat ini diperlukan kejelasan mengenai penerapan sistem tersebut, agar tidak terlampau parlementer.

Saat bertemu Presiden Jokowi itu, Muhaimin mengaku telah melaporkan adanya pertemuan alim ulama yang membahas tentang konstitusi, terutama ada keinginan untuk memperbaiki sistem demokrasi, yang salah satunya ialah penegasan sistem presidensial tersebut.

“Ini untuk memberikan kejelasan, agar kita tidak menjadi terlalu parlementer. Banyak hal yang substansi seperti itu, misalnya, salah satunya mengangkat Kepala BIN apa perlu ke DPR? Mengangkat Duta Besar apakah perlu ke DPR? Ini penguatan presidensial yang telah dibahas oleh para kyai, para ulama, untuk menyempurnakan sistem demokrasi,” ungkap Muhaimin.

Terkait RUU Pemilu, ia mengatakan perlu dasar hukum yang lebih kuat agar Pemilu 2019 lebih transparan, demokratis dan lebih baik. “Kebetulan ketua pansusnya dari PKB, diupayakan bagaimana agar pembahasan lancar, semua parpol puas dengan hasilnya,” kata Muhaimin.

Dalam pertemuan dengan Presiden Jokowi itu, Muhaimin mengaku juga membahas mengenai dukungan partai pendukung pemerintah, termasuk PKB, untuk menyukseskan program-program pemerintah. “Ini agar kondisi perekonomian meningkat dan lebih maju dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.

(BPMI/ES)

Berita Terbaru