Makro Ekonomi Baik, Seskab Minta Alumni ITB Edukasi Masyarakat Hadapi Perubahan Global

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 30 Oktober 2017
Kategori: Berita
Dibaca: 23.815 Kali
Seskab berfoto bersama alumni Institut Teknologi Bandung di lantai 2, Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Senin (30/10). (Foto: Humas/Jay)

Seskab berfoto bersama alumni Institut Teknologi Bandung di lantai 2, Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Senin (30/10). (Foto: Humas/Jay)

Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengemukakan bahwa secara makro ekonomi Indonesia, dalam dunia yang sedang melambat, sebetulnya tumbuh cukup baik, di atas 5 persen.

Tetapi secara keseluruhan, baik itu misalnya Ease of Doing Business, tahun 2014 itu kita masih 140 dari 189 negara, kemudian tahun 2015 menjadi 120 lebih sedikit, tahun 2016 menjadi 106, dan terakhir sekarang 91.

“Kita dianggap sebagai negara yang betul-betul mengalami lompatan yang luar biasa,” kata Pramono saat menerima 25-an orang pengurus dan aktivis Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), di ruang rapat Seskab Lantai II Gedung III Kementerian Sekretariat Negara, Senin (30/10) malam.

Diakui Seskab, meskipun orang melihat Indonesia sangat positif karena sudah memperbaiki investment grade dan rating dunia, namun di dalam negeri kita menghadapi misalnya Dabenhams, dan Matahari sebentar lagi tutup.

Namun ditegaskan Seskab, bahwa persoalan ini bukan hanya persoalan Indonesia saja, tapi sudah menjadi persoalan dunia. Ia menyebutkan, ketika ada perubahan perilaku, tata cara, swifting orang dari yang dulu orang datang ke mal untuk belanja sepatu atau beli tas dengan memperlihatkan apa yang sudah dia beli sebelumnya kepada orang lain, ini sebenarnya totally sudah berubah.

“Orang tidak lagi perlu berdandan, perlu tas yang begitu mahal-mahal, orang lebih efisien. Dia tinggal pegang gadget-nya, gawainya dia mau pesan apa dia bisa,” ungkap Pramono.

Perubahan inilah, lanjut Seskab, yang kemudian menjadi isu tersendiri sekarang ini, yang perlu dipikirkan oleh pemerintah sekarang ini.

Tidak Ada Yang Mempersiapkan

Sebelumnya Seskab Pramono Anung mengemukakan, bahwa dunia global yang berubah luar biasa ini  menjadi objek pembicaraan dalam berbagai pertemuan tingkat dunia, seperti G-20, APEC, atau ASEAN Meeting.

“Pembicaraan tentang Uber, Grab, Gojek, dan lainnya itu sudah menjadi pembicaraan pada level pimpinan dunia, dan mereka, tidak ada satupun negara yang sudah mempersiapkan aturan main yang bisa mengantisipasi perubahan itu,” ungkap Pramono.

Sampai dengan terakhir di KTT G-20 di Hamburg, Jerman, Seskab mengemukakan, bahwa masalah dunia yang berubah luar biasa cepat ini menjadi topik bahasan. Walaupun tema utamanya ketika itu climate change, tetapi menurut Seskab, sebenarnya di dalam ruangan itu yang dibicarakan adalah dunia yang sedang berubah.

“Orang sebentar lagi tidak menonton televisi, dan perubahan lainnya,” ujar Pramono.

Maka inilah yang sekarang juga menjadi pemikiran kita. Untuk itu, Seskab Pramono Anung berharap alumni ITB bisa berperan serta untuk mengedukasi hal ini, terutama di masyarakat.

Seskab juga menyinggung masalah pembangunan jalan tol, yang sampai akhir Oktober 2019 akan mencapai 1.800 km, dan saat ini sudah mencapai 500 km lebih, atau sudah 2 kali dibandingkan dengan pembangunan dari jaman merdeka. Tetapi jalan tol atau infrastruktur diakui Seskab untuk jangka panjang, termasuk misalnya Tol Becakayu yang sebentar lagi akan dioperasikan.

“Nah yang menggunakan tol ini kan yang mengunakan mobil dan seterusnya-seterusnya. Persoalan ini kemudian membuat kita, walaupun gini rasionya mengalami penurunan tetapi tidak seperti yang kita harapkan,” terang Pramono.

Maka, persoalan inilah, menurut Seskab Pramono Anung, yang menjadi PR (pekerjaan rumah) pemerintah sekarang ini kita sudah memasuki tahun politik tahun depan itu. Ia berharap, mudah-mudahan capaian ini bisa dipertahankan oleh siapapun yang melanjutkan pemerintahan ini di kemudian hari.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Menteri Pariwisata Arif Yahya, Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar, Kepala BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Penny Kusumastuti Lukito, yang kesemuanya juga merupakan alumni ITB. (FID/JAY/ES)

Berita Terbaru