Markas Besar PBB dan NYU Siap Dukung Program Pelatihan Pejabat Fungsional Penerjemah

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 17 November 2017
Kategori: Berita
Dibaca: 33.554 Kali
Deputi Seskab bidang DKK, Yuli Harsono, dan rombongan berfoto bersama dengan Kepala Layanan Penerjemahan Lisan pada Markas Besar PBB di New York, AS, Hossam Fahr, Kamis (16/11).

Deputi Seskab bidang DKK, Yuli Harsono, dan rombongan berfoto bersama dengan Kepala Layanan Penerjemahan Lisan pada Markas Besar PBB di New York, AS, Hossam Fahr, Kamis (16/11).

Sebagai lanjutan kegiatan perbandingan pelaksanaan penerjemahan dan pembinaan penerjemah pada pemerintah asing dan lembaga internasional, Deputi Sekretaris Kabinet (Seskab) Bidang Dukungan Kerja Kabinet (DKK) Yuli Harsono beserta rombongan berkunjung ke Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di New York, Amerika Serikat, Kamis (16/11).

Di Markas Besar PBB tersebut, Yuli Harsono beserta rombongan bertemu dengan pimpinan divisi penerjemahan lisan dan tulis, guna mempelajari praktik terbaik dalam penerjemahan lisan dan tulis yang dilakukan oleh Markas Besar PBB. Praktik terbaik ini berguna untuk meningkatkan kualitas penerjemahan di Sekretariat Kabinet (Setkab) dan untuk meningkatkan kompetensi Pejabat Fungsional Penerjemah.

Kepala Layanan Penerjemahan Lisan pada Markas Besar PBB di New York, Hossam Fahr, menyampaikan tantangan besar yang dihadapi oleh penerjemah lisan yang bekerja di Markas Besar PBB, yaitu kecepatan pembicara yang semakin tinggi, dan kurang tersedianya bahan cetak pidato untuk dipelajari sebelum melaksanakan penerjemahan lisan.

Untuk mengatasi tantangan yang besar tersebut, Fahr menyampaikan tiga kiat bagi penerjemah lisan. “Pertama, penerjemah lisan harus memiliki pengetahuan umum yang sangat luas. Kedua, memiliki rasa haus akan pengetahuan. Ketiga, hidup sebagai penerjemah lisan dengan tidak memandangnya sebagai profesi tetapi sebagai passion”.

Sementara Direktur Divisi Penerjemahan Tulis Markas Besar PBB, Cecilia Elizalde, menyampaikan bahwa seorang penerjemah tulis harus memperhatikan kualitas terjemahan, konsistensi dalam penggunaan terminologi, dan kecepatan kerja.

Untuk itu, penerjemah tulis yang diterima oleh Markas Besar PBB harus melalui proses seleksi yang sangat ketat. “Dari sekitar 5000 pelamar, yang diterima sebagai penerjemah tulis pada Markas Besar PBB hanya 27 orang” ujar Elizalde.

Setelah diterima, lanjut Elizalde, penerjemah tulis tersebut menjalani masa percobaan selama dua tahun. Jika dinilai berhasil, maka penerjemah tulis dapat mengembangkan karier sebagai pegawai negeri internasional pada Markas Besar PBB dari jenjang P-1 hingga P-5. “Saat ini, Markas Besar PBB memiliki sekitar 600 penerjemah tetap dan 200 penerjemah tidak tetap.” ujar Elizalde.

Pada pertemuan tersebut, Elizalde menjelaskan bahwa  PBB menggunakan bahasa yang sangat legalistik, berbeda dengan jenis penerjemahan lainnya. Mengingat dokumen PBB bersifat politis, lanjut Elizalde, maka penerjemahan dilakukan secara sangat setia dan tidak dilakukan penafsiran. Hal ini karena sebagai pegawai negeri internasional, penerjemah tulis di Markas Besar PBB harus bersikap imparsial.

Untuk menjaga konsistensi terjemahan dan mempercepat proses penerjemahan tulis, menurut Direktur Divisi Penerjemahan Tulis Markas Besar PBB itu, Markas Besar PBB menggunakan teknologi penerjemahan tulis yang disebut eLUNA. Dengan menggunakan teknologi ini, proses penerjemahan tulis menjadi lebih cepat dan akurat. Sayangnya teknologi eLUNA tersebut tidak terbuka untuk publik.

Sedangkan  database yang bisa diakses oleh publik adalah UN Term, yaitu database terminologi dalam enam bahasa resmi PBB, yaitu Arab, Inggris, Mandarin, Prancis, Rusia, dan Spanyol, dan situsweb UN Docs, yang berisikan kumpulan dokumen PBB.

Menanggapi permintaan Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Dukungan Kerja Kabinet Yuli Harsono untuk turut meningkatkan kapasitas Pejabat Fungsional Penerjemah, Elizalde menyampaikan kesediaannya untuk memberikan pembekalan tentang penerjemahan tulis kepada Pejabat Fungsional Penerjemah di Markas Besar PBB di New York.

Pertemuan dengan ‘New York University’

Setelah pertemuan di Markas Besar PBB, Deputi Seskab Bidang Dukungan Kerja Kabinet beserta rombongan bertemu dengan Administrator Program Bahasa Asing, Penerjemahan Tulis, dan Penerjemahan Lisan New York University (NYU), Paula Azevedo Perez.

Dalam pertemuan tersebut, Perez menjelaskan tentang program Strata Dua (S-2) dan pelatihan jangka pendek bagi penerjemah tulis dan lisan yang ditawarkan oleh NYU.

Untuk program S-2, Perez menyampaikan bahwa program tersebut berdurasi satu tahun, terdiri dari dua semester, dan mencakup bidang penerjemahan tulis dan penerjemahan lisan. Sedangkan untuk pelatihan jangka pendek, ditawarkan program intensif yang juga mencakup bidang penerjemahan tulis dan penerjemahan lisan.

Dalam kaitan itu, Perez menyatakan kesediaan NYU untuk merancang program pelatihan penerjemahan yang disesuaikan dengan kebutuhan Pejabat Fungsional Penerjemah. Program pelatihan tersebut dapat dirancang dari aspek konten, durasi, tempat pelaksanaan program (on-line dan on-site), dan jumlah peserta.

Dalam pertemuan di Markas Besar PBB itu, Deputi Seskab Bidang Dukungan Kerja Kabinet beserta rombongan mendapat dukungan dan pendampingan dari Pewakilan Tetap Republik Indonesia di New York. Sedangkan pertemuan dengan NYU, mendapat dukungan dan pendampingan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York. (PENTI/ES)

 

 

Berita Terbaru