Mei Inflasi 0,50 Persen, Kepala BPS Berharap Harga BBM Tidak Naik

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 1 Juni 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 28.835 Kali

spbuKepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyampaikan bahwa pada Mei 2015 terjadi inflasi sebesar 0,50 persen, dengan demikian tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Mei 2015) sebesar 0,42 persen, sementara inflasi tahun ke tahun (Year on Year) sebesar 7,15 persen.

“Inflasi tersebut merupakan yang terendah dalam 5 tahun” kata Suryamin di Jakarta, Senin (1/6).

Suryamin menjelaskan, dari 82 Kota IHK, BPS mencatat 81 kota mengalami inflasi dan hanya 1 kota yang mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Palu (2,24 persen), dimana secara mayoritas disebabkan oleh meningkatnya harga ikan, cabe rawit dan cabe merah.

Sementara itu, inflasi terendah terjadi di Singkawang (0,03 persen), dan deflasi terjadi di Pangkal Pinang (0,61 persen). Secara keseluruhan, lebih dari 50 persen kota IHK inflasinya dibawah 0,5 persen. “Hal ini menunjukkan pengendalian inflasi sudah cukup bagus”, tutur Suryamin.

Menurut BPS, inflasi Mei 2015 disebabkan oleh kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naikknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, dengan nilai tertinggi berasal dari kenaikan pada kelompok Bahan Makanan sebesar 1,39 persen, dengan andil terhadap pembentukan inflasi sebesar 0,28 persen. Sementara itu, kelompok pengeluaran lainnya hanya mengalami inflasi dibawah 1 persen.

Walau secara keseluruhan bahan makanan mengalami inflasi tertinggi, namun komoditas beras yang merupakan bagian dari kelompok bahan makanan, masih mengalami deflasi.

Mengingat bulan Ramadhan yang semakin dekat, BPS memberikan pendapat terkait perlunya upaya untuk mencegah terjadinya lonjakan harga yang biasa terjadi selama momen tersebut. “Perlunya mengontrol komoditi yang banyak dikonsumsi maysarakat, khususnya beras,” ujar Suryamin dalam konferensi pers tersebut.

Selain hal tersebut, secara keseluruhan Suryamin menyampaikan pentingnya untuk mengendalikan harga beras, ikan, ayam, minyak goreng, dan telur ayam yang dilakukan secara serempak di seluruh wilayah indonesia. Hal ini dikarenakan inflasi menentukan daya beli masyarakat.

“Kalau inflasi tinggi namun pendapat masyarakat tidak naik, maka daya beli akan turun,” ujar Suryamin.

Selain itu, Suryamin juga mengharapkan pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) menjelang memasuki bulan Ramadhan dan Lebaran, untuk mencegah terjadinya lonjakan harga yang jauh lebih tinggi dari yang biasanya terjadi pada momen tersebut.

Berikut ini  daftar komoditas yang memberikan andil inflasi Mei 2015:

Pendukung Inflasi:

  1. Cabe Merah, andil terhadap pembentukan inflasi Mei sebesar 0,1 persen, dengan perubahan harga rata-rata di seluruh Kota IHK terhadap bulan April 2015 sebesar 22,2 persen,. Hal ini dikarenakan berkurangnya pasokan dari sentra produksi.
  2. Dagin ayam ras, andil 0,06 persen, perubahan kenaikan harga sebesar 5,09 persen, karena terbatasnya stok.
  3. Telur ayam ras, andil 0,04 persen, perubahan kenaikan harga sebesar 6,13 persen. Disebabkan oleh meningkatnya permintaan mnjelang ramadhan.
  4. Bawang Merah, andil 0,03 persen, perubahan kenaikan harga 6,19 persen. Disebabkan oleh berkurangnya pasokan.
  5. Tarif listrik, andil 0,02 persen, perubahan kenaikan harga sebesar 0,62 persen, peraturan Disebabkan oleh adanya penyesuaian tarif listrik.
  6. Ikan Segar, andil 0,02 persen, perubahan kenaikan harga sebesar 0,58 persen. Disebabkan oleh berkurangnya pasokan dari nelayan, karena pengaruh cuaca.
  7. Bawang Putih, andil 0,02 persen, perubahan kenaikan harga sebesar 8,81 persen. Disebabkan menipisnya stok di pasaran.

 

Penghambat Inflasi (yang mengalami deflasi):

  1. Beras, andil -0,04 persen, perubahan kenaikan harga sebesar 0,88 persen. Disebabkan dampak  panen raya. (MH/Asdep Bidang Fiskal Kedeputian Perekonomian Setkab)

 

Berita Terbaru