Menatap Papua Dengan Hati Dan Senyum

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 11 April 2019
Kategori: Opini

20190411-Foto Artikel BebenOleh :  R. Beben Hurmansyah …*)

Papua adalah sebuah provinsi yang terletak di paling timur Indonesia. Provinsi ini merupakan provinsi yang kaya akan kesenian dan kebudayaan. Provinsi Papua memiliki berbagai suku, seperti suku Asmat yang mendiami provinsi tersebut dan masyarakatnya yang sangat menjunjung tinggi kesenian dan kebudayaan yang ada di daerahnya, serta sangat menarik dan unik.

Provinsi Papua adalah Provinsi Irian Jaya,  yang kemudian menjadi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, yang diberi Otonomi Khusus dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Otonomi khusus sendiri adalah kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada Provinsi Papua, untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar Papua.

Provinsi Papua terdiri atas daerah Kabupaten dan daerah Kota, yang masing masing sebagai Daerah Otonom. Daerah Kabupaten/Kota terdiri atas sejumlah Distrik (dahulu dikenal dengan nama Kecamatan), adalah wilayah kerja Kepala Distrik sebagai perangkat daerah Kabupaten/Kota. Distrik terdiri atas sejumlah kampung atau yang disebut dengan nama lain, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah Kabupaten/Kota.

Seorang guru asal Papua di kampung Harapan Sentani, mengungkapkan harapannya, agar generasi baru Papua bangkit. Mereka harus benar-benar menjadi mutiara dari timur. Namun, ia mengingatkan untuk menghasilkan generasi baru Papua yang hebat, dan setiap yang terlibat dalam Pembangunan Papua harus bisa memberikan hatinya.

“Berilah hatimu kepada anak Papua, mereka akan memberikan kepadamu hatinya,” kata guru tersebut, pada acara makan malam dengan James T. Riady, Anggota Dewan Pengelola YPHP Aileen Hambali Raidy, dan putri bungsu Mochtar Riady, Minny Riady, (26/2/2019).

Bekerja dengan hati, ditekankan berulang kali oleh Aileen kepada setiap guru dan para medis di setiap wilayah Papua yang dikunjungi.  Mengutip seorang sosiolog, ia mengatakan bahwa dunia tidak diubah oleh akademisi, melainkan oleh mereka yang dipakai Tuhan. Karena mereka yang dipakai Tuhan sungguh bekerja dengan hati.

Untuk itu, pembangunan di Papua harus dimulai dari pendidikan dan kesehatan. Secara perlahan-lahan mereka diajari kegiatan ekonomi. Maka, infrastruktur perlu dibangun, mulai dari infrastruktur dasar, yakni air bersih dan sanitasi hingga infrastruktur transportasi, energi dan telekomunikasi. Dana infrastruktur sungguh dimanfaatkan untuk pembangunan, agar setiap wilayah terkoneksi dan warga mendapat pelayanan.

Kemiskinan di Papua bukan dikarenakan uang, mengingat dana dari pusat selalu mengalir ke Bumi Cendrawasih. Bukan saja Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan dana bagi hasil kekayaan alam. Pemerintahan Pusat juga menggelontorkan Dana Otonomi Khusus (DOK) dan dana infrastruktur. Sebagaimana daerah lainnya, dana Pusat juga mengalir ke Papua lewat program Dana Desa. Setiap desa dan kelurahan mendapatkan dana setiap tahunnya. Pemerintah juga menggulirkan program sosial, termasuk jaminan sosial lewat Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Membangun dengan Hati dan Senyum

Membangun Papua tidak cukup hanya dengan uang, melainkan harus dengan hati. Setiap orang yang hendak membangun Papua harus juga memberikan hatinya kepada Papua. Mereka adalah orang yang terpanggil untuk mengabdi di Papua, bukan sekedar bekerja di Papua. (“Berilah hatimu kepada anak Papua, mereka akan memberikan kepada mu hatinya,”).

Baginya berbicara membangun Papua itu di bangun dengan hati, sekalipun orang asli Papua, tetapi kalau tidak membangun dengan hati,  itu menurutnya bukan orang Papua. Walaupun orang Jawa, Batak, Bugis, Thionghoa, kalau datang ke Papua tetapi membangun Papua dengan hati, itulah orang Papua.

Prinsipnya membangun Papua itu dengan melihat, mendengar dengan hati dan bangun dengan kasih. Tentu ini selaras dengan ajaran Tuhan tentang kasih yang tanpa membedakan hitam, putih atau coklat. Hal ini disampaikannya oleh Lenis Kogoya, tokoh Papua, untuk menjawab pandangan bahwa orang Papua tidak bisa berkarya selain di Papua sendiri.

Menurut Lenis yang murah senyum ini, ada pandangan orang Papua sendiri yang mengatakan bahwa orang Papua tidak pernah dilibatkan, mungkin itu dulu, tapi sekarang tidak. Contoh dirinya sebagai orang Papua masuk Istana, ada yang jadi Menteri, dan hampir 200-an anak Papua masuk/bekerja di kementerian. Disini berarti, keterlibatan orang Papua di Indonesia ada. Jadi tidak ada lagi alasan bagi orang Papua untuk ditinggalkan.

Apalagi saat upacara di Istana Merdeka, orang Papua ikut juga masuk dan meramaikan HUT Kemerdekaan RI. Makanya diperlukan dialog untuk orang Papua, agar memahami keberadaan orang Papua walaupun masih ada kekurangan, itulah yang perlu dievaluasi dan diperbaiki ke depannya.

Perhatian Pemerintah tentang kesetaraan, sudah dibuktikannya dengan menyamakan harga BBM, dimana harga bensin di Papua sama dengan daerah lainnya. Dengan kebijakan seperti itu, tidak ada lagi perbedaan dengan satu harga. Kemudian berbicara pendidikan, memang itu menjadi kendala, dan banyak guru yang tidak bertahan, apalagi di pedalaman. Beruntung ada program Indonesia Cerdas yang digagas oleh Pendeta Shepard, ini sangat membantu sekali dan perlu didukung.

Selain membangun dengan hati, senyumnya anak Papua mengingatkan akan nikmat Tuhan di alam ini, bahwa sesungguhnya kebahagiaan dan keindahan itu cukup mudah dan kita sendiri yang bisa menciptakannya. Sebarkan kebaikan kepada semua orang adalah kunci dari kebahagiaan hidup. Senyum adalah ungkapan rindu akan kampung halaman dan nikmat Tuhan di bumi Papuaku.

Senyum adalah bahasa tubuh dan dengan senyum berjuta keindahan akan datang serta terus menghampiri. Dengan senyum dunia seakan terbebas dari kedengkian, caci maki dan serakah. Di Papua, senyum merupakan hal yang khas dan sudah menjadi kebiasaan. Apalagi jika ketemu dengan anak-anak Papua (Anana).

Dengan senyuman kami menyapa, adalah budaya yang sudah menjadi kebiasaan dan dengan senyum maka kebahagiaan akan hadir di tengahnya. Jadi bagaimanapun juga silakan berbuat baik, minimal dengan senyuman. Seperti contoh yang diberikan oleh anak anak Papua, setiap pagi kalau berpapasan dengannya.

Komitmen Presiden terhadap Papua

Presiden Joko Widodo mencatat sejarah baru dalam politik nasional ketika menginjakkan kakinya di Bandara Sentani, Papua, pada tanggal 5 Juni 2014. Ia merupakan calon Presiden yang pertama melakukan kampanye di Papua. Pulau di ujung timur Indonesia sudah istimewa di matanya, nama istrinya, Iriana diambil dari pulau ini.

Namun, bukan soal nama itu saja yang membuat Jokowi datang ke Papua. Layaknya kampanye, berbagai janji tentang pembangunan infrastruktur dan perkembangan ekonomi bergerak lambat disana. Janji itu, bukan isapan jempol belaka. Papua benar benar mendapatkan perlakuan istimewa di masa pemerintahan Jokowi. Baru dua bulan sebagai Presiden, pada akhir 2014 Presiden Jokowi berkunjung ke Papua. Ia menghadiri perayaan Natal dan meresmikan dimulainya berbagai proyek pembangunan pasar, jembatan dan pelabuhan.

Kesungguhan pemerintah Jokowi dalam pembangunan infrastruktur di Papua merupakan bentuk perwujudan program Nawacita Presiden Joko Widodo dalam membangun konektivitas wilayah perbatasan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dalam jangka panjang, akhirnya membuahkan hasil yang positif. Salah satu harapan Presiden dalam proses pembangunan infrastruktur adalah turut berpartipasinya masyarakat Papua dalam pelaksanaan program pembangunan, akhirnya mulai menggerakkan hati masyarakat Papua.

Pemerintahan Jokowi menjadi era pembangunan, sebagaimana yang dituturkan dalam kebijakan pemerintahannya. Pembangunan infrastruktur ini tidak hanya berpusat di kota, namun menyasar ke daerah pedalaman Papua dan juga daerah terpencil lainnya di Indonesia. Presiden yakin bahwa pembangunan infrastruktur akan membuat ekonomi Indonesia dan taraf hidup masyarakat meningkat.

Sebelumnya, pembangunan hanya berpusat pada kota-kota besar. Padahal daerah-daerah terpencil juga termasuk ke dalam wilayah Indonesia, dan perlu adanya pemerataan pembangunan. Saat ini, pemerintah tengah memfokuskan untuk membangun infrastruktur di daerah Papua dan juga Papua Barat. Seperti yang kita ketahui bahwa Papua memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Namun, kehidupan masyarakatnya masih berada di garis kemiskinan.

Salah satu pembangunan yang cukup besar di pemerintahan Jokowi-JK, diantaranya pembangunan jalan raya Trans Papua. Untuk pembangunan infrastruktur di daerah Papua, Presiden Jokowi telah menganggarkannya dan berbicara akan pentingnya program pembangunan dan meminta jajaran kabinetnya mempercepat proses infrastruktur di Papua.

Infrastruktur yang dibangun meliputi jalan raya dan jembatan untuk memudahkan kehidupan rakyat Indonesia di perbatasan yang selama ini hidup sulit. Ada sekitar 260 juta jiwa rakyat Indonesia, tentunya kesejahteraan bukan hanya milik orang yang tinggal dikota saja. Itulah salah satu tujuan infrastruktur dibangun di seluruh pelosok negeri.

Sebenarnya, Papua bukan satu-satunya yang menjadi target pemerintah dalam membangun infrastruktur. Namun, Papua menjadi salah satu yang diprioritaskan karena memang pembagunan infrastruktur sangat dibutuhkan di daerah Papua. Tidak hanya infrasruktur berupa jalan dan jembatan, tetapi penerangan listrik di daerah-daerah tertinggal juga menjadi prioritas.

Tidak  dapat dipungkiri bahwa perbaikan dan pembangunan infrastruktur secara merata di seluruh wilayah Indonesia menjadi sesuatu yang diharapkan oleh masyarakat. Meskipun belum sepenuhnya dapat  terwujud, namun upaya pemerintah dalam membangun daerah-daerah tertinggal patut untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Dengan infrastruktur yang bagus, diharapkan kesejahteraan rakyat pun meningkat. Hal ini pun sebagai upaya pemerintah dalam menerapkan isi dari pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan dibangunnya infrastruktur, masyarakat Indonesia yang ada di daerah tertinggal ataupun perbatasan juga bisa merasakan hasil kemerdekaan. Indonesia sudah berpuluh tahun merdeka, tetapi masih ada daerah yang kesulitan dalam mendapatkan air bersih maupun penerangan listrik. Maka, pembangunan nasional perlu merata sehingga tidak hanya dinikmati oleh daerah tertentu saja. Mari kita dukung langkah pemerintah dalam membangun infrastruktur yang baik untuk negeri tercinta ini.

*) Penulis adalah : Asisten Staf Khusus Presiden Lenis Kogoya.

Opini Terbaru