Mengapa Rumput Laut menjadi Komoditas Utama di Era Jokowi

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 29 Januari 2016
Kategori: Opini
Dibaca: 39.165 Kali

IMG_8476Oleh : Agil Iqbal Cahaya, S.AP., M.AB. (Kasubid Perikanan Tangkap & Budidaya)

Tidak dapat disangkal lagi, manfaat rumput laut sangatlah banyak dan dapat menjadi sumber komoditas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Indonesia dengan luas wilayah perairan 6.315.222 km2 dengan panjang garis pantai 99.093 kilometer persegi serta jumlah pulau 13.466 pulau dipastikan memiliki sumber daya rumput laut yang sangat berlimpah.

Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo telah memberikan arahan pada Rapat Terbatas pada 21 Maret 2015 kepada Kementerian/Lembaga terkait mengenai pengembangan rumput laut agar lebih berdaya guna. Arahan Presiden yang pertama yaitu agar dapat mengembangkan spesies rumput laut yang bagus diolah lebih lanjut, kedua, agar mengembangkan bursa rumput laut di daerah berpotensi besar penghasil rumput laut seperti Sulawesi, NTT, NTB & Jatim, ketiga, agar mengembangkan pola penyebaran pabrik pengolahan berdekatan dengan produsen rumput laut, keempat, agar mendorong tumbuhnya industri berbahan baku rumput laut (kosmetika, sabun, obat & makanan) dalam 3-4 tahun.

Selain itu, agar Menteri Koordinator melakukan koordinasi penyelesaian masalah pengembangan industri rumput laut dan mengkaji regulasi yang dibutuhkan untuk memperkuat industri rumput laut. Sekretariat Kabinet RI yang memiliki tugas manajemen kabinet telah menyampaikan Arahan Presiden tersebut, dengan mengoordinasikan kementerian/lembaga terkaitmelalui surat Sekretaris Kabinet kepada kementerian/lembaga terkait dan telah mengadakan rapat koordinasi agar segera melakukan percepatan pengembangan industri rumput laut tersebut.

Rumput laut adalah jenis tumbuhan laut yang hidup menempel pada batu atau substrat lainnya. Rumput laut banyak sekali jenisnya, tetapi yang biasa dibudidayakan di Indonesia ada 3 macam, yaituCottonii, Spinosum, dan Glacilaria. Semua jenis rumput laut dapat hidup secara alami pada masing-masing lingkungannya. Rumput laut dibudidayakan agar mempermudah dalam penanganan, misalnya pemanenan. Rumput laut jenis cottonii paling banyak dibudidayakan di Indonesia, karena jenis rumput laut ini paling lengkap kandungan nutrisinya, dengan demikian menjadikan jenis rumput laut ini paling banyak diminati.

Rumput laut jenis spinosumjuga banyak dibudidayakan, tetapi tidak sebanyak jenis cottonii. Jenis rumput laut spinosum jika dilihat dari fisiknya mempunyai ukuran yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan jenis cottonii, dan harganyapun lebih rendah daripada cottonii.Glacilaria dibudidayakan di tambak-tambak, bentuk fisiknya paling kecil jika dibandingkan dengan cottonii dan spinosum. Kebanyakan jenis rumput laut ini dibudidayakan untuk dimanfaatkan lendirnya (gel) yaitu sebagai bahan baku agar-agar, karena jenis rumput laut ini memiliki ikatan gel (gel strength) yang paling baik.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2014 menunjukkan bahwa produksi rumput laut basah di Indonesia mencapai 10.242.437 per ton sedangkan pada tahun 2015 produksi rumput laut basah telah mencapai target sebesar 10.608.180 ton. Hal ini menunjukkan bahwa produksi rumput laut dan pengembangan rumput laut semakin tahun semakin berlimpah.

Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan jumlah industri rumput laut di Indonesia saat ini terdiri dari industri rumput laut untuk karagenan (ATC, SRC, dan RC) yang berjumlah 24 (duapuluh empat) perusahaan, sedangkan industri rumput laut untuk agar-agar berjumlah 14 (empat belas) perusahaan dan industri produk formulasi berbahan baku rumput laut berjumlah 10 (sepuluh) perusahaan. KKP sebagai kementerian teknis telah merencanakan pengembangan rumput laut sebagai bahan pangan pokok. Selain 3 (tiga) jenis rumput laut di atas, KKP sedang mengembangkan 4 (empat) spesies jenis rumput laut terbaru.

Pemerintah sedang menggalakkan peningkatan hasil produksi industri rumput laut agar Indonesia menjadi negara produsen rumput laut terbesar dunia dengan salah satunya mengembangkan industri rumput laut yang dekat dengan penghasil rumput laut. Akan tetapi pengembangan industri rumput laut memiliki faktor-faktor yang harus dipenuhi agar tercapai keberhasilan industri rumput laut yang terdiri dari faktor hulu dan faktor hilir.

Faktor hulu terdiri dari ketersediaan bahan baku, aksebilitas, sarana dan prasarana penunjang, fasilitas pengangkutan, ketersedian SDM tenaga kerja, infrastruktur penunjang, aspek kelembagaan dan kemitraan. Sedangkan faktor hilir terdiri dukungan/regulasi Pemerintah Daerah, respon masyarakat, kemudahan lainnya meliputi harga tanah dan gedung, kemungkinan perluasan, fasiltas servis, fasilitas finansial, ketersediaan air, iklim lokasi, dan lain-lain.

Hambatan dalam mengembangkan industri rumput laut menyangkut permasalahan hulu dan hilir. Permasalahan hulu terdiri dari fenomena produksi rumput laut yang fluktuatif di beberapa daerah, kaitannya dengan potensi konflik penataan ruang, dan dalam upaya meningkatkan nilai tambah dan posisi tawar pembudidaya.

Sedangkan permasalahan hilir terkait jaminan kualitas produk raw material (bahan mentah), kaitannya dengan masalah rantai pasok, polemik tentang ketimpangan terkait supply and demand, dan kaitannya dengan pengembangan industri rumput laut nasional. Untuk mengatasi permasalahan hulu dan hilir tersebut, diperlukan regulasi yang jelas guna penyatuan roadmap dalam satu instrumen kebijakan percepatan pengembangan industri rumput laut. Selain itu, Menteri Kelautan dan Perikanan bersama dengan Menteri Perindustrian menyusun roadmap rencana aksi yang dilengkapi dengan program/kegiatan, timeline, instansi terkait beserta tugasnya, serta hal lain yang diperlukan agar pengelolaan rumput laut dapat terlaksana secara efektif, efisien, dan terintegrasi.

Opini Terbaru